Penambangan Liar Kali Comal Desa Sumur Kidang Kian Meresahkan, Begini Komentar Warga!

Penambangan Liar Kali Comal Desa Sumur Kidang Kian Meresahkan, Begini Komentar Warga!

LADUNI.ID, Pemalang - Penambangan liar batu split di sungai kali Comal, Desa Sumur Kidang, Kecamatan Bantar Bolang, Kabupaten Pemalang Jawa Tengah kian meresahkan warga. Pasalnya penambangan itu berdampak negatif pada lingkungan sekitar.

Menurut salah satu warga hal itu cukup meresahkan, karena beberapa kali warga sudah demo menolak penambangan itu, namun tidak ada tindakan dari aparat setempat.

"Beberapa kali informasi yang saya dengar sudah sering ditolak warga bahkan didemo," ujar Sofiatin, Selasa, (13/11/2018)

Menurut Sofiatin, dampak negatif yang terjadi adanya tambang tersebut menimbulkan lingkungan yang berada di sekitar penambangan terjadi perubahan ekologi.

"Kerusakan lingkungan seperti pencemaran air sungai yang tidak jernih lagi, polusi udara yang sudah tidak bersih lagi akibat penambangan, jalan yang berlubang akibat truk besar pembawa batu split, kekeringan yang diakibatkan penambangan batu split," tuturnya.

Dan, kata dia, hal itu mengubah sistem mata pencaharian masyarakat Desa Sumur Kidang yang dahulu masyarakatnya bekerja sebagai petani sekarang bekerja sebagai karyawan di penambangan. 

Selain itu lanjut dia, dampak penambangan batu split juga mengakibatkan pada tumbuhan maupun hewan yang ada.

"Misalnya berpindah tempat atau berkurangnya pohon pinus, lumut hijau, alang-alang, rumput-rumputan, ikan, ular dan sebagainya," ucapnya.

"Meski ada dampak negatif ada juga kok dampak positifnya yaitu membuka lowongan kerja dan penghasilan bagi penambang. Yah meski buat segelintir orang saja sih," sambungnya.

Awalnya, ungkap Sofiatin, penambangan dilakukan secara swadaya oleh warga, tetapi belakangan ini dilakukan oleh PT dengan proses pengelolaan batu split pertama batu sungai yang diambil dari sungai, lalu batu tersebut dinaikkan ke unlover.

Unlover merupakan mesin pemecah batu yang menghasilkan batu split, batu pasir. 

"Unlover sekali memproduksi satu truk batu sungai hanya dengan memakan waktu 10-15 menit. Kapasitas mesinnya dengan daya 5250 kwh. Beban tumbuk split mencapai 3 ton. PT Varian Prima Perkasa sehari bisa memproduksi 10.000 kubikasi," bebernya.

Dari kuantitas yang semakin besar jelas, lanjut sofiatin, penambangan tersebut makin memperbesar kerusakan lingkungan.

Menurutnya hal itu sudah viral di media dari bulan oktober.  "Jadi apakah penambangan ini akan ada penertiban dari pemda kab. Pemalang?," pungkasnya sambil berharap.

(pnj/srf)