Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #7: Tajak Kawee Yee dengan Jaloe, Nyan Jaloe-Jaloe Ka Lam Babah Yee.

Syekh H. Abdul Aziz Samalanga #7: Tajak Kawee Yee dengan Jaloe, Nyan Jaloe-Jaloe Ka Lam Babah Yee.

LADUNI. ID I ULAMA- Aceh sebagai bumi Serambi Mekkah tentunya peran ulama menjadi kunci utama dalam pengembangan syariat Islam di propinsi paling barat nusantara itu. Salah satunya bernama Syekh Abdul Aziz Samalanga masyarakat menyebutnya Abon Samalanga.

Sosok Syekh Abdul Aziz Samalanga Al-Mantiqi Samalanga atau masyarakat sering menyapanya Abon Aziz Samalanga, beliau merupakan bisa di katakan ulama yang mampu menyingkap rahasia dan fenomena kedepan.

Namun rahasia atau hal ghaib itu tidak akan mampu di ungkapkan melainkan anugerah dari Allah SWT kepada hambanya bertitel waliyullah. Panca indera ke enam ini sering di sebut dengan firasat (firasah). 

Salah seorang pelajar yang di kenal cerdas dan pandai serta telah mengaji beberapa tempat dayah besar di Aceh bahkan juga telah mengenyam pendidikan di Timur Tengah ( Arab Saudi). Pasca beliau pulang ke Aceh, sebagai rasa takdhimnya dengan melakukan kunjungan silaturrahmi ke beberapa ulama besar Aceh,  termasuk ke kediaman Syekh Abdul Aziz.(Abon Aziz Samalanga)

Saat berkunjung ke rumah Syekh Abdul Aziz (Abon Aziz Samalanga)beliau bersama dengan temannya yang juga di kenal beraliran " radikal" terhadap faham wahabi. Sang tamu itu dalam ceramah yang pernah diutarakan Al-Mukarram Abu MUDI merupakan juga dua tokoh agamawan yang terbilang cerdas dan mewacanakan serta membicarakan keinginan bagaimana dalam meredam dan menghancurkan faham wahabi. 

Singkat cerita dalam diskusi tersebut salah seorang sang tamu itu  pernah berguru ke Timur Tengah menyebutkan bahwa beliau sengaja bergaul dengan sekte kaum wahabi dengan sebuah tujuan untuk menarik kembali  mereka yang telah tersesat itu ke jalan yang benar.

Penjelasan sang tamu itu sangat "tersentak" Syekh Abdul Aziz Samalanga,  Syekh Abdul Aziz pun dengan cekatan menanggapinya“Pu tapegah di gata! tajak kawee yee dengan Jaloe, nyan jaloe-jaloe ka lam babah yee hana tathe” (Apa yang engkau katakan, engaku itu ingin memancing ikan hiu, tanpa di sadari, engkau dan kapal  sudah dalam mulut hiu tapi kamu tidak menyadarinya).

Pelajaran yang dapat di petik dari ungkapan itu, dimana Syekh Abdul Azis (Abon Aziz Samalanga) membantah dakwaan tamu itu bahwa tamu itu berteman dengan wahabi demi menarik wahabi ke jalan yang benar, Abon Aziz menyebutkan bahwa perbuatannya tersebut akan berefek dia sendiri akan terjatuh dalam aqidah wahabi tanpa disadarinya.

Hal itu terbukti di kemudian hari. Pada saat itu, belum tampak geligat yang berbeda pada diri tamu yang juga santri yang kemudian hari menjadi ulama tersebut, dia masih bersikap layaknya lulusan dayah biasa yang sangat menentang pemahaman kaum wahabi. Namun lama kelamaan, sikapnya mulai menampakkan perubahan  dan sangat pro kepada wahabi.

Sang tamu alumni Timur Tengah itu mulai menyerang berbagai amaliyah yang sudah praktekkan  secara turun menurun baik dalam masyarakat maupun di dayah, seperti berdoa setelah shalat, maulid, tahlilan, mencium tangan ulama,  dan masih banyak lainnya.

Waktu terus berputar, rupanya firasat  yang pernah Syekh Abdul Aziz utarakan tepat sasaran dan tidak meleset. Kebenaran firasat tersebut terkuak pada tahun 1995, ketika itu gubernur Aceh bapak Syamsuddin Mahmud membawa para ulama-ulama Aceh keliling dunia.

Ternyata rupanya sang alumni timur tengah yang sempat berdialog tersebut, masih  sekamar dengan Al-Mukarram Abu Mudi, dalam bincang-bincangnya dan tanpa menyadari, dia buka kartu bahwa alumni Timur Tengah itu mendapat fasilitas dan gaji sekian dari pemerintah Arab Saudi dengan satu misi untuk menyebarkan paham Wahabi di tanah Rencong Aceh.

***Helmi Abu Bakar El-Langkawi,  Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga. Sumber:www.dinulislamnees.com