Memberi Nama Anak dengan Lafal Abdun yang Mudhaf selain Nama Allah

Memberi Nama Anak dengan Lafal Abdun yang Mudhaf selain Nama Allah

Memberi Nama Anak dengan Lafal Abdun yang Mudhaf selain Nama Allah

Pertanyaan :

Bagaimana hukum memberi nama anak dengan lafal Abdun yang dimudhafkan kepada lafal selain Allah ?.

Jawab :

Memberi nama dengan kata Abdun yang di-mudhaf-kan kepada selain Allah, hukumnya adalah haram, karena menimbulkan tasyrik. Kalau di-mudhaf-kan kepada Nabi (abdun nabi) hukumnya makruh, menurut pendapat yang kuat. Ada pendapat dari Ibn Ziyad yang mengatakan bahwa memberi nama abdun nabi dan sesamanya itu tidak haram, apabila tidak dimaksudkan sebagai penghambaan yang sebenarnya.  

Keterangan, dari kitab:

1. Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib [1]

وَتَحْرُمُ التَّسْمِيَّةُ بِعَبْدِ الْكَعْبَةِ أَوْ عَبْدِ الْحَسَنِ أَوْ عَبْدِ عَلِيٍّ وَكَذَا كُلُّ مَا أُضِيْفَ إِلَيْهِ بِالْعُبُوْدِيَّةِ لِغَيْرِ أَسْمَائِهِ تَعَالَى  ِلإيْهَامِهِ التَّشْرِيْكَ كَمَا فِيْ شَرْحِ الرَّمْلِيِّ إِلاَّ عَبْدَ النَّبِيِّ فَتُكْرَهُ التَّسْمِيَّةُ بِهِ عَلَى الْمُعْتَمَدِ خِلاَفًا لِمَا وَقَعَ فِيْ حَاشِيَةِ الرَّحْمَانِيِّ مِنْ حُرْمَةِ التَّسْمِيَّةِ بِهِ

Dan haram memberi nama dengan Abdul Ka’bah (hamba Ka’bah), atau Abdul Hasan atau pula Abdu Ali. Demikian halnya semua nama yang digandengkan dengan kata Abdu (hamba) kecuali terangkai dengan nama-nama Allah Swt., karena mengesankan kesyirikan, seperti yang tertera dalam Syarh al-Ramli, kecuali nama Abdul Nabi, maka hukumnya makruh menurut pendapat mu’tamad. Berbeda dengan yang tertera dalam Hasyiyah al-Rahmani yang mengharamkan penamaan Abdul Nabi.  

2. I’anah al-Thalibin [2]

(قَوْلُهُ وَكَذَا عَبْدُ النَّبِيِّ) أَيْ وَكَذَا يَحْرُمُ التَّسْمِيَّةُ بِعَبْدِ النَّبِيِّ أَيْ لِإِيهَامِ التَّشْرِيكِ أَيْ أَنَّ النَّبِيَّ شَرِيكُ اللهِ فِي كَوْنِهِ لَهُ عَبِيدٌ وَمَا ذُكِرَ مِنَ التَّحْرِيمِ هُوَ مُعْتَمَدُ ابْنِ حَجَرٍ أَمَّا مُعْتَمَدُ الرَّمْلِيِّ فَالْجَوَازُ وَعِبَارَتُهُ وَمِثْلُهُ عَبْدُ النَّبِيِّ عَلَى مَا قَالَهُ الْأَكْثَرُونَ وَالْأَوْجَهُ جَوَازُهُ لَا سِيَمًا عِنْدَ إِرَادَةِ النِّسْبَةِ لَهُ r (قَوْلُهُ وَجَارُ اللهِ) أَيْ وَكَذَا يَحْرُمُ التَّسْمِيَّةُ بِجَارِ اللهِ وَمِثْلُهُ رَفِيقُ اللهِ لِإِيهَامِ التَّشْرِيكِ وَتَحْرُمُ التَّسْمِيَّةُ أَيْضًا بِعَبْدِ الْكَعْبَةِ أَوْ عَبْدِ الْحَسَنِ أَوْ عَبْدِ عَلِيٍّ وَكَذَا كُلُّ مَا أُضِيفَ بِالْعُبُودِيَّةِ لِغَيْرِ أَسْمَائِهِ تَعَالَى كَعَبْدِ الْعُزَّى وَعَبْدِ مَنَافٍ وَذلِكَ لِإِيهَامِ التَّشْرِيكِ وَفِي الْبَاجُورِيِّ وَتَحْرُمُ التَّسْمِيَّةُ بِعَبْدِ الْعَاطِي وَعَبْدِ الْعَالِ لِأَنَّ كُلًّا مِنْهُمَا لَمْ يَرِدْ وَأَسْمَاؤُهُ تَعَالَى تَوْقِيفِيَّةٌ

(Ungkapan Syaikh Zainuddin al-Malibari: “Begitu pula Abdul Nabi.”) Maksudnya begitu pula haram memberi nama dengan Abdul Nabi, yakni karena mengesankan kesyirikan, maksudnya Nabi sama dengan Allah dalam hal beliau memiliki hamba-hamba. Hukum haram yang telah disebutkan itu pendapat mu’tamad versi Ibn Hajar. Sedangkan pendapat mu’tamad versi al-Ramli adalah boleh. Redaksinya yaitu: “Dan seperti halnya haram member nama dengan Abdul Ka’bah, haram pula Abdul Nabi menurut pendapat yang disampaikan mayoritas ulama. (Namun) al-Aujah (yang kuat) adalah boleh, apalagi bila menghendaki penghambaan yang panntas- dinisbatkan kepadabeliau Saw.   (Ungkapan beliau: “Dan Jarullah.”), maksudnya begitu pula haram memberi nama dengan Jarullah (Tetangga Allah), begitu pula Rafiqullah (Teman Allah), sebab mengesankan kesyirikan. Dan haram pula memberi nama dengan Abdul Ka’bah, Abdul Hasan, Abdu Ali. Begitu pula setiap nama penghambaan yang diidhafahkan -dirangkai- dengan selain nama-nama Allah Swt., seperti Abdul ‘Uzza, Abdu Manaf. Hal itu karena mengesankan kesyirikan. Dalam kitab Hasyiyah al-Bajuri terdapat teks: “Dan haram memberi nama dengan Abdul ‘Athi dan Abdul ‘Al, sebab keduanya tidak terdapat dalil naqlinya. Padahal nama-nama Allah Swt. itu tauqifi (murni dari Nabi Saw.).”  

3. Ghayah Talkhish al-Murad min Fatawa Ibn Ziyad [3]

(مَسْأَلَةٌ) التَّسْمِيَّةُ بِعَبْدِ النَّبِيِّ وَنَحْوِهِ لاَ تَحْرُمُ إِلاَّ إِذَا قُصِدَ حَقِيْقَةُ الْعُبُوْدِيَّةِ وَقَدْ غَلَبَ عَلَى الْفُقَرَاءِ الْمُنْتَسِبِيْنَ إِلَى الْمَشَايِخِ مِنْ أَهْلِ اللهِ تَعَالَى أَنْ يَقُوْلَ أَحَدُهُمْ أَنَا عَبْدُ سَيِّدِ الشَّيْخِ وَلاَ يُرِيْدُوْنَ بِذَلِكَ إِلاَّ شَرَفَ النِّسْبَةِ لاَ حَقِيْقَةَ الْعُبُوْدِيَّةِ الَّتِيْ لِلهِ تَعَالَى وَلَوْ قِيْلَ لِإِنْسَانٍ مَا اسْمُكَ قَالَ عَبْدُكُمْ مُحَمَّدٌ يُرِيْدُ اسْمَ مُحَمَّدٍ وَقَصَدَ بِهِ اْلآدَبَ كَمَا هُوَ الْمَعْرُوْفُ لَمْ يَحْرُمْ وَمِثْلُ ذَلِكَ قَوْلُهُ سَيِّدِيْ فُلاَنٌ فَفِيْ الْحَدِيْثِ قُوْمُوْا لِسَيِّدِكُمْ وَقَالَ عُمَرُ: أَبُوْ بَكْرٍ سَيِّدُنَا وَأَعْتَقَ سَيِّدَنَا يَعْنِيْ بِلاَلاً رَضِيَ اللهُ عَنْهُمْ.

(Masalah) Penamaan dengan Abdul Nabi (Hamba Nabi) dan semisalnya itu tidak haram, kecuali bila maksudnya adalah pengertian kehambaan sebenarnya. Bagi para murid tarekat yang menisbatkan diri kepada para guru yang dekat dengan Allah Swt., sudah lumrah bila salah seorang dari mereka berkata: “Saya hamba Tuan  Guru …” Dan mereka dengan ucapan itu tidak lain hanyalah menghendaki kemuliaan gurunya saja, bukan hakikan penghambaan yang hanya milik Allah Swt. saja.   Demikian halnya tidak haram, seandainya ada seseorang bertanya: “Siapa namamu?”, lalu ia menjawab: “Hambamu, Muhammad.”, dengan maksud menjaga etika, sebagaimana umumnya.   Begitu pula ucapan:  “Tuanku adalah Fulan.”, sebab dalam hadits disebutkan: “Berdirilah untuk menghormati tuan kalian.”, dan Sahabat Umar pernah berkata: “Abu Bakar itu tuanku, dan memerdekakan tuanku.”, maksudnya Bilal –radhiyallahu ‘anhum-.  

Referensi Lain : a. Tanwir al-Qulub, h. 249. b. Hasyiyah al-Syarwani, Juz IX h. 373. c.  Hasyiyah al-Jamal ‘ala Fath al-Wahhab, Juz V, h. 266.  

[1]   Ibrahim al-Bajuri, Hasyiyah al-Bajuri ‘ala Fath al-Qarib, (Beirut: Dar al-fikr, t. th.), Jilid II, h. 314.

[2] Muhammad Syaththa al-Dimyathi, I’anah al-Thalibin, (Mesir: al-Tijariyah al-Kubra,  t.th.), Jilid II, h. 337.

[3]  Abdurrahman bin Muhammad Ba’ alawi, Ghayah al-Talkhish fi Fatawa Ibn Ziyad pada Bughyah al-Mustarsyidin, (Singapura-Jeddah: al-Haramain, t. th.), h. 254.

Sumber : Ahkamul Fuqaha no. 380 KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-28 Di Pondok Pesantren Al-Munawwir Krapyak Yogyakarta Pada Tanggal 26 - 29 Rabiul Akhir 1410 H. / 25 - 28 Nopember 1989 M.