Ini Tanggapan China Soal Penahanan Muslim di Xinjiang

Ini Tanggapan China Soal Penahanan Muslim di Xinjiang

LADUNI.ID, Jakarta – Dilansir dari laman Reuters, Selasa (13/11), Menteri Luar Negeri China Wang Yi mengatakan, dunia seharusnya mengabaikan ‘gosip’ tentang Xinjiang dan mempercayai otoritas setempat. Dia berharap, dunia bisa mendukung pemerintah Xinjiang dalam memerangi terorisme dan ekstremisme.

“(Orang-Orang) seharusnya tidak mendengarkan gosip atau rumor tersebut, karena pemerintahan Xinjiang, tentu, memahami di Xinjiang dengan baik, bukan orang atau organisasi-organisasi lain,” kata Wang yang State Councillor, Selasa (13/11).

Menurut Wang Yi, apa yang dilakukan pemerintah Xinjiang sejalan dengan apa yang juga dilakukan oleh komunitas internasional. Yakni mencegah dan memerangi ektremisme dan terorisme.

“Jika kita bisa melakukan pencegahan, maka akan menjadi tidak mungkin bagi terorisme untuk menyebar dan mengakar,” jelas Wang Yi.

Oleh karena itu, Wang Yi berharap agar orang-orang memahami dan mendukung apa yang tengah dilakukan pemerintah Xinjiang dalam mengakhiri penyebaran ekstremisme dan mewujudkan stabilitas sosial.

PBB dan organisasi hak asasi internasional sebelumnya menuduh China telah ‘menahan’ satu juta Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya di 'kamp-kamp interniran' di Xinjiang.

Kendati demikian menurut penjelasan Human Right Watch, di ‘kamp-kamp tahanan itu,’ Muslim Uighur dan lainnya dilarang mengucapkan salam. Mereka harus mempelajari bahasa Mandarin dan menyanyikan lagu-lagu propaganda. Jika menolak instruksi yang ditetapkan, mereka akan dihukum seperti tidak mendapatkan makanan, berdiri selama 24 jam, atau ditempatkan di ruang isolasi.

Bahkan, negara-negara Barat seperti Jerman, Prancis, Kanada, Amerika Serikat (AS) mendesak China agar menutup kamp-kamp di Xinjiang tersebut.

Kendati begitu, China terus menyangkal telah melakukan penahanan dan kekerasan secara sistematis kepada Muslim Uighur dan minoritas Muslim lainnya di kamp-kamp di Xinjiang. Mereka berdalih, kamp-kamp tersebut dimaksudkan sebagai tempat ‘pendidikan ulang’ dan pusat pelatihan kejuruan untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

Otoritas China menyebut kalau Xinjiang tengah menghadapi ancaman dari militan dan kelompok separatis. Oleh karenanya, kamp-kamp tersebut juga difungsikan sebagai sebagai tempat untuk menderadikalisasi mereka yang terpapar paham ekstremisme.