Mengenal Imam asy-Syirazi

Mengenal Imam asy-Syirazi

Nama, dan Nasab
Beliau adalah Al-Imam, Al-Qudwah, Al-Mujtahid, Syaikhul Islam, Abu Ishaq Ibrahim bin ‘Ali bin Yusuf Al-Fairuzabadi Asy-Syirazi Asy-Syafi’i. Laqab beliau adalah Jamaluddin dan Asy-Syaikh. Beliau dinisbatkan kepada Fairuzabad (Firuzabad), sebuah tempat yang terletak di sebelah selatan kota Syiraz, Iran. Dilahirkan di Fairuzabad tahun 370 H, ada yang menyebutkan tahun 373 H, dan ada yang menyebutkan tahun 393 H, beliau menghabiskan masa kecilnya di desa kelahirannya.

Al-Imam Asy-Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi adalah penulis kitab-kitab penting dalam madzhab Syafi’i utamanya dalam bidang fiqh, ushul dan khilafiyah. Karya monumentalnya adalah Al-Muhadzdzab fi Fiqh Al-Imam Asy-Syafi’i yang kemudian mendapatkan banyak perhatian dari para ulama setelahnya untuk disyarah, salah satu syarahnya yang terpenting adalah Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab yang ditulis oleh Muhaqqiq madzhab Syafi’i, Al-Imam Muhyiddin Abu Zakariya An-Nawawi. Kemudian kitab-kitab Syaikh Abu Ishaq yang lain seperti At-Tanbih, An-Nukat dalam masalah khilaf, Al-Luma’ dan syarahnya, At-Tabshirah dalam tema ushul fiqh, Al-Mulakhkhash, Thabaqat Al-Fuqaha’, Al-Ma’unah fi Al-Jadal, dan lain-lain.

Perjalanan Menuntut Ilmu dan Murid-muridnya
Sebagaimana tradisi ilmu dari para ulama, sirah Syaikh Abu Ishaq juga tak luput dari perjalanannya menuntut ilmu. Beliau mendengar hadits dari para huffazh antara lain Abu Bakr Al-Barqani, Abu ‘Ali bin Syadzan, Abu ‘Abdillah Ash-Shuri, Abul Faraj Muhammad bin ‘Ubaidillah Asy-Syirazi dan selain mereka.

Abu Ishaq muda memulai rihlah menuntut ilmu menuju kota Syiraz dan bertafaqquh fiddin (mendalami agama dengan bermulazamah secara khusus) kepada Abu ‘Abdillah Al-Baidhawi, Abu Ahmad ‘Abdul Wahhab bin Ramin, kemudian di kota Bashrah mengambil ilmu dari Al-Kharazi. Abu Ishaq juga membacakan beberapa kitab fiqh di hadapan Abul Qasim Ad-Daraki, lalu membaca kitab ushul ahli kalam di hadapan Abu Hatim Al-Qazwini, sahabat Al-Qadhi Abu Bakr Al-Baqillani. Dengan demikian, beliau juga dinisbatkan pada kota Syiraz, tempatnya menuntut ilmu di masa-masa awal.

Pada bulan Syawwal tahun 415 H atau 418 H, Abu Ishaq datang ke kota Baghdad dan bermulazamah dengan Al-Imam Al-Qadhi Abu Ath-Thayyib Ath-Thabari, seorang kibar ulama di kota Baghdad, ahli fiqh dan termasuk kibar fuqaha’ madzhab Syafi’i di negeri ‘Iraq pada masa itu. Dengannya, Abu Ishaq muda belajar cabang-cabang ilmu Islam serta rajin mengulang-ulang pelajaran yang didapat demi menguatkan hapalannya.

Abu Ishaq bercerita, “Dahulu Aku mengulang setiap masalah qiyas sebanyak seribu kali, apabila aku telah menyelesaikannya, maka aku ambil qiyas dari masalah yang baru. Dan aku pernah mengulang setiap pelajaran sebanyak seribu kali, apabila dalam suatu masalah ada bait sya’ir yang menjadi syahid baginya, aku hapalkan seluruh qashidah yang didalamnya terdapat bait sya’ir tersebut.”

Karena inilah beliau melampaui orang-orang semasanya dan mengungguli semua kawan dan rekan sejawatnya, kepada beliaulah diserahkan kepemimpinan madzhab Syafi’i ketika beliau menulis kitab At-Tanbih dan kitab Al-Muhadzdzab dengan sikap zuhud, istiqamah dalam agama, ‘iffah (menjaga diri dari hal-hal haram serta syubhat), amanah, balaghah, kefashihan, riyadhah (melatih diri), serta samahah (kelapangan dada). Al-Imam Abu Ishaq adalah sosok yang fasih dalam bahasa Arab serta piawai dalam berdebat, kuat hujjahnya dan sulit ditandingi.

Di masa-masa awal dirinya mulai mengajar, Asy-Syaikh Abu Ishaq mengajar di masjid Bab Al-Maratib, hingga kemudian dibangunlah sebuah madrasah oleh wazir Nizham Al-Mulk yang bernama madrasah An-Nizhamiyyah, berlokasi di tepi sungai Tigris, setelah itu Syaikh Abu Ishaq pun berpindah mengajar disana. Diantara murid-muridnya adalah Abu Bakr Al-Khathib Al-Baghdadi Al-Imam Al-Hafizh (yang wafat mendahului gurunya), Abul Walid Al-Baji Al-Faqih, Abu ‘Abdillah Al-Humaidi (cucu cicit dari Al-Imam Abu Bakr Al-Humaidi, penulis Al-Musnad), Abul Qasim As-Samarqandi, Abul Mundzir Ibrahim bin Muhammad Al-Karkhi, Yusuf bin Ayyub Al-Hamadzani, Abu Nashr Ahmad bin Muhammad Ath-Thusi, Abul Hasan ‘Abdissalam dan selainnya. Beliau meriwayatkan hadits di Baghdad, Hamadzan, Naisabur dan di negeri-negeri yang lainnya.

Pujian Para Ulama dan Kisah-Kisah Mengenai Kehidupan
Al-Imam Syamsuddin Adz-Dzahabi berkata, “Abu Ishaq seorang yang zuhud, wara’, tawadhu’, cerdas, berakhlak mulia, dermawan, berseri-seri, selalu nampak ceria serta baik dalam berbicara.”

Al-Hafizh Abu Sa’d As-Sam’ani berkata, “Al-Imam Abu Ishaq Asy-Syirazi tak tersaingi dengan ilmunya yang melimpah bagai laut yang meluap bersamaan dengan eloknya biografi beliau dan thariqahnya yang diridhai. Dunia datang kepada beliau dalam keadaan terhina, lantas beliau mengabaikannya, membuangnya, dan membencinya.” Abu Sa’d berkata kembali, “Para pengajar di ‘Iraq dan Al-Jibal umumnya adalah murid-murid dan para pengikut beliau; Beliau menulis –dalam bidang ushul, furu’, khilaf dan madzhab- kitab-kitab yang bagi agama dan Islam sendiri bagai bintang-bintang nan bercahaya.

Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Diantara yang mengambil ilmu dari beliau adalah Al-‘Allamah Abul Wafa Ibnu ‘Aqil, sang pemilik beragam ilmu, ia bercerita, “Aku pernah menyaksikan syaikh kami Abu Ishaq, tidaklah beliau mengeluarkan sesuatu kepada fakir miskin melainkan beliau hadirkan niat terlebih dahulu. Dan tidak pula beliau membicarakan sebuah masalah melainkan terlebih dahulu ber-isti’anah kepada Allah ‘Azza wa Jalla serta mengikhlaskan niat dalam membela kebenaran. Beliau tidak menulis sebuah masalah melainkan setelah melakukan shalat 2 raka’at terlebih dahulu. Maka tak heran namanya begitu tersiar, tulisan-tulisannya tersebar luas dari timur hingga ke barat karena berkah dari keikhlasannya.”

Al-Hafizh Ibnu An-Najjar menghikayatkan dalam kitab Tarikh-nya, dari Abu Bakr Muhammad bin Ahmad bin Al-Hadhanah, ia berkata, “Aku pernah mendengar beberapa orang sahabat Syaikh Abu Ishaq berkata, “Aku pernah melihat syaikh shalat 2 raka’at ketika menyelesaikan setiap pasal dari kitab Al-Muhadzdzab.”

As-Sam’ani berkata bahwa ia pernah mendengar sebagian dari sahabat Abu Ishaq menceritakan, “Suatu hari, Syaikh Abu Ishaq memasuki masjid demi memenuhi undangan makan, lantas terjatuhlah beberapa dinar miliknya hingga beliau terlupa. Kemudian beliau tersadar dan ingat, beliau kembali ke masjid dan menemukan dinar tersebut, beliau merenung beberapa saat lalu berkata, “Barangkali dinar ini terjatuh dari orang lain.” Akhirnya beliau tidak jadi mengambilnya.

Dihikayatkan dari Al-Hafizh Abu Sa’d As-Sam’ani, ia berkata, Abul Qasim Haidar bin Mahmud Asy-Syirazi mengkhabari kami di kota Marwa, ia berkata, aku pernah mendengar Abu Ishaq menuturkan, “Suatu malam ketika aku sedang tidur di kota Baghdad, aku bermimpi melihat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam bersama Abu Bakr dan ‘Umar –radhiyallahu ‘anhuma-, lantas aku berkata, “Wahai Rasulullah, telah sampai kepadaku sejumlah hadits yang diriwayatkan darimu, dari orang yang meriwayatkan kepadaku, maka aku ingin mendengar langsung darimu sebuah hadits yang dengannya aku dimuliakan di dunia, dan aku jadikan ia tabungan untuk akhirat kelak.” Maka Rasulullah bersabda, “Wahai Syaikh!” –Abu Ishaq berkata, “Rasulullah memanggilku syaikh dan beliau berbicara denganku menggunakan panggilan tersebut!” Abu Ishaq senang dan merasa gembira dipanggil demikian- Rasul melanjutkan sabdanya, “Katakanlah dariku : Siapa yang menginginkan keselamatan, hendaklah ia mencarinya dari keselamatan orang lain.”

Al-Hafizh Ibnu Katsir menjelaskan mengenai mimpi Syaikh Abu Ishaq ini, “Mimpi yang beliau alami ini padanya terdapat beberapa tanda kebenaran, karena para fuqaha’ memang menyebut Abu Ishaq dengan Asy-Syaikh, dan apa yang beliau riwayatkan dalam mimpinya tersebut adalah kesaksian yang benar, yaitu sabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : Seorang muslim adalah orang yang kaum muslimin selamat dari lisan dan tangannya. Maksudnya, siapapun yang ingin menyelamatkan, maka hendaklah ia menyelamatkan manusia dari dirinya sendiri karena al-jaza’u min jinsil ‘amal, balasan setimpal dengan amal perbuatan.”

Dihikayatkan dari Syaikh Abu Ishaq, bahwa ada seorang laki-laki menghalau seekor anjing, lantas Syaikh Abu Ishaq berseru, “Diamlah! Ada jalan terbentang diantara kamu dengannya (Mengapa kamu halau dia?)”

Al-Imam Fakhrul Islam Abu Bakr Asy-Syasyi –dan dia termasuk murid Abu Ishaq- berkata, “Abu Ishaq adalah hujjah Allah atas para imam di zamannya.”

Al-Muwaffaq Al-Hanafi berkata, “Abu Ishaq adalah Amirul Mu’minin fil Fuqaha’.”

Dikatakan bahwa suatu ketika Zhahir An-Naisaburi hendak mentakhrij satu juz hadits kepada Syaikh Abu Ishaq, maka beliau berkata, “Abu ‘Ali bin Syadzan mengkhabari kami.” Dalam riwayat yang lain, “Al-Hasan bin Ahmad Al-Bazzaz mengkhabari kami.” Dan dalam riwayat yang lain, “Al-Hasan bin Abu Bakr Al-Farisi mengkhabari kami,” lantas Zhahir bertanya, “Siapa itu?” Abu Ishaq menjawab, “Dia adalah Ibnu Syadzan.” Zhahir menukas, “Aku tidak ingin satu juz ini, tadlis adalah saudara dari kedustaan.”

Al-Qadhi Abu Bakr Muhammad bin ‘Abdil Baqi bin Muhammad Al-Anshari bercerita, “Aku mendatangi Abu Ishaq di suatu jalan untuk meminta fatwa, maka beliau meminjam pena seorang tukang roti dan menulis fatwa, kemudian beliau menyeka pena tersebut pada kain bajunya.”

Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi tidak mempunyai harta kecuali sangat sedikit, karena sebab inilah beliau belum pernah menunaikan ibadah haji, walaupun jika beliau mau, beliau bisa saja memerintahkan orang-orang untuk membawanya di atas tandu menuju Makkah karena beliau adalah ulama terpandang di masyarakat. Tentang ini, Al-Hafizh Ibnu Katsir berkata, “Adapun kefakiran Syaikh Abu Ishaq, maka ini adalah udzur yang terang bagi beliau dalam hal tidak pergi berhaji, karena beliau miskin harta dunia sedari kecil hingga akhir umurnya, semoga Allah merahmatinya. Telah dihikayatkan darinya bahwa beliau berkata, “Aku pernah menginginkan makanan tsarid dengan minuman sari kacang di hari-hari kesibukanku menuntut ilmu, namun aku tak sempat memakannya karena sibuk belajar dan sedang mengambil giliranku (untuk talaqqi ilmu).”

Dikatakan, bahwa suatu ketika Syaikh Abu Ishaq melepas ‘imamahnya –yang seharga 20 dinar- dan beliau berwudhu’ di sungai Tigris. Datanglah seorang pencuri yang mengambil ‘imamah yang beliau lepas dan menukarnya dengan ‘imamah yang sudah jelek. Tak berapa lama naiklah beliau setelah selesai berwudhu’ dan mengenakan ‘imamah tersebut. Beliau tidak menyadari bahwa ‘imamahnya telah dicuri dan ditukar dengan yang sudah jelek hingga murid-murid menanyainya ketika beliau sedang mengajar. Syaikh Abu Ishaq menjawab, “Barangkali orang itu mengambilnya karena memang membutuhkannya.”

Konon, ‘Amid Ad-Daulah Ibnu Jahir Al-Wazir sering mengatakan tentang beliau, “Asy-Syaikh Al-Imam Abu Ishaq, orang yang tiada banding di masanya, tiada tara di zamannya, mustajab do’a-do’anya.”

Al-Faqih Abul Hasan Muhammad bin ‘Abdul Malik Al-Hamadzani menghikayatkan, ia berkata, “Suatu hari aku menghadiri sebuah acara bersama Qadhi Al-Qudhat Abul Hasan Al-Mawardi sebelum tahun 440 H, lantas Syaikh Abu Ishaq berbicara dengan tutur bahasa yang bagus. Tatkala kami keluar setelah acara selesai, Al-Mawardi berkata, “Aku belum pernah melihat orang seperti Abu Ishaq. Andai Asy-Syafi’i melihatnya, niscaya ia akan menyanjungnya.”

Al-Hafizh Abu Thahir As-Silafi berkata, “Aku pernah bertanya kepada Syuja’ Adz-Dzuhli mengenai Abu Ishaq, maka Syuja’ berkata, “Beliau imamnya ashhab madzhab Asy-Syafi’i dan orang yang paling diutamakan atas mereka pada waktu itu di Baghdad. Beliau seorang yang tsiqah, wara’, shalih, orang yang ‘alim terhadap pengetahuan khilafiyah dengan ilmu yang tak bisa disamai oleh seorang pun.”

Pada bulan Dzul Hijjah tahun 475 H, Amirul Mu’minin Al-Muqtadi bi Amrillah mendelegasikan Syaikh Abu Ishaq demi menyampaikan risalah kepada negeri-negeri di timur, keluarlah bersama beliau segenap tokoh-tokoh penting dari kalangan sahabatnya. As-Sam’ani menceritakan, “Ketika Syaikh Abu Ishaq keluar menuju Naisabur, sekelompok muridnya turut serta menemani beliau dan mereka adalah para imam dunia, seperti Abu Bakr Asy-Syasyi, Abu ‘Abdillah Ath-Thabari, Abu Mu’adz Al-Andalusi, Al-Qadhi ‘Ali Al-Mayanji, Abul Fadhl bin Bayan –ia qadhi kota Bashrah-, Abul Hasan Al-Amidi, Abul Qasim Az-Zanjani, Abu ‘Ali Al-Fariqi, dan Abul ‘Abbas Ar-Ruthabi.”

Setibanya di Naisabur, beliau disambut oleh masyarakat umum dan secara khusus oleh Imam Al-Haramain Abul Ma’ali Al-Juwaini yang merupakan kepala pengajar di madrasah An-Nizhamiyyah cabang Naisabur. Imam Al-Haramain membawa rombongan tamu-tamunya tersebut dan berjalan di depan Syaikh Abu Ishaq, seraya berkata, “Aku sangat bangga melakukan hal ini.”

Dikisahkan bahwa terjadi munazharah atau debat ilmiyah diantara Syaikh Abu Ishaq dan Imam Al-Haramain, maka Syaikh Abu Ishaq mengungguli Imam Al-Haramain dalam debat tersebut dengan hujjah-hujjah, dan karena penguasaan beliau atas metode berdebat dan bahts ‘ilmiyyah padahal Imam Al-Haramain sendiri tak kalah luas ilmunya, fasih bahasanya, ahli dalam berorasi, dan tahshil (pencapaian) ilmunya.

Dihikayatkan dari Syaikh Abu Ishaq bahwa beliau pernah berkata, “Aku pernah pergi menuju Khurasan dan tidaklah aku memasuki suatu negeri atau desa melainkan qadhi, khathib atau mufti daerah-daerah tersebut adalah muridku atau dari kalangan sahabatku.”

Al-Hafizh Ibnu An-Najjar menyebutkan bahwa tatkala Syaikh Abu Ishaq datang ke negeri-negeri ‘ajam, keluarlah para penduduknya bersama para istri dan anak-anak mereka menuju beliau, lalu para pembantu mereka pun mengusap dan mengambil tanah yang ada di kedua sandal beliau untuk berobat dengannya (mengambil keberkahan dari tanah dan debu yang ada di sandal beliau, -pent). Ketika beliau tiba di kota Saveh (sebuah kota yang terletak di propinsi Markazi, Iran), keluarlah para qadhi, fuqaha’ dan orang-orang yang ikut menyaksikan, yang kesemuanya adalah para sahabat sekaligus kenalan beliau dan mereka pun melayaninya. Konon, setiap orang meminta beliau untuk datang ke rumah agar mereka bisa bertabarruk dengan kedatangannya dan makan bersama beliau.

Abul Barakat ‘Abdul Wahhab bin Al-Mubarak Al-Anmathi berkisah, “Dahulu Syaikh Abu Ishaq kerap berwudhu’ di sungai, pada suatu hari beliau menuruni jalan setapak menuju sungai, lalu beliau mulai berwudhu’ namun beliau mengalami keragu-raguan ketika membasuh wajahnya, beliau pun mengulang-ngulangnya hingga membasahi salah satu bagian jubahnya. Lalu ada beberapa orang awam yang lewat dan menghampiri beliau, salah satu dari mereka berkata, “Wahai syaikh, tidakkah kau malu? Kau basuh wajahmu begini dan begitu padahal cukup sekali saja. Telah bersabda Nabi Shallallahu ‘alaihi wasallam : Siapapun yang menambahi wudhu’nya lebih dari 3 kali, sungguh ia telah melampaui batas.” Maka Syaikh Abu Ishaq berujar kepadanya, “Andaikan aku telah yakin dengan 3 kali basuhan, niscaya aku tidak akan menambahinya.” Setelah selesai, beliau pun berlalu dan meninggalkan orang tadi. Lantas temannya berkata, “Apa yang telah kamu katakan kepada syaikh yang sedang berwudhu’ tadi?” Orang tersebut menjawab, “Dia syaikh yang mengalami was-was, aku katakan kepadanya begini dan begitu.” Temannya bertanya, “Wahai kawan, tidakkah kamu mengenalinya?” Dijawab olehnya, “Tidak.” Temannya pun menjelaskan, “Beliau adalah imam dunia, gurunya kaum muslimin, dan mufti ashhab madzhab Syafi’i!” Terkejut, orang tersebut pun mengejar Syaikh Abu Ishaq dengan wajah memerah menahan malu, ia berkata, “Wahai tuanku, berilah ‘udzur kepadaku, sesungguhnya aku telah menyalahkanmu padahal aku tidak mengenalimu.” Syaikh Abu Ishaq menjawab, “Yang kau katakan itu benar karena memang tidak boleh menambahi basuhan melebihi 3 kali, dan jawabanku kepadamu pun benar, andaikan aku telah yakin dengan 3 kali basuhan, niscaya aku tidak akan menambahinya.”

Syaikh Abu Ishaq dan Unjuk Rasa Bersama Para Fuqaha’ Menentang Kemungkaran
Peristiwa ini terjadi pada tahun 464 H, bulan Jumadil Akhir. Al-Imam Ibnul Jauzi merekamnya dalam Al-Muntazham fi Tarikh Al-Muluk 16/139 :

Para fuqaha’ Hanabilah berkumpul di masjid Jami’ istana selama beberapa hari dan bergabunglah Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi beserta para sahabatnya bersama mereka. Mereka pun bangkit berunjuk rasa dan menuntut pemerintah untuk merubuhkan rumah-rumah prostitusi, mencari sumber-sumber kerusakan, menangkap orang-orang yang menjual nabidz, serta memberlakukan dirham sebagai alat tukar dalam akad qiradh. Amirul Mu’minin memerintahkan pelaksanaan tuntutan-tuntutan tersebut, maka hilanglah berbagai kerusakan, ditariklah nabidz-nabidz dari peredaran, dan beliau berjanji akan merubuhkan rumah-rumah prostitusi dengan menyurati ‘Adhud Ad-Daulah untuk melaksanakannya. Amirul Mu’minin juga memerintahkan untuk memberlakukan dirham sebagai alat transaksi mu’amalah.

Seseorang Melihat Syaikh Abu Ishaq Masuk Surga Dalam Mimpinya
Al-Hafizh Abu Sa’d Sam’ani berkata, “Aku pernah melihat lembaran kertas bertuliskan tulisan Abu Ishaq, padanya ada nuskhah yang memuat apa yang dilihat oleh Abu Muhammad Al-Mazidi : Pada malam Jum’at tahun 468 H, aku bermimpi melihat Abu Ishaq Al-Fairuzabadi sedang terbang bersama para sahabatnya di langit ketiga –atau keempat-, maka aku pun turut terbang berputar. Aku berkata dalam hati, “Itu beliau, Asy-Syaikh Al-Imam sedang terbang bersama para sahabatnya dan aku bersama mereka.” Aku tetap dalam pikiranku demikian ketika syaikh bertemu dengan malaikat, dan malaikat tersebut menyampaikan salam kepada syaikh dari Rabb Ta’ala, seraya berkata, “Sesungguhnya Allah mengucapkan salam atasmu,” dan malaikat melanjutkan perkataannya, “Apa yang kau ajarkan kepada sahabat-sahabatmu?” Syaikh Abu Ishaq menjawab, “Aku mengajarkan semua yang dinukil dari Pemilik syara’ (maksudnya adalah Allah ‘Azza wa Jalla).” Malaikat meminta kepada syaikh, “Bacakanlah kepadaku sedikit darinya agar aku mendengarnya.”

Kemudian syaikh membacakan sebuah masalah kepadanya yang aku tak bisa mengingatnya, malaikat pun mendengarkan lalu beranjak pergi. Setelah beberapa saat, malaikat itu pun kembali kepada syaikh dan berujar, “Sesungguhnya Allah berfirman : Kebenaran ada pada yang engkau dan para sahabatmu berdiri diatasnya. Maka masuklah surga bersama mereka.”

Selayang Pandang Mengenai Kitab Al-Muhadzdzab yang Penuh Berkah
Al-Hafizh Abul Fida’ Ibnu Katsir berkata, “Syaikh Abu Ishaq menulis kitab Al-Muhadzdzab dari kitab ta’liqah (atas kitab Mukhtashar Al-Muzani) karya Syaikh Abu Hamid Al-Isfirayini. Beliau memulai tulisannya dari tahun 455 H dan mengakhirinya pada hari Ahad di akhir bulan Rajab, tahun 469 H. Maka beliau menyelesaikan kitab tersebut dalam kurun waktu 14 tahun.”

Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi menjelaskan mengenai kitabnya, “Ini adalah kitab Al-Muhadzdzab. Aku sebutkan didalamnya –insya Allah- ushul dari madzhab Imam Asy-Syafi’i –semoga Allah merahmati beliau- dengan dalil-dalilnya dan apa yang menjadi percabangan atas ushul terhadap masalah-masalah yang mempunyai musykilah dengan ‘illat-‘illatnya.”

Yang dimaksud oleh Syaikh Abu Ishaq dengan ushul madzhab Asy-Syafi’i adalah nash-nash pada berbagai masalah fiqh dan induk hukum-hukum syar’iyyah, maka beliau menyebutkan hukum-hukum, kemudian beliau menjelaskan istidlal atas hukum-hukum tersebut dengan dalil-dalil dari Al-Qur’an Al-Karim, hadits-hadits yang mulia, ijma’, qiyas, hingga ta’lil dengan penalaran. Jadilah kitab Al-Muhadzdzab sebagai kitab yang terpenting dalam khazanah fiqh madzhab Syafi’i pada zamannya, sampai-sampai para ulama berdesak-desakan mengelilinginya sementara para penuntut ilmu menekuni kitab ini untuk mempelajari dan sebagai bahan pengajaran. Kitab ini pun menjadi rujukan tunggal untuk berfatwa dalam masalah-masalah madzhab hingga tiba masa Ar-Rafi’i dan An-Nawawi.

Oleh karena kitab ini begitu penting dan besar manfaatnya, maka sebagaimana sudah diketahui bersama dalam khazanah keilmuan dunia Islam, para ulama setelah Syaikh Abu Ishaq pun berlomba-lomba menulis kitab syarah (penjelasan) atas kitab Al-Muhadzdzab, baik syarah yang panjang berjilid-jilid maupun yang berupa mukhtashar (ringkasan) dengan mengambil poin-poin yang dianggap penting saja, ada juga syarah yang berupa penjelasan lafazh-lafazh yang dianggap gharib dalam kitab Al-Muhadzdzab. Diantara kitab-kitab syarah tersebut adalah :

  1. Fawa’id ‘ala Al-Muhadzdzab, karya Abu ‘Ali Hasan bin Ibrahim Al-Fariqi, beliau adalah murid Syaikh Abu Ishaq.
  2. Ahkam Al-Madzhab mimma Kharrajahu Shahib Al-Muhadzdzab, karya Muwaffaquddin Shalih bin Abu Bakr Al-Maqdisi.
  3. Al-Istiqsha’ li Madzahib Al-‘Ulama’ wa Al-Fuqaha’, karya Dhiya’uddin ‘Utsman bin ‘Isa Al-Marani.
  4. An-Nazhm Al-Musta’dzab fi Tafsir Gharib Alfazh Al-Muhadzdzab, karya Abu ‘Abdillah Muhammad bin Ahmad bin Muhammad bin Sulaiman bin Baththal Ar-Rukabi Al-Yamani, masyhur dengan nama Ibnu Baththal Ar-Rukabi. Kitab ini telah dicetak.
  5. Al-Mughni, karya ‘Imaduddin Isma’il bin Hibbatullah, terkenal dengan nama Ibnu Bathisy.
  6. Syarh Musykilat Al-Muhadzdzab, karya ‘Abdul ‘Aziz bin ‘Abdil Karim Al-Jaili.
  7. Al-Lafzh Al-Mustaghrab fi Syawahid Al-Muhadzdzab, karya Al-Imam Al-Faqih Abu ‘Abdillah Muhammad bin ‘Ali bin Abu ‘Ali Asy-Syafi’i.
  8. Al-Majmu’ Syarh Al-Muhadzdzab, karya Al-Imam Al-Muhaqqiq Muhyiddin Abu Zakariya Yahya bin Syarf An-Nawawi, namun beliau belum menyelesaikan tulisannya dan baru selesai hingga 9 jilid dan sampai pada bab Riba. Kemudian, Al-Imam Taqiyuddin ‘Ali bin ‘Abdil Kafi As-Subki meneruskan pekerjaan An-Nawawi, beliau menulis 3 jilid tambahan namun ternyata tidak selesai pula. Pekerjaan dua imam yang mulia ini diteruskan oleh Syaikh Al-‘Allamah Muhammad Najib Al-Muthi’i Asy-Syafi’i yang menulis 5 juz namun sayangnya beliau ditangkap oleh pemerintah Mesir dan dijebloskan ke dalam penjara. Setelah pemerintah membebaskan Syaikh Muhammad Najib, beliau kembali meneruskan tulisannya dan berhasil menambah 3 juz hingga selesailah kitab syarah tersebut. Kitab Al-Majmu’ ini telah dicetak dan merupakan kitab syarah Al-Muhadzdzab yang terpenting dan terlengkap, ia bukan hanya kitab yang mensyarah Al-Muhadzdzab saja, namun juga melingkupi kitab untuk madzhab Syafi’i secara keseluruhan bahkan ia adalah kitab ensiklopedi madzhab-madzhab para ulama, kitab hadits, kitab lughah ‘Arab, kitab tarikh dan kitab Al-Asma’.

Para ulama juga menaruh perhatian terhadap hadits-hadits yang terdapat pada kitab Al-Muhadzdzab. Al-Imam Sirajuddin Abu Hafsh Ibnul Mulaqqin mentakhrij hadits-haditsnya, sebelum beliau ada Al-Imam Abu Bakr Muhammad bin Musa Al-Hazimi yang membahas hadits-hadits tersebut. Kemudian Muhammad bin ‘Abdil Mun’im yang terkenal dengan nama Ibnul Ma’in Al-Manfaluthi Asy-Syafi’i mempunyai kitab yang bernama Thiraz Al-Madzhab fi Kalam ‘ala Ahadits Al-Muhadzdzab. Tak ketinggalan pula Jalaluddin Abu Bakr As-Suyuthi menulis kitab Al-Kafi fi Zawa’id Al-Muhadzdzab ‘ala Al-Wafi. Beberapa ulama juga menulis kitab ta’liq atas kitab Al-Muhadzdzab seperti Abu Sa’d bin Abu ‘Ishrun bin Muhammad Asy-Syafi’i yang menulis faidah-faidahnya, kemudian cucu beliau; Ya’qub bin ‘Abdirrahman bin Abu ‘Ishrun mengumpulkan faidah-faidah dari tulisan kakeknya, lalu menghimpunnya dengan Masa’il ‘ala Al-Muhadzdzab (kumpulan permasalahan atas kitab Al-Muhadzdzab).

Semoga Allah Ta’ala merahmati mereka semua, menerima amalan kebaikan dan mengampuni khilaf mereka, para ulama Islam yang telah banyak berjasa dalam menyebarkan ilmu. Aamiin.

Wafatnya Sang Mentari Dunia
Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi wafat di Baghdad pada malam Ahad, atau hari Ahad, tanggal 21 Jumadal Ula, atau ada yang menyebutkan Jumadal Akhir, tahun 476 H. Abul Wafa’ Ibnu ‘Aqil Al-Hanbali dan beberapa orang turut serta memandikan jenazahnya, dan shalat jenazah atas beliau terbagi menjadi dua gelombang; gelombang pertama diimami oleh Amirul Mu’minin Al-Muqtadi bi Amrillah, sedangkan gelombang kedua diimami oleh salah seorang sahabat Abu Ishaq yaitu Abu ‘Abdillah Ath-Thabari. Jenazah Syaikh Abu Ishaq dimakamkan di pemakaman Bab Abraz dan ribuan orang melayat jenazah beliau

Al-Imam Adz-Dzahabi menceritakan, “Para sahabat dan murid-murid Abu Ishaq duduk berta’ziyah di madrasah An-Nizhamiyyah. Tatkala ta’ziyah sudah selesai, Mu’ayyid Al-Mulk bin Nizham Al-Mulk menetapkan Abu Sa’d Al-Mutawalli sebagai pengajar (menggantikan Abu Ishaq Asy-Syirazi). Ketika berita ini sampai kepada Nizham Al-Mulk, ia menulis surat yang mengingkari tindakan tersebut, seraya berkata : Yang wajib sekarang adalah menon-aktifkan madrasah selama setahun karena sebab wafatnya Asy-Syaikh, dan mencela siapa saja yang berniat menguasai posisi beliau. Di kemudian hari, Nizham Al-Mulk memerintahkan Al-Imam Abu Nashr ‘Abdus Sayyid bin Ash-Shabbagh untuk mengajar disana (menggantikan posisi Syaikh Abu Ishaq).”

Al-Imam Adz-Dzahabi berkata, “Syaikh Abu Ishaq telah wafat, beliau tidak meninggalkan sepeser pun dirham, bahkan tidak memiliki dirham. Demikianlah beliau, seorang yang zuhud, tidak menikah –menurut informasi yang aku ketahui-, dan niatnya yang tulus kepada ilmu membuat tulisan-tulisannya tersebar luas di dunia, seperti Al-Muhadzdzab, At-Tanbih, Al-Luma’ fi Ushul Al-Fiqh, Syarh Al-Luma’, Al-Ma’unah fi Al-Jadal, Al-Mulakhkhash fi Ushul Al-Fiqh, dan selainnya.”

Diantara kata-kata mutiara warisan Syaikh Abu Ishaq adalah :

Ilmu yang tiada manfaat bagi pemiliknya adalah seseorang yang menjadi ahli ilmu namun ia tidak mengamalkan ilmunya.”

Orang bodoh mengikuti ahli ilmu. Apabila ada ahli ilmu yang tiada beramal, lantas apa yang bisa diharapkan si bodoh darinya? Maka demi Allah, demi Allah wahai anak-anakku, kita berlindung kepada Allah dari ilmu yang menjadi hujjah atas diri kita.”

Semoga Allah Ta’ala merahmati Syaikh Abu Ishaq Asy-Syirazi, menerima amalan-amalan dan ilmunya yang bermanfaat bagi umat serta mengampuni kekhilafan beliau. Aamiin.

 

 

 

 

 

 

Sumber: dari berbagai narasumber

 

Pengikut Mengenal Imam asy-Syirazi