Menelisik Jejak dan Berdoa di Makam Syekh Maulana Nurul Duhur

Menelisik Jejak dan Berdoa di Makam Syekh Maulana Nurul Duhur
Syekh Maulana Nurul Duhur atau Mbah Duhur atau Mbah Kalen Gunungtugel,beliau itu merupakan sosok yang sangat berjasa sebagai Tokoh Ulama di Tanah Jawa pada zaman Mataram yang menurut penuturan guru para kiyai ahli hikmah bahwa Beliau Mbah Duhur ini aslinya berasal dari Timur Tengah (arab). Beliau itu termasuk dalam kategori Ulama Mastur Keraton Mataram ke-1 dengan Raja Daulatnya bergelar Panembahan Senopati Ingalaga Sayidin Panatagama Kalifatullah tanah Jawa Raden Danang Sutawijaya.
 
Menurut para Ulama Ahli Ziarah dan Hikmah diketahui bahwa Syekh Maulana Nurul Duhur jika dirunut nasabnya masih masuk dalam nasab/keluwarga Rosulullah SAW, merupakan keturunan ke 5 (lima) dari Sultonul Aulia Syeh Abdu Qodir Al-jailani qodasallohu sirohu ( Lihat foto disamping ini ) Ayah beliau Syekh Maulana Nurulduhur adalahSyekh Maulana Abdul Malik bin Syekh Muhammad Dohir bin Syekh Nurul Mubin bin Syekh Abdul Wahab bin Syekh Abdul Qodir Al-jailani dan ahirnya sampai kepada Baginda Rasulullah Muhammad SAW.

Makam Karomatul Auliya Syekh Maulana Nurul Duhur ( mbah Duhur ) kini sudah dikenal oleh masyarakat secara luas seperti makam para Wali yang lain yang sudah lebih dulu termashur. Makam Sohibal Karomah Syekh Maulana Nurul Duhur atau masyarakat sekitar sering mengenalnya dengan sebutan Mbah Duhur, ada juga yang mengenalnya dengan sebutan Mbah Kalen Gunungtugel ini berada di samping atas bukit Gunungtugel, Dukuh Pranji, Desa Entak, Kecamatan Ambal-Kebumen. 
 
Makam Mbah Duhur ini sempat menjadi pembicaraan dan berita heboh di masyarakat luas semenjak Makam Sohibal Karomah Syekh Maulana Nurul Duhur dipugar dan dipilih oleh sespuh kraton Ayugyakarta sebagai tempat penyelenggaraan Selamatan Nasional Nusantara pada 17 Pebruari 2016 lalu yang dikenal dengan Grebeg Nusantara.

Yang dihadiri langsung oleh Sesepuh Keluwarga Keraton Yogyakarta Prof Dr RM Ali Ridho yang sempat memimpin istighosah bersama jamaah Al Karomah, hadir juga Habib Umar, Dr Gus RM Alfarizy, Dr Gus RM Alfarizy sang master fisioteraphy herbalist dari Yogyakarta, kemudian Ki Bodo Abah Santri beserta Nyai Santri Pengasuh pondok pesantren Al Karomah Sukerejo - Kendal Jawa Tengah, Ki Rekso Buwono dari Pati dan Sejumlah Ulama serta pejabat pemerintah Kabupaten setempat.
 
Ada beberapa peninggalan maupun petilasan  mbah Duhur yang masih bisa dilihat dan dirasakan manfaatnya hingga saat ini seperti Pusaka Keris Tunggul Wulung, Guci Wasiat Mustika Sulaiman, Kanthil Wasiat Wesi Kuning dan lainnya ( sudah ada yang diamanahi untuk merawatnya ).
 
Kemudian ada petilasan kali ( sungai ) Bedahan Gunung Gede yang oleh masyarakat setempat dikenal dengan sebutan Kalen Gunungtugel, kemudian ada petilasan Sigong, yaitu sebuah tempat yang konon dulunya adalah sebuah Pura ( tempat peribadatan umat Hindu ) yang diserahkan pada  Mbah Duhur sekaligus sebagai tempat mengajarkanya Agama Islam kepada masyarakat yang hingga sekarang tempat tersebut pun masih ada petilasanya yang terletak di sebelah utara sekitar 150 meter dari Makam Mbah Duhur.
 
Sebenarnya sudah sejak puluhan tahun berlalu Makam Mbah Duhur sering di ziarahi, dido'akan atau ditahlilkan, namun baru sekitar agustus 2014 Misteri Makam Mbah Duhur secara perlahan mulai terungkap dan langsung dikenal masyarakat secara luas setelah ada sejumlah rombongan dari ihwanul muslim yang terdiri dari para Guru dan Kyai Ahli Hikmah yang dikehendaki Allah datang berziarah ke Makam Mbah Duhur yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat.

Walhasil wallahu'alam bishawab, melalui penelitian serta pengkajian yang dalam, oleh beliau para Guru dan Kiyai Ahli Hikmah yang winasis yang sampai saat ini belum mau disebut asma karimnya, hingga akhirnya diketahui bahwa makam tua yang dikeramatkan oleh masyarakat setempat yang disebut-sebut sebagai makam Mbah Duhur atau Mbah Gunungtugel adalah benar bahwa makam tersebut adalah Makamnya seorang Ulama Besar Sohibal Karomah.

Seorang Waliyullah keturunan dari Timur Tengah ( Arab ) yang bernama Nurul Duhur ( Syekh Maulana Nurul Duhur / Syeh Nurul Duhur ) atau masyarakat sekitar makam menyebutnya Mbah Duhur, ada juga yang menyebutnya Mbah Kalen. Syekh Maulana Nurul Duhur bersyi'ar Agama Islam di wilayah Kebumen selatan pada masanya Sultan Mataram I Ingkang Sinewun Kanjeng Gusti Panembahan Senopati Ing Alaga Sayidin Panatagama Kalifatullah Tanah Jawa ( Raden Danang Sutawijaya ) pada tahun 1587 -1601 Masehi.
 

yang Sudah Mengunjungi Menelisik Jejak dan Berdoa di Makam Syekh Maulana Nurul Duhur