Riwayat Syekh Muhammad Akib Bin Hasanuddin, Mahaguru Ulama Palembang

Riwayat Syekh Muhammad Akib Bin Hasanuddin, Mahaguru Ulama Palembang

 

Oleh: Kms.H.Andi Syarifuddin

Ulama sufi dan waliyullah yg dikenal dg sebutan Datuk Akib ini bernama lengkap Kiagus Haji Muhammad Akib bin Kgs. Hasanuddin bin Khalifah Jakfar bin Kgs. Muhammad Khalifah Gemuk bin Ki. Bodrowongso bin Pangeran Fatahillah Gunung Jati, nasabnya bersambung kpd Rasul Saw. 
Ia dilahirkan di Palembang dlm th 1760 oleh ibunya Syarifah Habibah bt Sayid Muhammad bin Amir Toyib Jamalullail. Putra sulung dari 6 bersaudara.

Dasar2 pendidikan agama didapat dari ayahnya sendiri dan para ulamaPalembang terkemuka saat itu. Ayahnya selain ulama juga seorang bangsawan yg menjabat sebagai Panglima Kesultanan Palembang Darussalam. Sedangkan bibinya, Nyayu Badariah bt Khalifah Jakfar menjadi mertua Sultan Mahmud Badaruddin Jayo Wikramo, karena menikah dg putrinya Nys. Naimah.

Selanjutnya ia meneruskan studinya ke tanah suci. Guru utamanya pada waktu itu ialah Syekh Abdus Somad al-Palembani, seorang khalifah Syekh Muhammad Samman al-Madani. Mempelajari tasawuf dan mengambil ijazah Tarekat Sammaniyah. Aqib juga kemudian dikenal sebagai faqih, ahli hadis, sanad, pengobatan serta hafiz al-Qur'an. Bahkan ia mendapat kehormatan menjadi imam di Masjid Nabawi Madinah.

Setelah pulang ke Palembang, bersama keluarganya ia menetap di Guguk Pengulon di lingkungan Masjid Agung, menjadi imam besar, dan khalifah Tarekat Sammaniyah. Melalui beliaulah Tarekat Sammaniyah berkembang dg pesatnya dilingkungan keraton & masyarakat umum. Banyak sekali murid2nya yg datang dari luar kota utk mengambil ijazah kepadanya. Ia mengangkat beberapa khalifah utk meneruskan kemursyidan Tarekat Sammaniyah, diantara ialah: Syekh Sayid Hasyir Jamalullail, Syekh Abdullah bin Makruf, & Syekh Kgs.H.Abd. Malik (putranya).

Syekh Muhammad Akib wafat pd hari Selasa, 29 R.Akhir 1265H atau 1849. Pemakamannya dikenal dg sebutan keramat Gubah Datuk di 24 ilir dan sering diziarahi penduduk. Sedang namanya diabadikan oleh pemerintah menjadi nama sebuah jalan yg melintas di kampung 19 dan 22 ilir Palembang. Hingga kini namanya juga tertulis dg tinta emas dlm kitab2 sanad keilmuan, diantaranya dlm karya2 Syekh Muhammad Yasin al-Padani, dll.
 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page