Hukum Mempekerjakan Wanita pada Malam Hari di Luar Rumah

Hukum Mempekerjakan Wanita pada Malam Hari di Luar Rumah

Mempekerjakan Wanita pada Malam Hari di Luar Rumah

Pertanyaan :

Angkatan kerja wanita mendominasi pekerjaan yang tidak banyak memerlukan keahlian. Jumlah mereka juga sangat besar. Di pabrik yang bekerja dengan mesin besar dan full time (24 jam), berlaku pembagian sift (giliran) setiap 8 jam, termasuk malam hari. Sift malam hari mengundang kerawanan, khususnya bagi pekerja wanita. Bagaimana hukumnya mempekerjakan wanita pada malam hari di luar rumah?

Jawab :

Hukumnya mempekerjakan wanita pada malam hari di luar rumah, hukumnya adalah haram, kecuali:

  1. Aman dari fitnah dan mendapat izin dari suami dan atau wali, maka hukumnya boleh.
  2. Diduga terjadi fitnah, maka hukumnya haram dan dosa.
  3. Takut terjadi fitnah, maka hukumnya makruh.

  Keterangan, dari kitab:

1. ‘Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari [1]

.عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ الْخَطَّابِ عَنِ النَّبِيِّ

قَالَ: إِذَا اسْتَأْذَنَتِ امْرَأَةُ أَحَدِكُمْ إِلَى الْمَسْجِدِ فَلاَ يَمْنَعْهَا مُطَابَقَتُهُ لِلتَّرْجَمَةِ ظَاهِرَةٌ فِيْ الْمَسْجِدِ فِيْ غَيْرِ الْمَسْجِدِ بِالْقِيَاسِ عَلَيْهِ وَالشَّرْطُ فِيْ الْجَوَازِ فِيْهِمَا اْلأَمْنُ مِنَ الْفِتْنَةِ

Diriwayatkan dari Abdullah Ibn Umar al-Khaththab, bahwa Nabi Saw. bersabda: “Jika istri salah seorang dari kalian meminta izin pergi ke mesjid, maka janganlah melarangnya.” (HR. Bukhari). Keserasian hadits ini dengan judul bab yang dibuat Imam Bukhari (Bab Permintaan Izin Istri kepada Suaminya untuk Pergi ke Masjid dan ke Selainnya), adalah wanita tersebut pergi ke masjid, dan  perginya ke selain masjid dengan diqiyaskan padanya. Persyaratan bagi kebolehan pergi mesjid dan luar mesjid bagi seorang wanita adalah aman dari fitnah.  

2. Is’ad al-Rafiq Syarh Sulam al-Taufiq [2]

قَالَ فِيْ الزَّوَاجِرِ وَهُوَ مِنَ الْكَبَائِرِ لِصَرِيْحِ هَذِهِ اْلأَحَادِيْثِ وَيَنْبَغِيْ حَمْلُهُ لِيُوَافِقَ عَلَى قَوَاعِدِنَا عَلَى مَا إِذَا تَحَقَّقَتِ الْفِتْنَةُ أَمَّا مُجَرَّدُ خَشْيَتِهَا فَإِنَّمَا هُوَ مَكْرُوْهٌ وَمَعَ ظَنِّهَا حَرَامٌ غَيْرُ كَبِيْرٍ كَمَا هُوَ ظَاهِرٌ

Dalam kitab al-Zawajir Ibn Hajar al-Haitami berkata: “Sesuai dengan kejelasan hadits-hadits ini, maka (keluarnya wanita dari rumah) termasuk dosa besar. Agar pernyataan ini sesuai dengan kaidah-kaidah kita (madzhab Syafi’i), maka harus dipahami dalam keadaan jika memang benar-benar akan terjadi fitnah. Sementara jika hanya sekedar terdapat kekhawatiran terjadinya fitnah, maka hukumnya makruh. Sedangkan jika disertai dengan dugaan kuat adanya fitnah, maka hukumnya haram, namun bukan dosa besar.  

3. Fath al-Wahhab dan Futuhat al-Wahhab [3]

وَيُكْرَهُ حُضُوْرُهُنَّ الْمَسْجِدَ فِيْ جَمَاعَةِ الرِّجَالِ إِنْ كَانَ مُشْتَهَاةً خَوْفَ الْفِتْنَةِ

(قَوْلُهُ وَيُكْرَهُ حُضُوْرُهُنَّ) 

 ....  أَيْ كَرَاهَةَ تَحْرِيْمٍ حَيْثُ لَمْ يَأْذَنْ الْحَلِيْلُ. اهـ. ح ل

...إِلَى أَنْ قَالَ

وَيَحْرُمُ عَلَيْهِنَّ بِغَيْرِ إِذْنِ وَلِيٍّ أَوْ حَلِيْلٍ أَوْ سَيِّدٍ أَوْ هُمَا فِيْ أَمَةٍ مُتَزَوَّجَةٍ وَمَعَ خَشْيَةِ فِتْنَةٍ مِنْهَا أَوْ عَلَيْهَا اِنْتَهَتْ (قَوْلُهُ أَيْضًا وَيُكْرَهُ حُضُوْرُهُنَّ الْمَسْجِدَ) أَيْ مَحَلَّ الْجَمَاعَةِ وَلَوْ مَعَ غَيْرِ الرِّجَالِ فَذِكْرُ الْمَسْجِدِ وَالرِّجَالِ لِلْغَالِبِ

Dimakruhkan wanita datang ke mesjid berjamaah dengan laki-laki, jika wanita tersebut mempesona karena khawatir timbulnya fitnah. (Pernyataan Syaikh Zakaria al-Anshari: “Dimakruhkan wanita datang.”) maksudnya, makruh tahrim jika si suami tidak mengizinkan. Demikian menurut al-Halabi ... Haram bagi wanita tanpa izin wali, suami, tuan atau keduanya bagi budak wanita yang sudah bersuami, dan dalam keadaan khawatir timbulnya fitnah dari atau yang membahayakannya. (Pernyataan beliau: “Dimakruhkan wanita datang.”), maksudnya datang ke mesjid tempat berjamaah walaupun tidak ada laki-laki di sana. Penyebutan mesjid dan kaum laki-laki hanya berdasar kebiasaan saja.  

4. Fath al-Mu’in dan I’anah al-Thalibin [4]

وَمِنْهَا إِذَا خَرَجَتْ لاِكْتِسَابِ نَفَقَةٍ بِتِجَارَةٍ أَوْ سُؤَالٍ أَوْ كَسْبٍ إِذَا عَسُرَ الزَّوْجُ

  (قَوْلُهُ وَمِنْهَا)

... أَيْ مِنَ الْمَوَاضِعِ الَّتِيْ يَجُوْزُ الْخُرُوْجُ  لأِجْلِهَا

وَقَوْلُهُ أَوْ سُؤَالٍ أَيْ سُؤَالِ نَفَقَةٍ أَيْ طَلَبِهَا عَلَى وَجْهِ الصَّدَقَةِ

Dan di antaranya, jika keluarnya itu untuk mencari nafkah dengan berdagang, meminta atau bekerja ketika suami melarat -tidak mampu memberi nafkah. (Pernyataan Syaikh Zainuddin al-Malibari: “Dan di antaranya.”) maksudnya adalah dari beberapa hal yang memperbolehkan wanita keluar rumah … (Dan  pernyataan beliau: “Atau meminta.”) maksudnya adalah meminta nafkah, maksudnya mencari nafkah dengan cara mencari sedekah.  

5. Al-Muwafaqat fi Ushul al-Ahkam [5]

أَنَّ الظَّنَّ بِالْمَفْسَدَةِ وَالضَّرَرِ لَا يَقُومُ مَقَامَ الْقَصْدِ إِلَيْهِ فَالْأَصْلُ الْجَوَازُ مِنَ الْجَلْبِ أَوِ الدَّفْعِ وَقَطْعُ النَّظْرِ عَنِ اللَّوَازِمِ الْخَارِجِيَّةِ إِلَّا أَنَّهُ لَمَّا كَانَتِ الْمَصْلَحَةُ تُسَبِّبُ مَفْسَدَةً مِنْ بَابِ الْحِيَلِ أَوْ مِنْ بَابِ التَّعَاوُنِ مُنِعَ مِنْ هذِهِ الْجِهَةِ لَا مِنْ جِهَةِ الْأِصلِ

Sungguh zhan (dugaan kuat) tentang mafsadah dan bahaya tidak bisa diposisikan sebagai mafsadah dan bahaya tersebut. Sebab, hukum asal adalah diperbolehkan mengupayakan kebaikan dan menolek bahaya, serta tanpa memandang konsekuensi eksternal (kharijiyah). Kecuali ketika suatu maslahat menyebabkan mafsadah dari sisi hilah (rekayasa) atau dari sisi tolong-menolong, maka maslahat tersebut dicegah (tidak diperbolehkan) dari kedua sisi ini, bukan dari hukum asalnya.  

Referensi Lain :

  1. Tuhfah al-Muhtaj, Juz II, h. 252.
  2. Nihayah al-Muhtaj, Juz II, h. 140.
  3. Al-Fatawa al-Fiqhiyah al-Kubra, Juz I, h. 203.

 [1] Badruddin al-‘Aini, ‘Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, (Mesir: al-Muniriyah, t. th.), Juz XX, h. 218.

[2] Muhammad Salim Bafadhal, Is’ad al-Rafiq Syarh Sulam al-Taufiq, (Surabaya: al-Hidayah, t. th.), Juz VI, h. 125.

[3] Zakaria al-Anshari dan Sulaiman bin Manshur al-Jamal, Fath al-Wahhab dan Futuhat al-Wahhab bi Taudhih Fath al-Wahhab, (Beirut: Dar al-Fikr, t. th.), Jilid I, h. 416-417.

[4] Zainuddin al-Malibari dan Muhammad Syaththa al-Dimyathi, Fath al-Mu’in dan I’anah al-Thalibin, (Mesir: al-Tijariyah al-Kubra,  t.th.),  Jilid II, h. 73-74.

[1] Abu Ishaq al-Syatibi, al-Muwafaqat fi Ushul al-Ahkam, (Kairo: al-Madani,  t.th.),  Juz II, h. 265.

 

Sumber: Ahkamul Fuqaha no. 403

KEPUTUSAN MUKTAMAR NAHDLATUL ULAMA KE-29

Di Cipasung Tasikmalaya Pada Tanggal 1 Rajab 1415 H. / 4 Desember 1994 M.