Riwayat Imam Abu Hatim Ar-Razi

Riwayat Imam Abu Hatim Ar-Razi

Ibnu Abu Hatim adalah seorang ahli hadits yang telah mencurahkan sebagian besar waktunya untuk mengkaji hadits Nabi; melakukan perjalanan mencari hadits ke berbagai negeri kawasan Islam, melakukan kritik terhadap sanad hadits yang didapatkan, dan banyak menulis karya penting dalam bidang tersebut; termasuk pula dalam bidang lainnya, seperti bidang tafsir, fikih, ushul fikih dan sebagainya. Karena kontribusinya yang demikian besar terhadap Islam, terutama dalam bidang hadits, beserta integritasnya yang tinggi, para ulama memberikan banyak gelar kehormatan terhadap dirinya, antara lain: Al-Imam (seorang imam, panutan), An-Naqid (seorang kritikus), dan sebagainya.

Nama dan Nasab Abu Hatim
Beliau adalah Muhammad bin Idris bin al-Mundzir bin Daud bin Mahran. Beliau mendapat julukan al-Imam, al-Hafidz, ahli hadits dan julukan lainnya. Beliau lahir pada tahun 195 H.

Perjalanan Menuntut Ilmu
Beliau rahimahullah berkata: “Aku menghitung panjangnya perjalanku dalam mencari hadis, lebih dari tiga ribu-mil, aku berjalan berkali-kali dari Makkah ke Madinah, dari Bahrain menuju Mesir, dari Mesir ke Ramlah, dari Ramlah ke Baitul Maqdis dan ke Thabariah, dari Thabariyah menuju Damaskus, dari Damaskus menuju Himsha, dari Himsha menuju Anthakiya, dari Anthakiya menuju Thursus, dari Thursus kembali ke Himsha untuk mengambil hadits yang masih tertinggal dari hadits Abil Yaman, setelah aku mendengar hadis tersebut maka aku keluar dari Himsha menuju ke Bisan, dari Bisan menuju Rukoh, dari Rukoh aku menyeberangi sungai Efrat menuju Baghdad, akupun keluar (darinya) sebelum keluar dari Syam melalui Daerah Washitin, Dari Washitin menuju Kuffah, semua itu aku lalui dengan berjalan kaki, dan ini adalah perjalan pertamaku dalam mencari hadis, sedangkan umurku pada waktu itu dua puluh tahun, aku berkeliling (mencari hadits) selama tujuh tahun”.

 Kesabaran Abu Hatim dalam menuntut ilmu
Beliau menceritakan tentang dirinya, beliau berkata : “Aku tinggal di Bashroh pada tahun 214 H selama delapan bulan, sebenarnya aku berniat tinggal padanya selama satu tahun, lalu habislah perbekalanku, maka akupun menjual bajuku yang aku pakai, helai demi helai. (setiap hari) aku dan temanku berkeliling mendatangi para Syekh (ulama), mendengarkan dari mereka (hadits) hingga sore hari, setelah temanku kembali ke rumahnya, akupun kembali ke rumahku dengan tangan kosong (tanpa membawa makanan), akupun minum air untuk menghilangkan rasa lapar, keesokan harinya aku berkeliling kembali bersama temanku untuk mendengarkan hadits, sedangkan aku dalam keadaan sangat lapar, (seperti biasa) dia pulang ke rumahnya dan aku pun pulang, sedangkan aku dalam keadaan lapar. Pada keesokan harinya dia datang kepadaku di waktu pagi dan berkata: “Ayo, berangkat bersama kami mendatangi syekh, maka aku menjawab : “Badanku sangat lemah”, dia bertanya : “Apa yang membuat badanmu menjadi lemah?”, aku menjawab : “Aku tidak bisa menyembunyikan kondisiku ini kepadamu, sungguh aku belum makan sejak beberapa hari. Maka dia berkata : “aku mempunyai sisa uang satu dinar, aku akan memberimu setengah dinar dan setengahnya kau gunakan untuk membayar sewa. Setelah itu kami pergi meninggalkan kota Bashrah.

Pujian Ulama Kepadanya
Tidak diragukan lagi bahwa Abu Hatim ar-Razi adalah seorang ulama besar yang mengorbankan jiwa dan hartanya dalam mencari hadits, tidak heran jika banyak pujian para ulama kepadanya. Diantara pujian ulama kepadanya adalah apa yang dikatakan oleh al-Hafidz Abdurahman bin Hirasy, dia berkata : “Abu Hatim adalah seorang yang amanah dan berpengetahuan luas (berilmu). Abul Qosim berkata : “Abu Hatim adalah seorang imam, hafidz, yang kuat(riwayatnya). Al-Khatib berkata : “Abu Hatim adalah salah satu dari para imam, al- Hafidz, yang kuat (hafalannya).

Beliau mulai mendengarkan hadits pada tahun dua ratus sembilan hijriyah (209 H). Al-Khalil berkata : “Abu Hatim adalah orang yang mengetahui tentang perselisihan sahabat, dan fiqih Tabi’in, serta orang-orang yang setelahnya, aku mendengar kakekku dan beberapa orang selain beliau bahwa mereka mendengar Ali bin Ibrahim al-Qothani berkata : “Aku belum pernah melihat seseorang seperti Abu Hatim, maka kami berkata kepadanya : “Bukankah engkau telah melihat Ibrahim al-Harbi dan Ismail al-Qadhi, maka dia berkata : “Aku tidak melihat (mereka) lebih sempurna dari Abu Hatim, dan tidak juga lebih mulia darinya”.

Guru-guru Abu Hatim ar-Razi
1. Muhammad bin Abdullah al-Anshari
2. Utsman bin al-Haitsam
3. Affan bin Muslim
4. Abu Nu'aim Ubaidilah bin Musa
5. Adam bin Abi Iyyas
6. Abu al-Yaman
7. Sa'id bin Abi Maryam
8. Abu Mashar
9. Abu Nu’aim al-Fadl bin Dukain
10. Zuhair bin ‘Abbad
11.Yahya bin Bukair
12.Tsabit bin Muhammad az-Zahid
13.‘Abdullah bin Salih al-’Ijli
14.‘Abdullah bin Sâlih al-Kâtib
15. Qabisah

Karya-Karya Abu Hatim ar-Razi
1. Bayan Khatha' Muhamad ibnu Ismai'il Al-Bukhari fit Tarikh;
2. 'Ilalul Hadits;
3. Kitabul Jarh wat Ta'dil;
4.Taqdimatul Ma'rifah lil Jarh wat Ta'dil;
5. Ashlus Sunnah;
6. Kitab Fadla'ilu Ahlil Bait;
7. Kitabu Fawa'idur Raziyyin;
8.K itab Fawa'idul Kabir;
9. Kitab Ar-Raddu 'alal Jahmiyah;
10. Kitabut Tafsir;
11.Tswabul A'mal;
12. Zuhduts Tsamaniyah minat Tabi'in;
13. Adabusy Syafi'i wa Manaqibuh;
14. Kitab Makkah; dan,
15. Manaqibu Ahmad.

Murid-Murid  Abu Hatim ar-Razi
1. Abu Daud
2. An-Nasa'i
3. Anaknya, Ibnu Abi Hatim
4. Abadah bin Sulaiman al-Marwazi
5. Ar-Rabi' bin Sulaiman al-Muradi
6. Yunus bin Abdul A'la
7. Muhammad bin 'Auf ath-Tha`i
8. Abu Zur'ah ar-Razi
9. Muhammad bin Harun
10. Abu 'Awwanah al-Isfaraini
11. Ibnu Abi ad-Dunya
12. Abu Zur'ah ad-Dimasyqi
13. Abu 'Amru bin Hakim
14. Musa bin Ishaq al-Anshari
15. Abul-Hasan al-Qattân
16. Abū Bishr ad-Dūlâbî

Kewafatannya Abu Hatim
Berkata Abul Husain bin al-Munadi: “Abu Hatim ar-Razi wafat pada bulan sya’ban pada tahun 277 H”. Diriwayatkan bahwa beliau hidup selama delapan puluh tiga tahun.
 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page