KH. Anas Mahfudz: Pembina Kader Ulama

KH. Anas Mahfudz: Pembina Kader Ulama

LADUNI.ID, Jakarta - Berperawakan kurus tinggi, berhidung mancung dengan sorot mata tajam namun teduh, mengingatkan kita kepada ciri-ciri fisik imam agung Asy Syafi’i rah.a. Itulah sosok Kiai Haji Anas Mahfuzh, seorang ulama yang dikenal faqih, pendiam lagi penyantun yang memiliki pengaruh besar dan turut bertanggung jawab terhadap kaderisasi ulama dan pejuang-pejuang Islam di daerah Lumajang. Tidak mengherankan apabila banyak tokoh ulama sering menyebutnya sebagai soko guru para kiai di kabupaten Lumajang.

Keluarga Terpandang

Nama lengkapnya Anas Mahfuzh bin Zen bin Idris yang lahir di Lumajang pada tahun 1328 H. (1907 M.). Garis silsilah keluarga beliau keatas bertemu dengan Syarif Hidayatullah, Sesuhunan di Gunung Jati, atau yang masyhur disebut Sunan Gunung Jati, salah seorang dari sembilan wali agung Tanah Jawa yang terkemuka.
Ayahanda beliau KH. Zen bin Idris adalah seorang pendatang yang hijrah dari daerah Pasuruan ke Lumajang. Mula-mula Kiai Zen bekerja sebagai seorang buruh tani yang bertugas menggarap dan menjaga sawah milik beberapa orang petani. Lambat laun, atas kerja keras dan ketekunannya, beliau menjadi seorang petani sukses di masanya, sampai-sampai di seantero Lumajang beliau terkenal sebagai salah seorang yang terkaya bersama salah seorang pengusaha keturunan Cina yang menguasai perdagangan kala itu.

Murid utama Hadratusy Syaikh Hasyim Asy’ari

Dari latar belakang keluarga yang berkecukupan inilah Anas Mahfuzh, sulung dari 12 bersaudara, menempuh pendidikannya. Dimulai dari belajar agama kepada orang tuanya sendiri Kiai Zen, lalu beliau meneruskan pelajarannya kepada pamandanya, KH. Ghozali bin Abror Gambiran, salah seorang ulama kharismatik pada masa itu.
Tidak puas belajar di tempat tinggalnya, beliau nyantri di pondok pesantren Tremas Pacitan, kemudian meneruskan studinya ke pondok pesantren Tebu Ireng asuhan Hadratus Syekh KH. Hasyim Asy’ari pendiri Jam’iyyah Nahdlatul Ulama. Disini beliau mendapat pujian dari Hadaratus Syekh sebagai salah seorang santri yang masuk kategori alim. Terkadang disaat Hadratusy Syekh sedang berhalangan Kiai Anas Mahfuzh didaulat menjadi badal menggantikan Hadratus Syekh mengajar santri-santri beliau mengaji weton.
Dari pesantren Tebu Ireng Jombang beliau meneruskan pengajiannya ke pondok pesantren Jamsaren Solo yang pada waktu itu tersohor sebagai pesantren yang memperkenalkan pemikiran-pemikiran modern. Kemudian beliau melanjutkan petualangannya sampai ke Mekkah. Di tanah suci beliau bermukim cukup lama sampai marak perselisihan politik antara para penyokong Wahabisme dan Kaum Tradisionalis Sunni yang berujung kepada banyaknya penangkapan dan pengusiran para politisi dan ulama-ulama Sunni yang tidak sepaham dengan ajaran dan semangat pembaharuan Kaum Wahabi yang didukung kekuatan militer Ibnu Su’ud dukungan Inggris, yang berhasil merebut hijaz pada tahun 1924 M. dan kemudian berhasil mendirikan kerajaan Saudi Arabia pada tahun 1936 M.

Membina Kader Ulama

Selepas dari Tebu Ireng, dua tahun setelah Jam’iyyah Nahdlatul Ulama didirikan, tepatnya pada tahun 1928 M. Kiai anas Mahfuzh merintis Madrasah Nurul Islam. Sebagai salah seorang murid KH. Hasyim asy’ari yang telah dinyatakan syahadah keilmuannya mula-mula masyarakat bersepakat untuk mendirikan pondok pesantren untuk beliau mengajar. Tetapi beliau kurang berkenan dan lebih senang mengasuh madrasah. Menurut beliau system klasikal madrasah yang mulai diperkenalkan sebagai system pendidikan baru kala itu lebih cepat mencetak kader-kader ulama dan tenaga pengajar yang bisa segera disebar ke pelosok-pelosok daerah. Disini dapat diketahui bahwa Kiai Anas Mahfuzh adalah salah seorang ulama yang berpikiran maju dan respek terhadap perubahan, meski beliau senantiasa memberi semangat kepada kiai-kiai yang lain untuk tetap terus melestarikan pendidikan pesantren yang sudah ada.
Pilihan beliau untuk mencetak kader lewat system pendidikan madrasah ini sangat berhasil. Ini terbukti dengan banyaknya alumnus Madrasah Nurul Islam yang kelak di kemudian hari menjadi para ulama dan penggerak islam di seluruh kabupaten Lumajang. Diantara alumnusnya antara lain KH. Barizi, KH Khudlori, KH. Anshori, KH. Baichuni, KH. Usman, KH. Sami’an, KH. Nawawi, KH. Amak Fadloli, KH. Halimi, KH. Basuni, Nyai Hajah Sa’idah, dll.
Tidak berhenti disitu cita-cita KH. Anas Mahfuzh untuk mencetak kader itu juga beliau kemukakan kepada beberapa murid dan tokoh-tokoh ulama yang lain agar mendirikan cabang-cabang Madrasah Nurul Islam di daerahnya masing-masing. Alhasil, banyak diantara para ulama yang menindaklanjuti seruan beliau untuk mendirikan madrasah di lingkungannya. Diantara cabang Madrasah Nurul Islam itu terdapat di daerah Srebet yang didirikan oleh KH. Mahfuzh Srebet dan juga di Bades Pasirian didirikan oleh KH. Thohir Arifin.

Figur Penyemangat Perjuangan

Dimasa sulit saat bangsa Indonesia berjuang mengusir penjajah Belanda sosok dan kepribadian KH. Anas Mahfuzh merupakan figur pengayom dan pendorong semangat perjuangan para mujahid yang bertempur di medan perang. Diketahui bahwa pendirian pasukan Hizbullah Sabilillah di Lumajang juga tidak luput dari peran penting beliau. Dikisahkan bahwa setelah Belanda menduduki Lumajang sejak saat itu pula Kiai Mahfuzh berhijrah dan bahu-membahu dengan para pejuang dan berpindah-pindah tempat dengan terus memberikan suntikan semangat kepada para gerilyawan.
Kegiatan para ulama dan muslimat disaat revolusi kemerdekaan benar-benar sangat vital. Pada saat itu juga para ulama bersama para pejuang membentuk Markas Oelama Djawa Timur (MODT) di bawah pimpinan KH. Anas Mahfuzh dengan anggota-anggotanya Kiai Faqih Gambiran, Kiai Wiryasari, Kiai Madani, Kiai Masrap Kunir dll. Organisasi ulama ini bertugas memberikan suntikan semangat dan daya juang membela Negara. Sedang muslimat pada waktu itu dibawah pimpinan Nyai Sa’idah, yang kemudian diperistri KH. Anas Mahfuzh, dengan tugas utama menyokong logistik dan dapur pejuang.

Kiai Kharismatik dan Organisator yang Piawai

Sebagai salah seorang murid Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari, pada tahun 1934 bertepatan dengan Muktamar NU ke-24 di Banyuwangi, bersama-sama para kiai yang lain KH. Anas mahfuzh mendirikan NU Cabang Lumajang. Yang peresmiannya kala itu dibuka langsung oleh Rois Akbar Hadratus Syekh Hasyim Asy’ari dan Katib syuriah KH. Wahab Hasbullah. Pengurus periode pertama NU saat itu Rois Syuriah dipegang KH. Ghozali Gambiran dengan Ketua Tanfizh ayahanda KH. Anas Mahfuzh, KH. Zen bin Idris, sedang KH. Anas Mahfuzh menjabat sebagai sekretaris cabangnya. Pada periode ke-2 KH. Anas Mahfuzh naik menjadi Ketua tanfizh. Dan pada perode ke-3 sejak tahun 1950 sampai akhir periode ke-12 tahun 1984 beliau dipercaya penuh menempati kedudukan Rois Syuriah NU selama 34 tahun.
Disaat kebanyakan para kiai cenderung menjaga jarak terhadap kekuasaan KH. Anas Mahfuzh menempatkan diri sebagai aktor politik yang terlibat langsung bersinergi dengan penguasa yang senaniasa mampu mewarnai dan meluruskan keadaan. Pada pemilihan umum pertama kali pada tahun 1955 beliau terpilih menjadi anggota Konstituante (MPR) sampai pada akhirnya dibubarkan oleh Presiden Soekarno pada tahun 1959. Beliau juga menjabat sebagai Ketua Pengadilan agama Lumajang sampai beberapa tahun lamanya, bahkan ketika itu kantor Pengadilan Agama Lumajang menempati rumah tinggalnya di Jalan Alun-alun Timur Lumajang.
Di bidang pendidikan, selain mempelopori sistem pendidikan klasikal madrasi, beliau juga pernah menjabat Dekan Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Cabang Lumajang yang dirintis oleh KH. Amak Fadloli yang notabene adalah kemenakan dan alumnus Madrasah Nurul Islam. Sebelum akhirnya pada tahun 1975 Fakultas Syari’ah IAIN Sunan Ampel Cabang Lumajang itu dibubarkan.

Berpulang ke Rahmatullah

Pada tahun 1989 Allah yarham almaghfurlah KH. Anas Mahfuzh kembali keharibaan-Nya. Ratusan ribu pentakziah dari dalam dan luar kota Lumajang membanjiri Alun-alun Lumajang bagai air bah menghantar kepergiannya. Saksi mata yang pada waktu itu menyaksikan iring-iringan jenazah melihat keranda jenazahnya berjalan diatas kepala para pentakziah seakan tanpa dipikul karena saking banyaknya orang yang menyangga silih berganti sampai ke pemakaman. Beliau dikebumikan di pemakaman umum Jogoyudan Lumajang.

Oleh Gus LanCip

 

Pengikut KH. Anas Mahfudz: Pembina Kader Ulama