Syekh H. Hanafiah Abbas #4: Sang Ulama Pemegang Estafet Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga

Syekh H. Hanafiah Abbas #4: Sang Ulama Pemegang Estafet Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga

LADUNI.ID I ULAMA- Sosok Teungku Chiek Di Samalanga (II) atau yang dikenal dengan Syekh H. Hanafiah Bin Abbas merupakan seorang ulama terkemuka kala itu dengan kecerdasan dan kelebihan yang beliau miliki serta karamahnya sehingga tidak salah oleh generasi selanjutnya yang mewarisi tarekat Syattariah menggelar Teungku Chiek Di Samalanga itu dengan Sultanul Aulia.

Tongkat estafet kepemimpinan dayah MUDI Masjid Raya Samalanga diserahkan kepada beliau. Ini juga berdasarkan beberapa tulisan yang menceritakan sejarah kepemimpinan MUDI Mesra, pada umumnya menyebutkan Teungku Abi memimpin dayah MUDI setelah Tgk. Syihabuddin (Abang Ipar nya Teungku Abi) meninggal dunia.

Namun berdasarkan riwayat yang lain dayah ini sebenarnya diserahkan langsung oleh Tgk. Syihabuddin (Syekh Syihabuddin) atau Teungku Chiek untuk dikelola oleh Teungku Hanafiah bin abbas dimasa hidupnya Tgk. syihabuddin. Karena dayah MUDI ini merupakan dayah kerajaan yang sudah berdiri sejak masa Sultan Iskandar Muda, Abon Chik Samalanga bertanya kepada Tgk. Syihab : “Ek jeut man dayah nyoe ta yue duek bak Teungku Abi ?” (Apakah bisa Tgk. Abi dijadikan sebagai pimpinan dayah ini ?).

Mendengar pertanyaan ini Tgk. Syihabuddin berkata “Meunyo han jeut pane mungken lon peu jeut keu parui lon” (Kalau memang tidak bisa bagaimana mungkin beliau menjadi sebagai adik ipar saya). Jawab Tgk. syihabuddin. Akhirnya kepemimpinan MUDI Mesra dipimpin oleh beliau.

Di masa kepemimpinan Tgk. Abi, tidak banyak perubahan dari segi pembangunan asrama dari masa sebelumnya. Hanya saja jumlah pelajar sedikit bertambah yang dulunya 100 orang putra kini menjadi 150 orang, sedangkan jumlah santriwati kurang lebih berjumlah 50 orang, sama seperti masa sebelumnya saat masih dipimpin oleh Tgk. Syihabuddin bin Idris (Teungku Chiek Samalanga (I))

Meskipun jumlah muridnya tidak terlalu ramai, namun banyak dari murid Teungku Abi menjadi Ulama yang sebagiannya juga memperdalam ilmu di tempat yang lain. Diantara murid-murid Tgk. Abi adalah Abon Aziz dan juga ayah beliau Tgk. Muhamad Shaleh, Abu Seulimum, Abon Muhammad Amin Arbi Tanjongan, Tgk. Muhammad Jamil dan juga menantunya Tgk. H. Abdul Muthalleb atau yang biasa dipanggil Abu Ie Lueng, Abu Kuta Krueng dan beberapa nama yang kemudian hari menjadi ulama.

Perkembangan demi waktu terus dilalui dan pembenahan, disamping itu ada juga teungku-teungku yang belajar pada teungki Abi diwaktu-waktu tertentu. Abu Hamid Arongan misalnya diamanahkan oleh gurunya Abuya Jailani agar selalu mengunjungi Teungku Abi untuk beristifadah (mengambil faidah) pada beliau. Dan ternyata Abu Arongan ketika pulang dari Kuta Fajar paling tidak dalam sebulan selalu berkunjung dan belajar pada Teungku Abi sesuai wasiat gurunya.

Referensi : Tgk. Muhammad Iqbal Jalil, dkk , Ulama Bireuen Abad XX

 

  •