Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #2: Sang Mujaddid Era Modern ?

Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #2: Sang Mujaddid Era Modern ?

LADUNI.ID I ULAMA-  Jika kita bepergian ke seluruh penjuru tanah Aceh, maka salah satu fenomena yang cukup mengejutkan adalah banyaknya dayah yang memakai kata “Al-Aziziyyah.”  Hari ini jumlah dayah yang memakai nama tersebut sudah mencapai ratusan dan dapat dipastikan santrinya mencapai ribuan orang. Jejaring “Al-Aziziyyah” sudah mencuat, . Karena itu, bagi siapa pun yang memakai Al-Aziziyyah,  dipandang sebagai sebuah keluarga besar masyarakat dayah pada era kontemporer di Aceh. Tidak banyak yang mengetahui bahwa usaha kaderisasi dayah yang dilakukan oleh Tgk H Abdul Aziz Samalanga  ini telah berhasil menempatkan beberapa alumninya, tidak hanya sebagai ulama, tetapi juga menjadi birokrat dan teknokrat di Aceh. Tentu saja kita harus mencari siapa sosok dibalik kesuksesan pembinaan pengkaderan  dayah di Aceh yang telah tersebar di seluruh penjuru Aceh. Tidak hanya itu, beberapa alumni yang memakai nama “Al Aziziyyah” tersebut  juga tersebar di beberapa negara. (M. Adli, Serambi Inonesia, 2013). Banyaknya ulamayang lahir lewat tangan dingin beliau juga perubahan lainnya, tidak salah kita gelari beliau sosok "Mujaddid" Aceh?

Abon Aziz merupakan sosok ulama yang telah banyak melahirkan kader ulama dan tokoh dalam masyarakat. Ia sebagai seorang ulama kharismatik Aceh garis keturunannya juga merupakan tokoh agama berpengaruh  dalam masyarakat.Beliau bernama asli Teungku  Haji Abdul ‘Aziz bin M. Shaleh. Dalam penelusuran penulis terhadap beberapa naskah, beliau lahir di sebuah gampong bernama Kandang di Kecamatan Samalanga, dulunya dalam Kabupaten Aceh Utara. Namun, setelah pemekaran, Samalanga menjadi bagian dari Kabupaten Bireuen.

Al-mukarram Abon dilahirkan pada bulan Ramadhan tahun 1351 H atau bertepatan dengan 1930 tahun Masehi. Dalam perjalanan hidupnya, al-mukarram dibesarkan dan diasuh di Jeunieb. Kondisi ini disebabkan ayahanda beliau pernah menjabat Kepala Kantor Urusan Agama (KUA) Jeunieb. Ayahnda Abon juga tokoh agama yang berperan penting dan banyak berjasa dalam memajukan pendidikan agama khususnya dayah. Salah satu buktinya Dayah Darul Atik Jeunib, pendirinya ayahanda al-Mukarram Abon Aziz Al-Mantiqi. Abon Aziz masa kecil menghabiskan waktu di Jeunieb dan juga belajar ilmu agama di dayah tersebut.

Abon juga pernah masuki sekolah SR (Sekolah Rakyat) pada tahun 1937. Tidak lama setelah itu, beliau menamatkan pendidikan dasarnya pada tahun 1944. Pendidikan formal Abon hanya menamatkan SR. Abon sejak tahun 1944 belajar pada ayahandanya selama dua tahun.Keinginan beliau untuk menuntut ilmu yang lebih mendalam, tahun 1946 pindah belajar ke Dayah  MUDI Mesjid Raya Samalanga. Saat  itu dayah dipimpin Tgk. Haji Hanafiah (Tengku Abi) lebih kurang selama dua tahun. Namun, usia Abon telah matang. Abon menikahi seorang gadis di Gampong Mideun Jok Samalanga yang merupakan putri gurunya sendiri yang adalah pimpinan Lembaga Pendidikan Islam (LPI) Dayah Ma’hadal Ulum Diniyah Islamiyah Mesjid Raya (MUDI Mesra) Samalanga pada waktu itu. Abon dikaruniai empat anak, yaitu (almarhumah) Hj. Suaibah, Hj Shalihah, (almarhum) Tgk. H .Thaillah dan Hj Masyitah.

Ilmu itu apabila terus ditekuni, semakin terasa masih kurang. Akhirnya Abon Aziz pada tahun 1948 melanjutkan pendidikannya ke salah satu dayah yang dipimpin Teungku Ben (Teungku Tanjongan) di Matangkuli Kabupaten Aceh Utara. Di dayah tersebut Abon belajar pada Teungku Idris Tanjongan sampai 1949. Pada tahun tersebut beliau kembali ke Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga untuk mengabdikan diri menjadi guru di dayah tersebut.

***Helmi Abu Bakar El-Langkawi, Dewan Guru Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga,Aceh