Abu Teupin Raya Al-Falaqy#6: Pelopor Pembaharuan Pendidikan Dayah Aceh

Abu Teupin Raya Al-Falaqy#6: Pelopor Pembaharuan Pendidikan Dayah Aceh

LADUNI.ID I ULAMA- Salah seorang putra Aceh yang melakukan rilah (perjalanan) ilmiah ke negeri Mesir ketika itu adalah Muhammad Ali Irsyad yang selanjutnya dikenal dengan Abu Teupin Raya atau Abu Lampoh Pala. Setelah berpindah-pindah dari satu dayah ke dayah lain di Aceh, dia meneruskan proses belajar selanjutnya ke Mesir sekitar tahun 1961. Pasca kembali ke Aceh dari perantauan dalam menuntut ilmu, atmosfir keilmuan di negeri Seuramoe Meukah kian semarak dan semakin gemerlap.

kepribadian Abu Teupin Raya terhadap Aswaja tidak diragukan lagi walaupun beliau menempuh pendidikan diluar jenjang Dayah Aceh bahkan ke  luar negeri sekalipun. Walaupun pada awalnya,Abu dulunya  mengalir dua pendidikan yaitu pendidikan agama yang dibimbing langsung oleh orang tuanya, kemudian pendidikan umum  yang mendapat fasilitas dari jabatan orang tuanya sebagai qadhi Ulee Balang. Mengingat kedua hal tersebut, beliau mempertimbangkan kalau di rumah beliau harus mengetahui pelajaran agama dan keesokan harinya di sekolah harus berhadapan dengan guru-guru dari Belanda, maka timbullah goncangan jiwa dalam hati beliau, sehingga beliau memutuskan untuk mencari ilmu agama.

 Singkat cerita pasca Abu Teupin Raya belajar di Mesir yang sebelumnya telah lebih dahulubelajar pada ulama kesohor di Dayah Aceh dulunya,  tentunya dalam proses transformasi ilmu pengetahuan kepada masyarakat yang dilakukan oleh ulama ini tidak terbatas pada institusi dayah semata, tetapi juga melalui pengajian-pengajian rutin di meunasah (semacam surau di Sumatera Barat) dan balee beut (balai tempat mengaji) di wilayah sekitar kampung domisilinya.

Kombinasi metode pembelajaran dan racikan kurikulum yang diperoleh di daerah sebelum berangkat menuntut ilmu ke jazirah Arab dengan apa yang didapatkan di negeri Piramida tersebut menjadi tambahan energi bagi kelangsungan aktivitas pencerahan umat. Gampong Teupin Raya yang berada di kabupaten Pidie menjadi kiblat ilmu pengetahuan di Aceh saat itu dengan semakin banyak masyarakat yang mengantarkan putra-putrinya menuntut ilmu ke dayah Darussaʻadah yang ia dirikan.

Dalam perjalanan waktu, nama Darussaʻadah (sebagai nama Institusi) nyaris tak dikenal. Masyarakat justeru lebih mengenal institusi pendidikan Islam tersebut dengan laqab “daerah” atau “tempat” di mana dayah tersebut berada. Masyarakat sering menyebut dayah Teupin Raya ketimbang dayah Darussaʻadah. Penyebutan dayah Teupin Raya di kalangan masyarakat Aceh menjadi sebutan “sangat akrab” dibandingkan dengan sebutan Darussaʻadah. Karenanya, tidak salah jika  lembaga  dayah   yang  bernaung  di  bawah  Yayasan  Pendidikan  Islam

***Helmi Abu Bakar el-Langkawi, Guru Dayah MUDI Masjid Raya Samalanga.