Intervensi Pemerintah dengan Menentukan UMR

Intervensi Pemerintah dengan Menentukan UMR

Intervensi Pemerintah dengan Menentukan UMR

Pertanyaan :

Seiring dengan meningkatnya proses industrialisasi di negara kita, akhir-akhir ini muncul banyak sekali masalah perburuhan seperti pemogokan, PHK, demonstrasi buruh memprotes masalah itu biasanya muncul dikarenakan sistem upah di negara kita belum sesuai dengan tuntutan kebutuhan minimum para buruh. Sebab lain, adalah karena para pemilik pabrik tidak menerapkan UMR (Upah Minimum Regional) yang telah ditetapkan oleh pemerintah secara benar, sehingga muncul konflik antara buruh dan pengusaha. Sementara itu konsep fiqh mengenai perburuhan belum begitu jelas, bahkan parsial.

a. Bagaimana konsep fiqh mengenai hubungan perburuhan, khususnya mengenai pengupahan?.

b. Tepatkah Pemerintah melakukan intervensi dengan menentukan UMR (Upah Minimum Regional) tersebut?.

c. Bila terjadi gejolak, maka diadakan islah di antara kedua belah pihak, sedangkan pemerintah yang menjadi hakimnya dengan syarat-syarat yang telah ada?.

Jawab :

a. Konsep fiqh mengenai upah buruh ada dua macam, yaitu:

  1. Ujrah Musamma yang ditentukan oleh kesepakatan kedua belah pihak (majikan dan buruh).
  2. Ujrah Mitsl yang disesuaikan dengan upah standart umum.

b. Pemerintah dalam menentukan UMR adalah:

  1. Menurut Jumhur tidak boleh.
  2. Menurut pendapat yang dha’if boleh, dan wajib diikuti apabila ada maslahah'

c. Bila terjadi gejolak, maka diadakan islah antara kedua belah pihak. Sedangkan pemerintah yang menjadi hakim dengan syarat-syarat yang telah ada.  

Keterangan, dari kitab:

1. Badai’ al-Shanai’ fi Tartib al-Syarai’ [1]

....وَأَمَّا شَرْطُ الصِّحَّةِ فَلِصِحَّةِ هَذَا الْعَقْدِ شَرَائِطُ بَعْضُهَا يَرْجِعُ إِلَى الْعَاقِدِ

وَأَمَّا الَّذِيْ يَرْجِعُ إِلَى الْعَاقِدِ فَرِضَا الْمُتَعَاقِدَيْنِ لِقَوْلِهِ عَزَّ وَجَلَّ

(يَآ أَيُّهَا الَّذِيْنَ آمَنُوْا لاَ تَأْكُلُوْا أَمْوَالَكُمْ بَيْنَكُمْ بِالْبَاطِلِ إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ مِنْكُمْ)

وَاْلإِجَارَةُ تِجَارَةٌ لِأَنَّ التِّجَارَةَ تَبَادُلُ الْمَالِ بِالْمَالِ وَاْلإِجَارَةُ كَذَلِكَ وَلِهَذَا يَمْلِكُهَا الْمَأْذُوْنُ وَأَنَّهُ لاَ يَمْلِكُ مَا لَيْسَ بِتِجَارَةٍ فَثَبَتَ أَنَّ اْلإِجَارَةَ تِجَارَةٌ فَدَخَلَتْ تَحْتَ النَّصِّ. وَقَالَ النَّبِيُّ

لاَ يَحِلُّ مَالُ امْرِئٍ مُسْلِمٍ إِلاَّ بِطِيْبَةٍ مِنْ نَفْسِهِ فَلاَ يَصِحُّ مَعَ الْكَرَاهَةِ وَالْهَزْلِ وَالْخَطَاءِ  لِأَنَّ هَذِهِ الْعَوَارِضَ تُنَافِيْ الرِّضَا فَتَمْنَعُ صِحَّةَ اْلإِجَارَةِ :

Adapun syarat keabsahan, maka keabsahan akad ijarah (persewaan) ini mempunyai beberapa syarat, sebagiannya terkait dengan pelaku akad. Adapun syarat yang terkait dengan pelaku akad adalah kerelaan kedua pelaku akad, karena firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang batil kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan saling rela di antara kamu.” (QS. al-Nisa’: 29). Ijarah adalah tijarah. Sebab tijarah adalah menukar harta dengan harta lain, dan ijarah demikian itu. Oleh karenanya, budak yang diizini berbisnis boleh melakukan akad ijarah, padahal ia tidak boleh melakukan akad melainkan dengan cara tijarah. Maka bisa disimpulkan bahwa ijarah adalah tijarah. Maka tijarah masuk dalam cakupan nash al-Qur’an. Dan Nabi Saw. bersabda: “Tidak halal harta seorang muslim kecuali dengan kerelaan hatinya.” Maka akad ijarah tidak sah besertaan dengan paksaan, gurauan, dan kesalahan (ketidak sengajaan). Sebab, hal-hal tersebut menafikan kerelaan pelaku akad, maka mencegah keabsahan ijarah.  

2. Fath al-’Alam bi Syarh al-A’lam bi Ahadits al-Ahkam [2]

عَنْ أَنَسٍ:  غَلاَ السِّعْرُ بِالْمَدِيْنَةِ الْمُشَرَّفَةِ عَلَى عَهْدِ رَسُوْلِ اللهِ : فَسَعِّرْ لَنَا فَقَالَ رَسُوْلُ اللهِ : إِنَّ اللهَ الْمُسْعِرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ الرَّزَّاقُ وَإِنِّيْ  لَأَرْجُوْا أَنْ أَلْقَى اللهَ تَعَالَى وَلَيْسَ أَحَدٌ مِنْكُمْ يَطْلُبُنِيْ بِظُلْمٍ فِيْ دَمٍ وَلاَ مَالٍ (رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَغَيْرُهُ وَصَحَّحَهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ حِبَّانَ) وَفِيْهِ تَحْرِيْمُ التَّسْعِيْرِ وَلَوْ فِيْ وَقْتِ الْغَلاَءِ وَالْمَعْنَى فِيْهِ التَّضْيِيْقُ عَلَى الْبَائِعِيْنَ فِيْ أَمْوَالِهِمْ إِنْ قُدِرَ السِّعْرُ بِالرُّخْصِ وَعَلَى الْمُشْتَرِيْنَ إِنْ قَدَرَ بِغَيْرِ الرُّخْصِ وَذِكْرُ الدَّمِ وَالْمَالِ مِثَالٌ فَغَيْرُهَا مِنَ الْعَرَضِ وَغَيْرِهِ مِثْلُهَا

Diriwayatkan dari Anas Ra., pada masa Rasulullah Saw. di kota Madinah al-Musyarrafah pernah terjadi kenaikan harga-harga barang: “Maka tetapkanlah standar harga barang bagi kami wahai Rasulullah Saw.! Lalu beliau bersabda: “Sesungguhnya Allah Swt. adalah Dzat Yang Maha Menetapkan harga, Yang Maha Memegang, Yang Maha Melepas, dan Yang Maha Memberikan rezeki. Aku sangat berharap bisa bertemu Allah Swt. tanpa seorangpun dari kalian yang menuntutku dengan tuduhan kezaliman yang terkait darah (jiwa) dan harta.” (HR. Abu Dawud dan selainnya, al-Tirmidzi dan Ibn Hibban men-shahih-kannya). Dalam hadits itu terdapat pengharaman penetapan harga, meski saat kondisi harga-harga sedang naik. ‘Illat dalam hadits tersebut adalah merugikan pedagang bila harga ditetapkan murah, dan merugikan pembeli bila harga ditetapkan tidak murah. Sedangkan penyebutan (kezaliman) darah dan harta merupakan contoh, maka selain keduanya itu sama (Nabi Saw. juga mengharap selamat dari tuntutan kezaliman yang terkait dengan selain darah dan harta).  

3. Al-Hidayah Syarh Bidayah al-Mubtadi’ [3]

وَلاَ يَنْبَغِيْ لِلسُّلْطَانِ أَنْ يُسَعِّرَ عَلَى النَّاسِ لِقَوْلِهِ عَلَيْهِ الصَّلاَةُ وَالسَّلاَمُ لاَ تُسَعِّرُوْا فَإِنَّ اللهَ الْمُسْعِرُ الْقَابِضُ الْبَاسِطُ، وَلِأَنَّ الثَّمَنَ حَقُّ الْعَاقِدِ فَإِلَيْهِ تَقْدِيْرُهُ فَلاَ يَنْبَغِيْ لِلإِمَامِ أَنْ يَتَعَرَّضَ لِحَقِّهِ إِلاَّ إِذَا تَعَلَّقَ بِهِ ضَرَرُ الْعَامَّةِ عَلَى مَا نُبَيِّنُ

Penguasa tidak berhak menetapkan harga bagi masyarakat sesuai sabda Rasulullah Saw.: “Janganlah kalian menetapkan harga, sesungguhnya hanya Allah Swt. Dzat Yang Maha Menetapkan harga, Dzat Yang Maha Memegang dan Maha Melepas.” Selain itu, karena harga suatu barang itu adalah hak pihak yang bertransaksi, maka ketentuan harga diserahkan kepadanya. Maka penguasa tidak boleh mencampuri haknya, kecuali bila terkait dengan keadaan bahaya bagi masyarakat umum, sesuai apa yang kami jelaskan.  

4. Al-Mughni [4]

وَلَيْسَ لِلاِمَامِ أَنْ يُسَعِّرَ عَلَى النَّاسِ بَلْ يَبِيْعُ النَّاسُ أَمْوَالَهُمْ عَلَى مَا يَخْتَارُوْنَ وَهَذَا مَذْهَبُ الشَّافِعِيُّ

Dan bagi penguasa tidak boleh menentukan harga bagi masyarakat. Namun (membiarkan) masyarakat memperjualbelikan harta mereka sesuai pada harga yang dipilihnya. Ini adalah pendapat Imam Syafi’i.  

5. Raudhah al-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin[5]

الْقِسْمُ الثَّانِي فِي الْمَنَاهِيْ مَا لاَ يَقْتَضِيْ الْفَسَادَ ... وَمِنْهَا التَّسْعِيْرُ وَهُوَ حَرَامٌ فِيْ كُلِّ وَقْتٍ عَلَى الصَّحِيْحِ. وَالثَّانِي يَجُوْزُ فِيْ وَقْتِ الْغَلاَءِ دُوْنَ الرُّخْصِ. قَالَ: وَإِذَا سَعَرَ اْلاِمَامُ عَلَيْهِ فَخَالَفَ اسْتَحَقَّ التَّعْزِيْرَ

Bagian kedua tentang larangan-larangan yang tidak menimbulkan kerusakan ... di antaranya adalah penetapan harga. Han itu haram di setiap waktu menurut pendapat al-shahih. Pendapat kedua menyatakan penetapan harga itu boleh di saat harga barang sedang mahal, bukan di saat sedang murah. Jika penguasa sudah menetapkan harga di saat harga sedang mahal, lalu ada yang melanggarnya, maka ia berhak dihukum.  

6. ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud [6]

قَالَ الْعَلاَّمَةُ أَبُوْ الطَّيِّبِ مُحَمَّدٌ شَمْسُ الْحَقِّ أَبَادِيْ فِيْ شَرْحِ هَذَا الْحَدِيْثِ وَقَدِ اسْتُدِلَّ بِالْحَدِيْثِ وَمَا وَرَدَ فِيْ مَعْنَاهُ عَلَى تَحْرِيْمِ التَّسْعِيْرِ وَإِنَّهُ مَظْلَمَةٌ وَوَجْهُهُ أَنَّ النَّاسَ مُسَلِّطُوْنَ عَلَى أَمْوَالِهِمْ وَالتَّسْعِيْرُ حِجْرٌ عَلَيْهِمْ وَاْلاِمَامُ مَأْمُوْرٌ بِرِعَايَةِ مَصْلَحَةِ الْمُسْلِمِيْنَ وَلَيْسَ نَظْرُهُ فِيْ مَصْلَحَةِ الْمُشْتَرِيْ بِرُخْصِ الثَّمَنِ أَوْلَى مِنْ نَظْرِهِ فِيْ مَصْلَحَةِ الْبَائِعِ بِتَوْفِيْرِ الثَّمَنِ وَإِذَا تَقَابَلَ اْلأَمْرَانِ وَجَبَ تَمْكِيْنُ الْفَرِيْقَيْنِ مِنَ الاجْتِهَادِ  لِأَنْفُسِهِمْ وَإِلْزَامُ صَاحِبِ السِّلْعَةِ أَنْ لاَ يَبِيْعَ بِمَا لاَ يَرْضَى بِهِ مُنَافٍ لِقَوْلِهِ تَعَالَى 

 “إِلاَّ أَنْ تَكُوْنَ تِجَارَةً عَنْ تَرَاضٍ”

وَإِلَى هَذَا ذَهَبَ جُمْهُوْرُ الْعُلَمَاءِ

Al-‘Allamah Abu Thayyib Muhammad Syamsul Haq Abadi dalam menjelaskan hadits ini mengatakan: “Hadits itu dan hadits-hadits lain yang senada dijadikan dalil bagi keharaman penetapan harga, dan bahwa penetapan harga merupakan tindakan zalim. Hal ini mengingat, bahwa masyarakat merupakan pihak yang menguasai harta, dan penetapan harga merupakan pembatasan kewenangan. Sementara penguasa diperintahkan melindungi kemaslahatan umat Islam. Tidaklah pandangannya tentang kemaslahatan pembeli dengan memurahkan harga itu lebih utama dari pada pandangannya tentang kemaslahatan penjual dengan meninggikan harga. Ketika terdapat kontradiksi antara dua hal tersebut, maka mereka harus diberi kesempatan melakukan upaya semaksimal mungkin untuk kepentingan diri mereka sendiri. Mewajibkan pemilik barang dagangan untuk menjualnya dengan harga yang tidak sesuai kehendaknya, itu bertentangan dengan firman Allah SWT: “Kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka di antara kamu ...” (QS. al-Nisa’: 29). Pendapat inilah yang dianut Jumhur ulama.  

7. Kasyaf al-Qina’ ‘an Matn al-Iqna’ [7]

(وَأَوْجَبَ الشَّيْخُ إلْزَامَهُمْ)

 .... أَيْ الْبَاعَةِ (الْمُعَاوَضَةَ بِثَمَنِ الْمِثْلِ وَإِنَّهُ لَا نِزَاعَ فِيهِ لِأَنَّهُ مَصْلَحَةٌ عَامَّةٌ لِحَقِّ اللهِ تَعَالَى وَلَا تَتِمُّ مَصْلَحَةُ النَّاسِ إلَّا بِهَا كَالْجِهَادِ

(Dan al-Syaikh -Ibn Taimiyah- mengharuskan mereka), maksudnya para pelaku akad jual beli untuk melakukan (pertukaran dengan tsaman al-mitsl -harga standar-, dan sungguh hal itu tidak diperdebatkan, sebab merupakan kemaslahatan publik karena hak Allah Ta’ala, dan kemaslahatan publik tidak tidak akan sempurna kecuali dengan pertukaran dengan harga standar tadi, seperti halnya jihad …  

8. Tuhfah al-Ahwadzi ‘ala Syarh al-Tirmidzi [8]

وَرُوِيَ عَنْ مَالِكٍ أَنَّهُ يَجُوْزُ لِلاِمَامِ التَّسْعِيْرُ

Diriwayatkan dari Imam Malik, bahwa penguasa berhak menetapkan harga.  

9. ‘Aridhah al-Ahwadzi fi Syarh al-Tirmidzi [9]

وَالتَّسْعِيْرُ عَلَى النَّاسِ إِذَا خِيْفَ عَلَى أَهْلِ السُّوْقِ أَنْ يُفَسِّرُوْا أَحْوَالَ الْمُسْلِمِيْنَ وَقَالَ سَائِرُ الْعُلَمَاءِ بِظَاهِرِ الْحَدِيْثِ لاَ يُسَعِّرُ عَلَى أَحَدٍ. وَالْحَقُّ التَّسْعِيْرُ وَضُبِطَ اْلأَمْرُ عَلَى قَانُوْنٍ لاَ يَكُوْنُ فِيْهِ مَظْلَمَةٌ عَلَى أَحَدٍ مِنَ الطَّائِفَتَيْنِ وَذَلِكَ قَانُوْنٌ لاَ يُعْرَفُ إِلاَّ بِالضَّبْطِ وَاْلأَوْقَاتِ وَمَقَادِيْرِ اْلأَحْوَالِ وَحَالِ الرِّجَالِ. وَاللهُ الْمُوَفِّقُ لِلصَّوَابِ. وَمَا قَالَهُ النَّبِيُّ : حَقٌّ وَمَا فَعَلَهُ حُكْمٌ لَكِنْ عَلَى قَوْمٍ صَحَّ ثَبَاتُهُمْ وَاسْتَسْلَمُوْا إِلَى رَبِّهِمْ وَأَمَّا قَوْمٌ قَصَدُوْا أَكْلَ النَّاسِ وَالتَّضْيِيْقَ عَلَيْهِمْ فَبَابُ اللهِ أَوْسَعُ وَحُكْمُهُ أَمْضَى

Penetapan harga pada masyarakat itu (boleh) jika dikhawatirkan pelaku pasar akan menafsirkan ketaatan kaum muslimin (dengan penafsiran yang negatif). Semua ulama berdasarkan zhahir hadits, yaitu tidak memperbolehkan penetapan harga pada siapapun. Namun yang benar, adalah penetapan harga itu (boleh). Parameternya adalah berdasarkan undang-undang yang tidak memuat kezhaliman terhadap pihak-pihak yang terkait, dan undang-undang itu tidak diketahui kecuali dengan memperhatikan waktu dan fluktuasi situasi dan keadaan masyarakat. Apa yang disabdakan Nabi Saw. (yang melarang penetapan harga) itu benar dan yang dilakukannya merupakan ketetapan hukum. Namun, hal itu berlaku bagi suatu komunitas masyarakat yang beriman teguh dan berserah diri sepenuhnya kepada Tuhan. Sedangkan komunitas yang bermaksud untuk memangsa sesama anggota masyarakat dan mempersulit mereka, maka pintu Allah Swt. sangat luas dan hukumNya terus berjalan.  

Referensi Lain:

  1. Hasyiyah al-Syarwani, Juz VII, h. 17.
  2. Al-Ahkam al-Sulthaniyyah Abi Ya’la.
  3. Nihayah al-Muhtaj, Juz III, h. 473.

[1] Mahmud bin Ahmad al-Kasani, Bada’i al-Shana’i fi Tartib al-Syarai’, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Arabiyah, t. th.), Jilid IV, h. 179.

[2] Zakaria al-Anshari, Fath al-‘Alam bi Syarh al-A’lam bi Ahadits al-Ahkam, h. 432.

[3] Ali al-Marghinani, al-Hidayah Syarh Bidayah al-Mubtadi’, (Beirut: al-Maktabah al-Islamiyah, t. th.), Jilid IV, h. 94.

[4] Ibn Qudamah al-Maqdisi, al-Mughni, (Beirut dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1997), Jilid IV, h. 303.

[5] Yahya bin Syaraf al-Nawawi, Raudhah al-Thalibin wa ‘Umdah al-Muftin, (Beirut: al-Maktab al-Islami, t. th.), Jilid III, h. 211.

[6] Muhammad Syamsul Haq Abadi, ‘Aun al-Ma’bud Syarh Sunan Abi Dawud, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, 1415 H), Jilid IX, h. 230.

[7] Manshur bin Yunus al-Bahuti, Kasyaf al-Qina’ ‘an Matn al-Iqna’, (Beirut: Dar al-Fikr, 1982), Jilid III, h. 187.

[8] Abu al-‘Ala al-Mubarakfuri, Tuhfah al-Ahwadzi ‘ala Syarh al-Tirmidzi, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, t. th.), Jilid IV, h. 452.

[9] Ibn al-‘Arabi, Tuhfah al-Ahwadzi ‘ala Syarh al-Tirmidzi, (Beirut: Dar al-Kutub al-‘Ilmiyah, t. th.), Jilid VI, h. 54.

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 402 KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-29 Di Cipasung Tasikmalaya Pada Tanggal 1 Rajab 1415 H. / 4 Desember 1994 M.