Haul Ayahanda Abu MUDI #3: Seuntai Doa untuk Al-marhum Tgk. H. Gadeng Ayahanda Abu MUDI

Haul Ayahanda Abu MUDI #3: Seuntai Doa untuk Al-marhum Tgk. H. Gadeng Ayahanda Abu MUDI

LADUNI. ID, KOLOM- Di celah-celah zikir kian menggema dan menyapa malam Jum’at yang berkah di penghujung bulan Safar yang terkenal dengan Rabu Abehnya walaupun tradisi itu yang dulunya mengajak keluarga dan masyarakat mandi ke laut kini telah di modifikasi untuk mengisinya berzikir dan berdoa serta sejenisnya.

Penulis mencoba untuk mengabadikan momen ini dari “Istana” berlantai empat dan terlihat “aura” jubah putih membahana menyapu malam yang sejuk dan ikut mendengarkan lantunan zikir yang di hadiri sang Mursyid dan Wakil Mursyid tarekat Naqsyabandiah itu.

Hampir dua jam lantunan zikir dan wirid yang menghiasi malam Haul ayahanda dari Masyaikhuna dan Ayah rohani kita bersama, nampak Al-Mukarram Al-Mursyiduna Wamurabbi sangat bersemangat dan syahdu bahkan terselip wajah serta senyuman indah dan bahagia berkat kiriman doa dan zikir untuk almarhum di Istana yang setiap saat hadir “paket” pahala dari anak rohaninya.

Namun zikir dan wirid bersama tidak lengkap tanpa untaian sekeping doa Khatam untuk almarhum. Beberapa saat acara hampir selesai, protokoler terdiam dan tidak tahu harus siapa yang melantunkan doa ini.

Sudah lumrah kala berkumpul masyaikh tentunya saling mengalah takdhim. Memang sejak dulu spesialis doa itu tetap milik Al-Mukarram Tgk. H. Muhammad Baidhawi atau akrab dipanggil Abiya Muhammad menantunya Al-Mursyid Abu MUDI.

Memang tidak salah dan sudah menjadi “kewajiban” untuk spesialis beliau sebagai sang ulama muda tasawuf, Abiya Muhammad putra Al-Marhum Tgk. Mukhtar Ulee Glee. Satu persatu untaian doa yang dipersembahkan seakan ada magnetik tersendiri menyentuh qalbu mereka yang menadahahkan dua tangannya.

Butiran doa Abiya sangat tersentuh jamaah yang mendengar lafal demi rangkaian kata-kata, untaian doa yang terucap mengalir ruhnya menembak qalbu kita bahkan tidak terasa butiran kecil terus membasahi dua bola mata. Terlebih mereka yang larut dalam samudera rabitah kala berdoa tidak terasa baju membasahi serpihan doa Abiya, sangat dahsyat dan menjiwai kala Abiya melantunkan doa.

Doapun berakhir dan ditutup shalawat. Rombongan Al-Mukarram Al-Mursyid Abu MUDI beserta keluarga meninggalkan Mesjid kebanggaan masyarakat Samalanga itu, azanpun berkumandang mengajak pasukan jubah putih bersiap untuk shalat Isya berjamaah.

Kita berharap semoga zikir dan doa yang kita pintakan bersama menjadi “oleh-oleh” berharga dan penyejuk untuk almarhum ayahanda guru kita Tgk. H. Gadeng bin Bulang yang telah menganugerahkan kepada kita mercusuar dan lampu menerangi menjalani jalan setapak meraih ridha-Nya menuju kampung halaman kelak nantinya. Tidak ada untaian yang paling indah selain ungkapan untuk almarhum “Allahumagfirlahu Warhamhu Wa’afuhi Wa’fu’anhu…. “.

- Di celah-celah zikir kian menggema dan menyapa malam Jum’at yang berkah di penghujung bulan Safar yang terkenal dengan Rabu Abehnya walaupun tradisi itu yang dulunya mengajak keluarga dan masyarakat mandi ke laut kini telah di modifikasi untuk mengisinya berzikir dan berdoa serta sejenisnya.

Penulis mencoba untuk mengabadikan momen ini dari “Istana” berlantai empat dan terlihat “aura” jubah putih membahana menyapu malam yang sejuk dan ikut mendengarkan lantunan zikir yang di hadiri sang Mursyid dan Wakil Mursyid tarekat Naqsyabandiah itu.

Hampir dua jam lantunan zikir dan wirid yang menghiasi malam Haul ayahanda dari Masyaikhuna dan Ayah rohani kita bersama, nampak Al-Mukarram Al-Mursyiduna Wamurabbi sangat bersemangat dan syahdu bahkan terselip wajah serta senyuman indah dan bahagia berkat kiriman doa dan zikir untuk almarhum di Istana yang setiap saat hadir “paket” pahala dari anak rohaninya.

Namun zikir dan wirid bersama tidak lengkap tanpa untaian sekeping doa Khatam untuk almarhum. Beberapa saat acara hampir selesai, protokoler terdiam dan tidak tahu harus siapa yang melantunkan doa ini.

Sudah lumrah kala berkumpul masyaikh tentunya saling mengalah takdhim. Memang sejak dulu spesialis doa itu tetap milik Al-Mukarram Tgk. H. Muhammad Baidhawi atau akrab dipanggil Abiya Muhammad menantunya Al-Mursyid Abu MUDI.

Memang tidak salah dan sudah menjadi “kewajiban” untuk spesialis beliau sebagai sang ulama muda tasawuf, Abiya Muhammad putra Al-Marhum Tgk. Mukhtar Ulee Glee. Satu persatu untaian doa yang dipersembahkan seakan ada magnetik tersendiri menyentuh qalbu mereka yang menadahahkan dua tangannya.

Butiran doa Abiya sangat tersentuh jamaah yang mendengar lafal demi rangkaian kata-kata, untaian doa yang terucap mengalir ruhnya menembak qalbu kita bahkan tidak terasa butiran kecil terus membasahi dua bola mata.

Terlebih mereka yang larut dalam samudera rabitah kala berdoa tidak terasa baju membasahi serpihan doa Abiya, sangat dahsyat dan menjiwai kala Abiya melantunkan doa.

Doapun berakhir dan ditutup shalawat. Rombongan Al-Mukarram Al-Mursyid Abu MUDI beserta keluarga meninggalkan Mesjid kebanggaan masyarakat Samalanga itu, azanpun berkumandang mengajak pasukan jubah putih bersiap untuk shalat Isya berjamaah.

Kita berharap semoga zikir dan doa yang kita pintakan bersama menjadi “oleh-oleh” berharga dan penyejuk untuk almarhum ayahanda guru kita Tgk. H. Gadeng bin Bulang yang telah menganugerahkan kepada kita mercusuar dan lampu menerangi menjalani jalan setapak meraih ridha-Nya menuju kampung halaman kelak nantinya. Tidak ada untaian yang paling indah selain ungkapan untuk almarhum “Allahumagfirlahu Warhamhu Wa’afuhi Wa’fu’anhu…. “.