Riwayat Imam al-Baqilani

Riwayat Imam al-Baqilani
Nama dan Kelahiran
Nama aslinya al-Qadhi Abu Bakar Muhammad ibn al-Tayyib ibn Muhammad ibn Ja’bar ibn al-Qasim al-Baqillani. Ia lahir di Basrah tetapi tidak ada keterangan yang menjelaskan tanggal dan tahun kelahirannya. Oleh karena ia hidup bertepatan dengan masa pemerintahan ‘Adud al-Daulat al-Buwaihi (w. 372), maka diperkirakan ia lahir setelah paroh kedua abad keempat Hijriyah. dan ia sempat hidup di abad ke-5 hanya 3 tahun saja. Ia tinggal di Baghdad dan ia belajar hadits kepada Abu Bakar bin Malik al-Qathi’i, Abu Muhammad bin Musa, dan Abu Ahmad Husein an-Naisaburi. Kemudian belajar ilmu fiqh kepada Abu Bakar al-Abhuri sedangkan ilmu kalam ia belajar langsung kepada abu Abdullah Bakar bin Mujahid ( al-Bashri ath-tha’i ) dan kepada Abu Hasan al-Bahili. Keduanya adalah murid dari Abu Hasan al-Asy’ari. Dia bermazhabkan Maliki.
            
Al-Baqilani mengajar di Baghdad dan memiliki halakah yang besar yang dikunjungi oleh banyak murid. Dia itu sangat menentang sekali firqah syi’ah dan mu’tazilah. Dia memiliki ilmu yang sangat luas dan memiliki karangan atau tulisan-tulisan yang sangat banyak.  
            
Al Baqilani menjadi seorang Qadhi disebuah mahkamah akan tetapi tidaklah diketahui di daerah mana ia menjadi qadhi tersebut. Al Baqilani adalah seorang yang mengerti betul tentang masalah-masalah khilafiyah pada  zamannya seperti pada bidang aqidah Kristen. Dia juga pernah bermunazarah dengan tokoh agama Kristen mengenai mukjiazat nabi tentang membelah bulan, mengenai posisi Isa (apakah anak Allah atau hamba Allah) dan mengenai mukjizat Isa.
 
Imam al-Baqillani, juga seorang ulama yang sangat wara', zuhud, religius dan selalu menjaga dirinya dari perbuatan yang tercela. Abu Hatim al-Qozwini pun pernah berkata, bahwa sifat waro , zuhud religius dan kepribadian al-Baqillani dalam menjaga diri yang disembunyikan dari orang lain, lebih besar daripada yang ditampakkannya. Pujian terhadap al-Baqillani tidak hanya mengalir dari pengikut madzhab al-Syafi’i dan Maliki, sebagai mayoritas pengikut madzhab Al-Asy’ari. Bahkan pujian terhadapnya juga mengalir dari tokoh-tokoh pengikut madzhab Hanbali, seperti: Abu al-Hasan al-Tamimi al-Hanbali yang berkata kepada murid-murid al-Baqillani, “Ikutilah laki-laki ini karena sunnah pasti membutuhkan ilmunya”.

Al-Baqilani mempunyai andil besar dalam menyebarluaskan paham Asy’ariyyah. Beliau termasuk tiga ulama besar Madzab Asy’ari bersama Imam Al-Juwaini dan Hujjatul Islam Imam Ghazali. Atas jasanya merumuskan kembali paham Asy’ariyah, menjadikan paham Asy’ariyyah yang notabenenya sebagai Ahlus Sunnah Wal Jama’ah tetap eksis sampe sekarang.
 

Al-Qadhi (al-Baqillani) telah menulis berbagai kitab di antaranya:
1.  I’jazul Qur’an, kitab pertama beliau yang diterbitkan dan paling tinggi nilainya.
2.  At-Tamhid fi al-Raddi alal Mulhidah wal Mu’aththilah wal Khawarij wal Mu’tazilah.
3.  Al-Ibanah fi Ibthal Madzhab Ahlil Kufri wa adh-Dhalal.
4.  Risalah al-Hurrah.
5.  Al-Bayan Bainal Mu’jizat wal Karamat wal Hiyal wal Kahanah was Sihri wa Nairinjat .
6.  Al-Inshaf, dan masih banyak yang lainnya.


Kisah Perdebatan Abu Bakar Al-Baqilani dan Raja Romawi
Adalah Abu Bakar Al-Baqilani ulama besar di masanya. Raja Irak kala itu memilih dan mengutus beliau pada th 381 untuk berdebat dengan kaum nasrani di Konstantinopel.Ketika Raja Romawi mendengar berita kedatangan Abu Bakar Al-Baqilani, ia memerintahkan kpd para punggawanya untuk memperpendek ketinggian pintu.

Agar Al-Baqilani terpaksa merundukkan kepala dan badannya ketika masuk seperti orang yang sedang rukuk. Sehingga ia akan terhina di hadapan raja romawi dan para punggawanya. Ketika Al-Baqilani mengetahui siasat ini, ia membalikkan badannya lalu berjalan masuk kepintu dengan membelakangi raja romawi dan para punggawanya. Dari sini Raja Romawi menyadari bahwa saat itu ia sedang berhadapan dengan seorang ulama besar yang cerdik cendekia.

Al-Baqilani masuk sembari menanyakan kabar dengan tanpa mengucapkan salam dikarenakan adanya larangan dari Rasul shalallahu alaihi wa sallam dari memulai mengucapkan salam kepada orang yahudi dan nasrani.

Kemudian beliau menoleh kepada Pendeta Yang Diagungkan sambil bertanya : Bagaimana kabarmu, kabar keluargamu dan juga anak-anakmu?

Raja Romawi murka lantas berteriak : Tidakkah engkau tahu bahwa para pendeta kami tidak menikah dan tidak memiliki anak?

Abu Bakar Al-Baqilani berkata : Allahuakbar … … … Kalian mensucikan pendeta kalian dari pernikahan dan dari menghasilkan anak, kemudian kalian menuduh Tuhan kalian menikahi Maryam dan memiliki anak Isa?

Bertambahlah kemurkaan Raja Romawi dan ia berkata dengan penuh kemarahan : Apa yang kamu katakan tentang tuduhan zina yang dialamatkan kepada Aisyah?

Al-Baqilani berkata : Jika Aisyah dituduh berzina, yang menuduhnya adalah rafidhah dan kaum munafiqin. Demikian pula Maryam dituduh berzina oleh yahudi.

"Namun perbedaanya, Aisyah menikah dan tidak melahirkan, sedang Maryam melahirkan dengan tanpa pernikahan. Jadi mana yang lebih berhak mendapatkan tuduhan kebatilan itu ? dan mustahil keduanya melakukan tuduhan itu, semoga Allah meridhai keduanya."

Menjadi koplaklah sang Raja Romawi mendengarnya, ia lantas bertanya :

Apakah nabi kalian berperang?

Jawab : iya

Apakah ia berperang di barisan terdepan?

Jawab : iya

Apakah ia menang?

Jawab : iya

Apakah terkadang ia juga kalah?

Jawab : iya

Raja Romawi tersenyum penuh kemenangan : Aajiiiibbb … nabi kok kalah perang..!!

Abu Bakar Al-Baqilani menyahut : Tuhan kok disalib.

Raja Romawi : @(@()$@*!:())

Lantas terbungkamlah mulut orang-orang kafir itu.

(Tarikh Baghdad : jilid. 5/ hal. 379).

Kewafatannya
Beliau meninggal dihari sabtu di tanah Qin bulan Zulqa’dah tahun 403 H. Adz-Dzahabi berkata, “(Pemakaman) jenazahnya banyak dihadiri orang. Beliau yang menunjukkan kejelekan Mu’tazilah, Rafidhah dan Musyabbihah. Mayoritas kaidah beliau sesuai dengan Sunnah. Abul Fadhl at-Tamimi tokoh utama madzhab Hambali sangat menghormati beliau. Disebutkan beliau telah menulis 70.000 lembar.”
 

 

 

Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page

 

Pengikut Riwayat Imam al-Baqilani