Soal Bendera Tauhid, PBNU Minta Pemerintah Tegas

Soal Bendera Tauhid, PBNU Minta Pemerintah Tegas

LADUNI, ID. JAKARTA - Katua Umum PBNU Prof. Dr. KH. Said Aqil Sirajd mengatakan bahwa PBNU secepatnya secara resmi akan menghadap Kapolri, Panglima dan Mendagri meminta ketegasan terkait keberadaan bendera (kalimat tauhid) yang masih berkibar di Indonesia. “Bagaimana sikap mereka. Ini jangka dekatnya,” ujarnya saat diskusi di Jakarta, Kamis (15/11).

Sedangkan jangka menengah, kata Kiai Said, PBNU akan menggelar Munas dan Konbes NU di Patoman pada ahir Februari 2019. Dan salah satu bahasan utamanya adalah bagaimana hukumnya mengibarkan bendera tauhid (La ila ha ilallah muhamad rasulullah). Dan semoga nanti keputusannya bisa di dengar semua ormas, MUI dan untuk semuanya agar di terapkan di Indonesia. “Dan sekali lagi saya tegaskan bahwa MUI bukan atasan NU, dan NU bukan di bawahnya MUI,” tegasnya

Kiai Said juga menyesalkan klaim sepihak terkait bendera (kalimat tauhid) dari FPI pasca pertemuan antar ormas yang digelar Menkopolhukam di Jakarta beberapa hari lalu. “Sebenarnya kemarin masalah sudah reda, sudah mulai adem ayem pasca putusan pemerintah tentang pembubaran HTI. Akan tetapi kembali rame, karena memang ada yang ingin meramaikan lagi,” ujar Doktor jebolan Universitas King Abdul Aziz dan Ummul Qurra Makkah ini

Dijelaskan Kiai Said, dalam pertemuan kemarin antara pimpinan ormas yang digelar Menkopolhukam, HTI di undang, FPI di undang dan ormas lainnya, dalam pertemuan itu intinya untuk menentramkan dan mempersatukan semua ormas. Namun, di ahir pertemuan FPI malah mengeluarkan statmen sepihak bahwa pemerintah “memperbolehkan” bendera tauhid berkibar di bumi nusantara.

“Statmen itu bohong dan tidak benar sama sekali, itu hanya klaim FPI saja. Dan kalaupun benar itupun sumbernya dari Dirjen Polhukam ketika itu Pak Sumarsono yang mengatakan “kalau tidak ada tulisan Hizbut Tahrir, itu bendera tauhid namanya, kalau ada tulisannya itu bendera HTI”. ungkap Kiai Said

Padahal, lanjut Kiai Said, dalam pertemuan itu, sama sekali tidak menyinggung kembali perkataan itu, sama sekali. “Eh, malah FPI ngungkit-ngungkit kembali perkataan itu, ya akhirnya jadi rame lagi, panas lagi, Apalagi kalau sampai reuni 212 terjadi, kemungkinan besar bendera-bendera (tauhid) akan berkibar kembali,” pridiksinya

Soal Liwa’

Kiai Said mengatakan bahwa Rasulullah SAW tidak pernah mempunyai bendera (liwa’) kecuali saat perang. Dan liwa’ berwarna putih hanya dipegang oleh panglima perang, sedangkan yang hitam namanya royah di ujung tombak bertuliskan “nasrum minallah wa fathun qorib”.

Dikatakan Kiai Said, kalau soal warna liwa’ dalam sejarahnya Rosulullah pernah memakai bendera dengan bermacam warna, pernah bendera warna abu-abu saat perang dengan bani Mustolib, perang dengan bani Sulaib memakai bendera warna merah, dan kuning. “Wal hasil, Rosulullah tidak punya bendera tertentu. Jadi, ngak bener kalau benderanya Rasulullah itu tertentu, misal hitam saja, putih saja, tidak seperti itu,” ungkapnya

Begitu juga soal tulisan, kata Kiai Said, tulisan di bendera Rasulullah memakai khat Kufi. Tidak bagus kayak milik bendera sekarang, karena memang belum ada ilmu khot. “Jadi, bohong kalau ngomong bendera itu milik Rasulullah, dan salah kalau yang mengatakan itu bendera tauhid,” pungkasnya. (hud)

Tags