Melontar Jumrah pada Hari Tasyriq Sebelum Tergelincir Matahari

Melontar Jumrah pada Hari Tasyriq Sebelum Tergelincir Matahari

Melontar Jumrah pada Hari Tasyriq Sebelum Tergelincir Matahari

Pertanyaan :

Salah satu sebab dari tragedi “jamarat” di Mina beberapa waktu lalu karena adanya asumsi di kalangan masyarakat umum bahwa melontar jumrah harus dilakukan setelah zawalusy syamsi. Sementara itu, jumlah hujjaj yang bertambah terus tiap tahun tidak dapat diimbangi dengan penyediaan fasilitas yang cukup. Tragedi jamarat terjadi, karena semua orang hendak melontar jumrah setelah zawal, sementara tempat melontar jumrah tidak cukup luas untuk menampung jumlah hujjaj yang begitu besar, sehingga terjadilah desak-desakan. Bagaimana hukum melontar jumrah Qabl al-zawal?.

Jawab :

Hukum melontar jumrah qabl al-zawal terhitung sejak terbit fajar adalah diperbolehkan menurut Imam Rafi’i yang didukung oleh Imam Isnawi. Qaul tersebut dinilai dha’if, namun boleh diamalkan.  

Keterangan, dari kitab:

1. Tuhfah al-Muhtaj [1]

وَجَزْمُ الرَّافِعِيُّ بِجَوَازِهِ قَبْلَ الزَّوَالِ كَاْلإِمَامِ ضَعِيْفٌ وَإِنِ اعْتَمَدَهُ اْلإِسْنَوِيُّ وَزَعَمَ أَنَّهُ الْمَعْرُوْفُ مَذْهَبًا وَعَلَيْهِ فَيَنْبَغِيْ جَوَازُهُ مِنَ الْفَجْرِ

Kemantapan al-Rafi’i dengan kebolehan melempar jumrah qabl al-zawal (sebelum matahari condong ke barat) seperti al-Imam al-Haramain itu pendapat dha’if (lemah), meski dipedomani oleh al-Isnawi dan ia kira pendapat itu adalah pendapat populer dalam mazhab. Maka berdasar pendapat dha’if tersebut, semestinya boleh melempar jumrah mulai fajar.  

2. Syarh Bafadhal [2]

وَقِيْلَ يَصِحُّ رَمْيُ الْحَاضِرِ قَبْلَ الزَّوَالِ لَكِنْ مَعَ الْكَرَاهَةِ وَجَزَمَ بِهِ الرَّافِعِيُّ وَاعْتَمَدَهُ

Dan menurut satu pendapat, sah melempar jumrah qabl al-zawal bagi orang hadhir (yang tinggal di makkah) besertaan hukum makruh. Al-Rafi’i mantap dengan pendapat itu dan ia nilai mu’tamad.  

3. Fath al-Mujib fi Syarh Mukhtashar al-Khatib [3]

وَيَدْخُلُ وَقْتُهُ بِنِصْفِ لَيْلَةِ النَّحْرِ بِخِلاَفِ رَمْيِ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ فَإِنَّهُ يَدْخُلُ وَقْتُهُ بِزَوَالِ شَمْسِهَا بِاتِّفَاقِ اْلأَئِمَّةِ اْلأَرْبَعَةِ. وَجَوَّزَ إِمَامُ الْحَرَمَيْنِ وَالرَّافِعِيُّ أَنْ يَكُوْنَ رَمْيُ أَيَّامِ التَّشْرِيْقِ قَبْلَ الزَّوَالِ وَاعْتَمَدَهُ اْلإِسْنَوِيُّ وَهُوَ ضَعِيْفٌ

Waktu melempar jumrah ‘aqabah itu dimulai tengah malam hari kurban, berbeda dengan melempar jumrah pada hari tasyriq (11, 12, 13 Dzu al-Hijjah), maka waktu masuknya dengan matahari condong ke barat dengan kesepakatan Imam mazhab empat. Imam al-Haramain dan al-Rafi’i memperbolehkan pelemparan jumrah hari tasyriq pada qabl al-zawal (sebelum matahari condong ke barat), dan al-Isnawi menilainya mu’tamad. Pendapat itu adalah pendapat dha’if.  

4. I’anah al-Thalibin [4]

وَالمُعْتَمَدُ جَوَازُهُ فِيْهَا أَيْضًا وَجَوَازُهُ قَبْلَ الزَّوَالِ بَلْ جَزَمَ الرَّافِعِيُّ وَتَبِعَهُ اْلإِسْنَوِيُّ وَقَالَ أَنَّهُ الْمَعْرُوْفُ بِجَوَازِ رَمْيِ كُلِّ يَوْمٍ قَبْلَ الزَّوَالِ وَعَلَيْهِ فَيَدْخُلُ بِالْفَجْرِ

Dan pendapat mu’tamad adalah boleh melempar jumrah (hari tasyriq yang belum dilempar pada waktunya) di malam harinya pula, dan boleh melemparnya qabl al-zawal. Bahkan, al- Rafi’i mantap dengannya dan al-Isnawi mengikutinya. Al-Isnawi berkata: “Pendapat yang populer adalah boleh melempar jumrah masing-masing hari qabl al-zawal, maka waktu melempar jumrah masuk dengan terbitnya fajar.  

5. Bughyah al-Mustarsyidin [5]

(فَائِدَةٌ)

قَالَ فِيْ فَتَاوَى ابْنِ حَجَرٍ لَيْسَ لِمَنْ قَرَأَ كِتَابًا وَلَمْ يَتَأَهَّلْ لِلإِفْتَاءِ أَنْ يُفْتِيَ إِلاَّ فِيْمَا عُلِمَ مِنْ مَذْهَبِهِ عِلْمًا جَازِمًا كَوُجُوْبِ النِّيَّةِ فِيْ الْوُضُوْءِ وَنَقْضِهِ بِمَسِّ الذَّكَرِ. نَعَمْ إِنْ نَقَلَ لَهُ الْحُكْمَ عَنْ مُفْتٍ آخَرَ أَوْ عَنْ كِتَابٍ مَوْثُوْقٍ بِهِ جَازَ وَهُوَ نَاقِلٌ لاَ مُفْتٍ

(Faidah) Dalam al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra Ibn Hajar al-Haitami berkata: “Bagi orang yang bisa membaca suatu kitab dan tidak punya keahlian berfatwa maka tidak boleh berfatwa, kecuali dalam hal yang diketahui dari madzhabnya dengan pengetahuan yang mantap, seperti kewajiban niat dalam wudhu dan batalnya wudhu sebab menyentuh penis. Memang begitu, namun bila ia mengutip untuk orang awam suatu hukum dari seorang mufti lain atau dari kitab terpercaya, maka boleh, namun ia sebagai pengutip (saja), bukan mufti.  

6. Syarh al-Mahalli ‘ala Jam’ al-Jawami’ [6]

(وَرَابِعُهَا)

يَجُوزُ لِلْمُقَلِّدِ الْإِفْتَاءُ (وَإِنْ لَمْ يَكُنْ قَادِرًا) عَلَى التَّفْرِيعِ وَالتَّرْجِيحِ (لِأَنَّهُ نَاقِلٌ) لِمَا يُفْتِي بِهِ عَنْ إمَامِهِ وَإِنْ لَمْ يُصَرِّحْ بِنَقْلِهِ عَنْهُ وَهَذَا الْوَاقِعُ فِي الْأَعْصَارِ الْمُتَأَخِّرَةِ

(Dan yang keempat dari pendapat tentang berfatwa) adalah bagi muqallid -bukan mujtahid- boleh berfatwa, (meski ia tidak mampu)  mampu mentafri’- menggali hukum dari nash imam madzhabnya- dan mentarjih -menilai unggul suatu pendapat dari selainnya-, (sebab ia merupakan pengutip), hukum yang difatwakan dari imamnya, meski ia tidak menjelaskan pengutipannya dari imam tersebut. Hal seperti ini terjadi di masa-masa belakangan ini.  

7. Al-Fawaid al-Makkiyah [7]

وَكَذَا يَجُوْزُ اْلأَخْذُ وَالْعَمَلُ لِنَفْسِهِ بِاْلأَقْوَالِ وَالطُّرُقِ وَالْوُجُوْهِ الضَّعِيْفَةِ إِلاَّ بِمُقَابِلِ الصَّحِيْحِ فَإِنَّ الْغَالِبَ فِيْهِ فَاسِدٌ. وَيَجُوْزُ اْلإِفْتَاءُ بِهِ لِلْغَيْرِ بِمَعْنَى اْلإِرْشَادِ

Demikian halnya boleh mengambil dan mengamalkan untuk diri sendiri qaul-qaul, riwayat-riwayat dan wajh-wajh dha’if, kecuali dengan muqabil al-shahih. Sebab, pada umumnya dalam muqabil al-shahih itu adalah pendapat yang fasid (rusak) dalam merupakan pendapat yang rusak atau tidak benar. Dan boleh berfatwa dengan muqabil al-shahih dalam pengertian memberi petunjuk.  

8. Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari [8]

وَخَالَفَ فِيْهِ عَطَاءٌ وَطَاوُسٌ فَقَالاَ لاَ يَجُوْزُ قَبْلَ الزَّوَالِ مُطْلَقًا وَرَخَّصَ الْحَنَفِيَّةُ فِيْ الرَّمْيِ فِيْ يَوْمِ النَّفَرِ قَبْلَ الزَّوَالِ وَقَالَ إِسْحَقُ إِنْ رَمَى قَبْلَ الزَّوَالِ أَعَادَ إِلاَّ فِيْ الْيَوْمِ الثَّالِثِ فَيُجْزِئُهُ

Dan dalam kesunnahan melempar jumrah hari nahr (10 Dzu al-Hijjah) setelah zawal, Atha’ dan Thawus tidak sepakat. Mereka berdua berkata: “Tidak boleh melempar jumrah sebelum zawal secara mutlak. Ulama madzhab Hanafiyah memberikan dispensasi boleh melempar jumrah pada hari nafr (12 dan 13 Dzul al-Hijjah) sebelum zawal. Dan Ishaq berkata: “Jika seseorang melempar jumrah sebelum al-zawal, ia harus mengulangi kembali, kecuali pada hari ke tiga, maka akan mencukupinya (sah).”  

Referensi Lain :

  1. Itsmid al-‘Ainain, h. 69.
  2. Al-Tsimar al-Yani’ah, h. 72.
  3. Al-Hawasyi al-Madaniyah, Juz II, h. 260.
  4. Syarh Muslim, Juz V, h. 678.
  5. Al-Majmu’, Juz VIII, h. 282.
  6. Tarsyih al-Mustafidin, h. 172.

REKOMENDASI UNTUK PBNU

Berkenaan dengan keputusan Dar al-Ifta li Haiat Kibar al-Ulama Kerajaan Arab Saudi perihal waktu pelaksanaan lempar jumrah. Demi untuk menjaga keselamatan (perlindungan jiwa) jamaah haji Indonesia, hendaknya PBNU mengupayakan agar pemerintah Arab Saudi memperbolehkan dan memberi kesempatan kepada jamaah haji Indonesia untuk melempar jumrah sebelum zawal (tergelincir) matahari.

Hal ini mengingat:

  1. Fatwa ulama fiqh mazhab Syafi’i (Ibn Hajar al-Haitami dan lain-lain) yang memperkenankan pelaksanaan jumrah sebelum zawal.
  2. Para petugas Arab Saudi sering kali mendatangi para jamaah di maktabnya masing-masing untuk melarang pelaksanaan lempar jumrah sebelum zawal.

[1]  Ibn Hajar al-Haitami, Tuhfah al-Muhtaj pada Hawasyai al-Syirwani wa al-‘Ubbadi, (Mesir:  al-Tijariyah al-Kubra, t. th), Jilid IV, h. 138.

[2] Bafadhal, Syarh Bafadhal pada Mauhibah Dzi al-Fadhl, (Mesir: Al-Amirah al-Syarafiyah, 1326 H), Jilid IV, h. 831.

[3] Muhammad Nawawi bin Umar al-Bantani, Fath al-Mujib fi Syarh Mukhtashar al-Khatib pada ‘Umdah al-Abrar, (Makah : Musthafa al-Amirah, t. th.), h. 22.

[4]  Muhammad bin Syaththa al-Dimyati, I’anah al-Thalibin, (Mesir: al-Tijariyah al-Kubra, t. th) Juz II, h. 307.

[5] Abdurrahman bin Muhammad Ba’lawi, Bughyah al-Musytarsyidin, (Indonesia: al-Haramain, t. th.), h. 7.

[6] Al-Mahalli, Syarh al-Mahalli ‘ala Jam’ al-Jawami’ pada Hasyiyah al-‘Aththar, (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, t. th.), Juz II h. 438.

[7] Alawi al-Saqaf, al-Fawaid al-Makkiyah pada Sab’ah Kutub Mufidah, h. 44 dan 61.

[8] Ibn Hajar al-Asqalani, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari , (Beirut: Dar al-Kutub al-Ilmiyah, 1989), Juz I, h. 576.

Sumber : Ahkamul Fuqaha no. 401 KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-29 Di Cipasung Tasikmalaya Pada Tanggal 1 Rajab 1415 H. / 4 Desember 1994 M.