Abu Teupin Raya Al-Falaqy #3: Sosok Ulama Kharismatik Aceh Melahirkan Banyak karya Tulis

Abu Teupin Raya Al-Falaqy #3: Sosok Ulama Kharismatik Aceh Melahirkan Banyak karya Tulis

LADUNI.IDI ULAMA- Abu Teupin Raya (Teungku Muhammad Ali Irsyad)  sejak muda telah dididik oleh orang tuanya dengan pendidikan agama. Guru pertamanya adalah ayahnya sendiri yaitu Teungku Irsyad. Ayahnya seorang ahli agama yang dikenal sebagai kadi. Selain sebagai kadi, ia juga Ulee Balang Geulumpang Payong di masa Belanda. Sudah tentu dari kalangan bangsawan Abu Teupin Raya muda mendapat kesempatan pendidikan umum

Dalam perjalanan pendidikan hingga ke luar negeri tepatnya negeri Kairo. Tentunya ini setelahbeliau belajar dibeberapa dayah di Aceh dan ‘alim beliau ditempat yang pernah ia meudagang(belajar di dayah). Pada saat beliau berada di Mesir, dengan mengambil konsentari Ilmu Falak, menambah sebutan di depan namanya dengan gelar Al-Falaqy yaitu sebuah gelar yang menunjukkan keahlian dalam Ilmu Falak.

Tentunya kemahiran dan keahliannya dalam ilmu ini membuat ia dikenal tidak saja di dalam negeri khususnya di Aceh, akan tetapi juga di almamaternya Kairo. Bahkan Beliau telah menyusun sebuah kalender sepanjang masa sebagai pedoman dalam menentukan waktu salat dan berbuka puasa serta waktu imsaknya.

Selain itu beliau juga seorang pemikir, penulis dan kaligrafer yang produktif. Sampai akhir hayatnya beliau telah menulis 28 judul kitab karangan yang terdiri 39 jilid buku. Yang berkisar dari ilmu pelajaran Bahasa Arab, Logika, Filsafat, Fikih, Falak, Tafsir, Terjemahan dan Sejarah Islam. Buku-buku tersebut dijadikan buku pelajaran bagi santri, mubaligh, ilmuwan bahkan jadi buku pegangan bagi para pengajar di Ar-Raniry bahkan juga di Al-Azhar Kairo.

Tidak heran dikatakan bahwa Abu Teupin Raya laksana mutiara yang yang telah meninggalkan harta karun berupa ilmu pengetahuan baik agama dan umum bagi masyarakat Aceh. Sang mercuar ilmu beliau diteruskan di bawah panji Daruss’adah yang kini menyebar dan disegani di seluruh timur dan tengah tanah Aceh, serta buku-buku yang kesemuanya ditulis tangan dalam bahasa Melayu dan Arab.

Teungku Muhammad Ali Irsyad termasuk di antara ulama yang kreatif dalam mengembangkan dakwah ilmiah di Aceh. Baik itu melalui jalur pendidikan maupun penulisan, ia telah melahirkan sejumlah karya tulis yang dapat dijadikan pegangan dalam menjalankan syariat Islam. Berdasarkan data yang diperoleh di Dayah Darussa’adah, sampai akhir hayatnya Teungku Muhammad Ali Irsyad telah merampungkan sebanyak 28 karya tulis dalam beberapa bidang ilmu, baik dalam bahasa Aceh, bahasa Gayo, maupun bahasa Arab.

Karya-karya yang dikarang oleh Teungku Muhammad Ali Irsyad di antaranya Awaluddin Ma’rifatullah (tauhid), Al-Qaidah (nahwu), Taqwimu Al-Hijri (ilmu falak) dan Ad-Da’watul wahabiyah (Gerakan Dakwah Wahabi) Nazam Al-Qur'an (Terjemahan Alquran dalam bahasa Aceh) dan masih banyak lainnya.[]

****Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Guru Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga.