Konsultasi Psiokologi: Bagaimana Cara Menyadarkan Anak yang Sudah Terjebak Pada Penyuka Sesama Jenis

Konsultasi Psiokologi: Bagaimana Cara Menyadarkan Anak yang Sudah Terjebak Pada Penyuka Sesama Jenis

Selamat pagi/siang/malam

Saya mau cerita tentang anak saya. Saya punya anak perempuan, saat ini umurnya sekitar 20 tahun. Anak saya salah pergaulan hingga akhirnya terjebak pada pergaulan sesama jenis.  Saya sudah berusaha untuk menyadarkan tapi tidak berhasil. Apa yang harus saya lakukan ya, Pak? Apakah saya harus mengikuti kemauan anak saya yang suka sesama jenis, atau saya mengarahkan kembali biar normal?Oh iya, sekedar informasi, anak saya ini tomboy sekali, bahkan penampilannya sudah seperti laki-laki. Terima kasih, Pak.

Ibu N

Jakarta

Jawaban:

Selamat pagi/siang/malam, Bu..

Ibu N yang berbahagia..... Terima kasih sudah berbagi dengan kami, Bu.. Permasalahan yang dihadapi Ibu ini termasuk masalah yang sensitif. Satu sisi masalah hubungan sesama jenis saat ini sedang mulai marak dibincangkan, di sisi lain fenomena ini dalam budaya dan mayoritas agama yang ada di Indonesia tidak bisa menerima. Alih-alih kita ingin mengarahkan kepada yang benar, kalau tidak hati-hati justru kita dianggap melanggar HAM. Namun demikian, kita mesti memiliki satu pijakan dan sikap yang teguh dalam menyikapi masalah seperti ini.

Baca Juga: Bagaimana Tips Agar Keluarga tetap Harmonis dan Tambah Mesra

Hubungan sesama jenis berkaitan dengan orientasi seksual seseorang. Apakah hal ini bisa disebut abnormal? Jawabannya bisa berbeda-beda tergantung kriteria apa yang digunakan. Jika menggunakan buku panduan yang berisi gangguan mental terbitan APA (American Psychiatrist Association) permasalahan gay dan lesbian memang tidak dikategorikan sebagai gangguan mental. Namun bukan berarti bahwa perilaku tersebut normal.

Karena salah satu kriteria abnormalitas yang bisa dipakai adalah bertentangan dengan norma (violations of norms). Satu perilaku dianggap abnormal jika bertentangan dengan norma yang berlaku. Kalau homoseksual terjadi di Jerman, Belanda atau Amerika hal itu dianggap normal karena norma di sana menerimanya. Namun jika ini terjadi di Indonesia yang mana normanya menolak homoseksual, berarti perilaku homoseksual di sini tetap dianggap abnormal, karena bertentangan dengan norma yang berlaku.

Berbekal pijakan bahwa homoseksual (gay atau lesbian) itu abnormal, maka kita perlu membuat kondisi itu kembali menjadi normal. Dengan kata lain, putri Ibu semestinya diarahkan untuk kembali normal. Berusahalah untuk memberikan pemahaman dari sisi agama, bahwa perilaku itu dibenci Tuhan dan mendatangkan dosa.  Paralel dengan itu, berikan pemahaman bahwa hakekat penciptaan manusia adalah untuk meneruskan keturunan dan berkembang biak. Jika ananda memilih untuk menjadi lesbian, sadarkan bahwa pilihannya tidak akan mengantarkannya kepada hakekat kemanusiaan yaitu memiliki keturunan. 

Bangkitkan dalam dirinya tentang hakikat dan kodratnya sebagai seorang perempuan, dimana seorang perempuan kodratnya adalah hamil, melahirkan, menyusui dan mengasuh anak. Lakukanlah itu berulang-ulang. Tentunya ini membutuhkan kesabaran dan kekuatan. Selain itu, cobalah untuk membatasi pergaulan ananda, terutama dari komunitas sesama lesbian. Syukur-syukur kalau Ibu bisa mendapatkan sosok yang bisa diterima oleh ananda untuk membantu menyadarkannya. Dan yang terakhir adalah sering-sering mendoakan dan mohon doa dari orang-orang yang dekat dengan Tuhan. Semakin banyak doa yang dipanjatkan, maka kemungkinan untuk dikabulkannya juga semakin besar.

Mungkin itu yang bisa saya sampaikan Bu.. Semoga masalah ini cepat terselesaikan dengan sebaik-baiknya penyelesaian...

Salam hormat,

DR. Muhammad Fakhrurrozi, M,Psi