Mengenal KH. Muhammad Amin Bin Abullah Koper, Kresek

Mengenal KH. Muhammad Amin Bin Abullah Koper, Kresek

LADUNI.ID - Beliau dilahirkan di kampung sepang Desa koper kecamatan kresek Kabupaten Tangerang Banten pada tahun 1899 M. berarti dua tahun setelah wafatnya syekh Nawawi At-tanara Al Bantani yang wafat di makkah al Mukarromah tahun 1897 M.

Beliau di lahirkan dari keluarga santri yang taat beribadah. Silsilahnya yang sampai ke syekh Ciliwulung Cakung dan Pangeran Sunyararas Tanara menjadi pertanda bahwa secara turun temurun mustika kesantrian itu melekat dalam diri Buya Amin.
Cakung adalah sebuah daerah perbatasan antara Serang dan tangerang sebagiannya masuk wilayah serang dan sebagian lagi masuk wilayah Tangerang. Pada zaman kesultanan Banten sampai akhir abad 18 cakung adalah pusat ilmu pengetahuan keislaman di daerah Banten. Para wali dan ulama banyak yang bermunculan dari daerah ini.

MASA KESANTRIAN SYEKH MUHAMMAD AMIN

Buya Amin sejak kecil dikenal sebagai anak yang cerdas dan giat belajar agama. Kakeknya yang bernama Ki Abdurahman ayah dari Ki Abdullah adalah pengelana dari jawa Timur. Menikah dengan Nyai Kati dan dikaruniai anak bernama Ki Abdullah yaitu ayah buya Amin. Dari kakeknya inilah mungkin menurun jiwa pengelanaan Buya Amin yang kemudian rajin berkelana menuntut ilmu ke berbagai pondok pesantren.

Tercatat beliau mesantren keberbagai pesantren di Banten di antaranya ke pesantren Kadulisung Pandeglang, pesantren Pasir bedil Rangkas Bitung, Pesantren Pelamunan asuhan Syekh tohir al Falamuni Al-Bantani dll. Di pesantren Pelamunan ada dua santri yang bernama Amin yang keduanya adalah murid kesayangan Syekh Tohir. Dikisahkan bahwa Syekh Tohir ingin menikahkan salah seorang putrinya dengan salah seorang dari dua Amin yang sama cerdasnya ini. Dengan pandangan bathin akhirnya Syekh Tohir memilih Amin yang satunya dan membiarkan Buya Amin Koper mendirikan pesantren di Koper. Rupanya Syekh Tohir mengetahui bahwa kelak Buya Amin Koper akan sangat dibutuhkan masyarakat di daerahnya.

Sebelum mesantren ke daerah luar, Buya Amin mesantren di daerah Kresek yang banyak terdapat ulama-ulama yang mumpuni seperti Syekh Muhammad Ramli (Murid dan Sepupu Syekh Nawawi Tanara) yang kemudian di angkat menantu oleh gurunya itu. Dari pernikahan dengan putri Syekh Muhammad ramli ini Buya Amin mempunyai anak KH. Ma’ruf Amin yang kelak menjadi Rais Aam PBNU.

Selain kepada syekh Muhammad Ramli, Buya amin juga di kresek nyantri kepada syekh Misbah di Koper. Buya Amin juga murid dari Syekh Sabi’un Ranca Sumur dan Habib Husen Jakarta.
Kehausan akan ilmu pengetahuan membawa Buya Amin menuntut ilmu di kota suci Makkah Al-Mukarromah sekitar tahun 1930. Pada tahun 1936 beliau pulang dari Makkah dan menikah dengan Nyai hajah Nurjannah dari serang. Kemudian setelah menikah mendirikan pondok pesantren di Koper, Kresek.

MENDIRIKAN PONDOK PESANTREN

Seperti dikisahkan sebelumnya, setelah pulang dari dari Makkah al Mukarromah dan menikah buya Amin mendirikan pondok pesantren di koper Kresek pada tahun 1936.
Berdatanganlah para santri dari berbagai daerah di Banten dan Jawa Barat di antaranya dari Tangerang, Bogor, serang, Karawang dan lain-lain.

Buya Amin dikenal para santri sebagai guru yang ikhlas dan tawaddu. Pancaran sinar keilmuan tergambar dari wajahnya yang penuh kesejukan.
Dikisahkan kecintaan dan kasih sayangnya kepada para santri kadang-kadang tergambar seperti melebihi cinta dan sayang untuk anak-anaknya sendiri. Tak jarang Buya memasak nasi goreng kemudian setelah matang diberikan untuk para santri. Beliau juga dikenal sangat memuliakan setiap tamu yang berkunjung ke rumahnya. Buya Busthomi Cisantri Pandeglang mengatakan setelah bertemu dengan Buya Amin: “Jiwa kerasku luluh ketika bertemu dengan Buya Amin, seorang yang alim yang ilmunya begitu tinggi tidak menampakan dirinya seperti layaknya orang yang ingin dimuliakan”. Buya Bushtomi menambahkan : “Saya belajar banyak dari kelembutan jiwa ulama Kresek seperti buya Amin”.

Para santri banyak yang mengisahkan sering sekali Buya ketika santri membaca kitab beliau Nampak tertidur, tapi ketika santri membaca ada yang salah beliau langsung membetulkannya. Memang hari dan malam buya, ketika tidak mengajar santri selalu diisi oleh ibadah dan memutalaah kitab-kitab.

 Banyak masalah-masalah umat yang datang kepada beliau yang harus dicarikan penyelesaiannya dari kitab-kitab mu’tabarah.
Pesantren Koper banyak melahirkan ulama-ulama yang menjadi tumpuan umat di antara murid-murid Buya Amin adalah KH. Syarbini pengasuh pondok pesantren Al-falah Kresek, KH. Nurzen pengasuh pesantren Al-Hikmah Pendawa Binuang, KH. Mahmud dan KH. Qalyubi pengasuh pesantren Manba’ul hikmah Renged Kresek, KH. Nawawi pengasuh pesantren Tarbiyatul Mubtadiin Pasir Nangka Tigaraksa, Syekh mufti asnawi pengasuh pesantren darul hikmah Srewu Cakung Binuang, KH. Humaid Endol Tanara pengasuh Majlis Ta’lim syekh Nawawi Tanara, KH. Ahmad Romli pengasuh pesantren Dangdeur Balaraja, KH. Kalyubi Mauk, KH. Munir Cikarang Bekasi, KH. Hasbullah binuang, KH. Syatibi Ampel, KH. Sayuti Bolang, KH. Nasihun Daon, KH. As’ad Bendung, KH. Syarif Kubang, KH. Rafiuddin Saga, KH. Sukama cikande, KH. Sukri Koper, KH. Marjani cijeruk dll.

PENGAJIAN SELASA DI ARRUHANIYAH
Buya Amin bersama H. Abdul Gani bin Muhammad adalah pencetus pengajian setiap hari selasa di masjid Agung Arruhaniyah kresek yang sudah berlangsung sejak sebelum merdeka hingga sekarang. Pengajian Selasa di Arruhaniyah adalah pengajian yang diikuti oleh para ulama dan kiayi dari berbagai daerah. Pengajian selasa adalah barometer masyarakat dalam bidang hokum islam. Fatwa-fatwa para muqri (pembaca kitab kuning) di pengajian selasa menjadi acuan dan pegangan. Hal demikian tentunya dikarenakan selain yang membaca, hadirin peserta pengajian juga mayoritas adalah para kiayi. Jadi akan sulit fatwa yang salah akan dibiarkan dalam pengajian selasa. Bisa dikatakan ijma ulama kresek, kronjo, gunung kaler, binuang, tanara dan sekitarnya terjadi di pengajian selasa masjid arruhaniyah kresek.

Saat buya Amin masih hidup, muqri pengajian selasa hanya Buya Amin sendiri. Para ulama lain segan membaca kitab di hadapan buya. fatwa-fatwa buya amin adalah rujukan sentral para ulama waktu itu. Ketabahurran Buya dalam berbagai disiplin keilmuan menjadikannya seorang ulama yang paripurna. Ia adalah seorang faqih yang sufi, mufassir yang muhaddis, dan nahwiy yang ushuli. Buya juga sangat mahir mengajarkan ilmu bayan, ma’ani dan badi’. Beliau juga sangat ahli dalam ilmu faraid.

Setelah beliau wafat, pengajian selasa diteruskan oleh murid kesayangannya yaitu Syekh Mufti bin asnawi pengasuh pesantren Darul Hikmah srewu Binuang. Sama seperti gurunya syekh Mufti bin Asnawi kemudian menjadi rujukan para ulama dan masyarakat dalam hokum islam. Ketika masa syekh Mufti bin Asnawi inilah dimulai pembaca kitab bukan hanya sendiri tapi juga melibatkan beberapa kiayi. Ketika syekh Mufti bin Asnawi wafat pada tahun 1432 H, pengasuh pengajian di emban oleh murid Buya Amin yang lain yaitu KH. Hamzah dari Gunung Kaler bersama para kiayi yang lain.

BUYA AMIN DAN AQIDAH AHLUSSUNAH WALJAMAAH

Aqidah Ahlussunnah waljamaah adalah aqidah mayoritas muslim dunia. Aqidah yang berlandaskan al-qur’an hadis, ijma dan qiyas para ulama. Pada awal abad 20, aqidah ahlussunah waljamah mendapatkan tantangan dari aqidah wahabiyah yang disebarkan oleh kerajaan Arab Saudi. Di Makkah yang pada waktu itu telah dikuasai oleh rezim wahabi, Buya amin tetap konsisten untuk berdiri tegak di bawah bendera Ahlussunnah wal jamaah. Beliau di Makkah berguru kepada para ulama yang masih memegang dengan kuat ajaran-ajaran ulama salaf dalam tradisi ahlussunnah waljamaah.

Ketika beliau pulang ke tanah air, di Indonesia telah terbentuk organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Ormas Islam NU adalah ormas yang membela mati-matian ajaran-ajaran ulama salaf dan tradisi pesantren yang tengah habis-habisan di serang oleh Ormas wahabi di Indonesia. Buya amin langsung masuk dalam ormas NU dan menjadi salah seorang ulama yang berdiri di front terdepan dalam melawan ajaran wahabi di Banten.

Ketika NU bergabung dengan Masyumi tahun 1943 Buya Amin aktif dalam Masyumi yang di ketuai hadratusyekh hasyim Asy’ari. Pada tahun 1952 NU keluar dari Masyumi dan mengikuti pemilu tahun 1955, dengan perjuangan Buya Amin dan ulama lainnya partai NU menang mutlak di Tangerang.
Pada malam terjadinya peristiwa pemberontakan PKI tanggal 30 september 1965, Buya Amin tengah melantik kepengurusan NU tingkat ranting sekecamatan kresek yang berlokasi di kemuning.
Pada tahun 1975 terjadi fusi antar partai islam ke dalam Partai Persatuan Pembangunan (PPP) Buya Amin pun sami’na wa ato’na untuk bergabung dengan PPP dan menjadi penasihat PPP Kabupaten tangerang. Kecintaannya kepada islam dan umat islam itulah yang membuat Buya Amin terus berjuang dalam organisasi NU yang berlandaskan islam ahlussunnah wal jamaah.

Ada tiga kiayi yang waktu itu sangat terkenal perjuangannya bagi ormas NU. Tiga kiayi ini adalah segitiga pager NU di Banten, (setelah priode KH. Abdurrahman Menes dan KH. Abdul latif cibeber) Mereka adalah KH. Abdul Kabir pengasuh pesantren Kubang Petir, KH. Muhammad Syanwani, pengasuh pesantren Sampang Tirtayasa, dan Buya Amin Koper, Kresek.

Tiga tokoh NU Banten ini sering sekali berhubungan untuk membicarakan strategi pertahanan kaum nahdliyyin dari serangan kaum Wahabi.
Pada muktamar NU di Situbondo tahun 1984 diputuskan bahwa NU kembali ke Khittah Ashliyyah Nahdliyyah 1926 dan tidak terjun ke dalam politik praktis. Sejak itulah Buya Amin mengurangi aktifitas keorganisasian dan memilih aktif mengawal umat dalam ubudiyyah kepada Allah Swt sampai beliau wafat pada tanggal 12 Rabiul Awal 1415 H.

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page