Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #5: Jangan Alpakan "Beut-Seumeubeut" (Belajar dan Mengajar)

Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #5: Jangan Alpakan

LADUNI.ID I ULAMA- Setelah sekian lama Abon Aziz Al-Mantiqi menuntut ilmu di Dayah Darussalam Labuhan Haji, Aceh Selatan. Di bawah bimbingan Al-Mukarram al-Mujaddid Al-Mursyid Abuya Muda Waly Al-Khalidy yang dikenal sangat alim dan telah teruji kealimannya dalam khazanah keilmuan di kalangan ahli ilmu pada masa itu.

Atas petunjuk dan izin Abuya Muda Waly, akhirnya Abon tepatnya pada tahun 1958 kembali lagi ke Samalanga untuk mengabdi di Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga dalam mengembangkan ilmunya.

Dalam catatan tertulis disebutkan pada tahun tersebut pimpinan Dayah LPI MUDI Mesjid Raya Samalanga meninggal dunia dan estafet kepemimpinan dayah diserahkan kepada Abon Aziz Al-Mantiqi.

Pada awal kepemimpinan Abon, dayah MUDI telah melakukan reformasi terhadap kurikulum dengan penambahan beberapa disiplin ilmu seperti mantiq, ushul fiqh dan lainnya, padahal ini belum dilakukan pada kepemimpinan sebelumnya. Tentu saja kurikulum ini juga mengadopsi dari dDyah Labuhan Haji tempat Abon menunutut ilmu dahulunya.

Kelebihan yang dimiliki oleh Abon dan tentu saja ini berkat didikan Abuya salah satunya, beliau sangat disiplin dan memiliki semangat luar biasa yang terpatri dan mengalir dalam jiwa sosok “purnama” di tengah umat itu dalam dunia “seumeubeut” (mengajar ilmu agama). Ini dibuktikan walaupun beliau kurang sehat namun saat berhadapan dengan “seumeubeut” kembali sehat.

Ini sebuah ilustrasi semangat dan keseriusan serta antusiasnya al-Mukarram Abon Aziz Al-Mantiqi dalam menempatkan dunia “semebut” sebagai nomor wahid dan proritas utama. Kesungguhan dan keseriusan Abon itu menjadi petuah dan pusaka Abon yang ditanamakan dan didoktrin kepada muridnya untuk tidak meninggalkan dua permata yang dibingkai dengan “Beut-Seumeubeut” (belajar dan mengajar) ke mana pun pergi dan status apa pun dalam masyarakat. Itu harus di prioritaskan dan dalam konteks apa pun.

Berkat kepemimpinan Abon dengan menekankan kepada “Beut Semeubeut” telah banyak melahirkan kader ulama dan cendekiawan serta tokoh di bawah kepemimpinan Abon. Melihat pemahaman pesan tersebut secara kontekstual, tidak harus para alumni itu mendirikan dayah atau balai pengajian, mereka yang mampu seumebeut, memulainya dengan seumeubeut minimal istri, anak atau keluarga sendiri. Seumebeut tidak mesti di atas balee atau balai, namun di mana pun ruhul tarbiyah “beut seumeubeut” itu harus dihidupkan dan dalam konteks apa pun. Apakah di dunia akademis, aparatur pemerintahan, pasar dan lainnya.

Begitu juga mereka yang tidak mampu seumeubuet (mengajar) untuk tidak malas dan berbesar hati mengikuti pengajian (jak beut) walaupun tidak rutin. Dalam pengajarannya, Abon sangat membenci faham menyimpang dari manhaj Aswaja seperti Wahabiyyah. Sehingga beliau tidak pernah bosan mengurai kesesatan faham tersebut. Bahkan hampir setiap hari Abon menyinggung tentang kesesatan faham tersebut untuk memberikan pemahaman kepada muridnya bahwa itu faham yang sesat.[] sumber : dinulislamnews.com

Helmi Abu Bakar El-langkawi, Penggiat literasi Aceh

 

Pengikut Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #5: Jangan Alpakan "Beut-Seumeubeut" (Belajar dan Mengajar)