Jejak Ulama Kharismatik Asli Betawi

Jejak Ulama Kharismatik Asli Betawi

LADUNI.ID - Kiai Saifuddin kecil lahir di Jakarta pada 31 Januari 1955. Ia tumbuh dan besar di sebuah keluarga sederhana yang bersahaja. Ayahnya, Haji Amsir Naiman, adalah seorang guru mengaji di kampung tempat tinggalnya: Kebon Manggis, Matraman. Sedangkan ibunya, Hajjah Nur’ain, seorang ibu rumah tangga yang secara penuh ketulusan dan dedikasi tinggi mengabdikan dirinya untuk mengurus anak dan keluarga.

Di waktu kecil, selain mengaji kepada kedua orangtuanya sendiri, ia juga belajar di Madrasah Ibtidaiyah (MI) Al-Washliyah. Di sela-sela waktunya, ia mempelajari berbagai macam ilmu secara otodidak. Ia juga senang membaca pelbagai macam buku bacaan sejak masih kecil. Sewaktu duduk di bangku Madrasah Tsanawiyah, ia mulai banyak berguru kepada beberapa ulama di berbagai wilayah Jakarta.

Di antara ulama yang tercatat sebagai gurunya adalah KH Abdullah Syafi’i, KH Muhammad Syafi’i Hadzami Kebayoran Lama, Habib Abdullah bin Husein Syami Al-Attas, dan Guru Hasan Murtoha. Kepada para guru tersebut, ia mempelajari pelbagai cabang ilmu keislaman. Pada saat menimba ilmu kepada Habib Abdullah, di antara kitab yang ia khatamkan di hadapan gurunya itu adalah kitab Minhaj al-Thalibin (karya Imam al-Nawawi) dan kitab Bughyat al-Mustarsyidin (karya Habib Abdurrahman Al-Masyhur).

Kiai Saifuddin dikenal sebagai murid yang cerdas. Sewaktu lulus aliyah, beliau tercatat sebagai lulusan aliyah dengan nilai terbaik se-Jakarta. Setelah pendidikan formalnya di jenjang pendidikan dasar dan menengah usai ia lewati, beliau melanjutkan belajarnya di Fakultas Syari’ah Universitas Islam Asy-Syafi’iyyah (UIA) dan mendapat gelar sarjana muda di kampus KH Abdullah Syafi’i tersebut.

Di kisaran tahun 1982, Kiai Saifuddin muda mulai terdaftar sebagai mahasiswa Jurusan Akidah dan Filsafat Fakultas Ushuluddin IAIN Syarif Hidayatullah Jakarta (sekarang UIN Jakarta-red), salah satu jurusan yang baru dibuka oleh Rektor IAIN Prof DR Harun Nasution, M.A. pada saat itu. Karena berbagai prestasi yang telah dicapai sebelumnya, ia menjadi satu-satunya mahasiswa yang diterima di IAIN tanpa melalui tes masuk. Setelah merampungkan masa kuliahnya, di waktu kelulusan lagi-lagi ia tercatat sebagai lulusan IAIN terbaik.

Kiai produk asli Indonesia ini adalah tipe Kiai yang selalu istiqamah mengayomi masyarakat. Sampai akhir hayatnya, beliau masih menggawangi berbagai majlis ta’lim yang tersebar di seantero Jakarta. Praktis hari-harinya penuh jadwal pengajian di hampir 20 majlis ta’lim yang berada di berbagai pelosok Ibukota Republik Indonesia.Abuya--demikian masyarakat Betawi menyapanya—merupakan sosok yang low profil. Tak jarang, santri yang senantiasa menyertainya merasa akrab bak teman sejawat. Namun, ketika sedang mengajar atau di atas mimbar, kharismanya sungguh terasa. Bak singa podium, Kiai Amsir mampu menarik perhatian publik. Tak jarang, ketika ia berpidato para hadirin berdecak kagum lantaran kemampuan retorika dan argumentasinya sangat logis dan enak dicerna.

Selain dikenal sebagai orator dan pendakwah yang jenius, Kiai Saifuddin Amsir juga tergolong kiai yang produktif dalam berkarya. Beberapa karya yang telah beliau tulis antara lain: 1) Tafsir Jawāhir al-Qur’ān (empat jilid), 2) Majmū’ al-Furū’ wa al-Masāil (tiga jilid), dan 3) al-Qur’ān, I’jazan wa Khawāshan, wa Falsafatan. Karya yang disebut terakhir ini merupakan magnum opus/masterpiece(karya besar) Kiai Amsir yang telah diteliti oleh para sarjana dalam dan luar negeri.

Beliau wafat pada hari Kamis 19 Juli 2018 di usianya yang ke 63 tahun. Lahul fatihah!