Teungku Chiek di Pasi #7: Weng Tube Bisa Berjalan

Teungku Chiek di Pasi #7: Weng Tube Bisa Berjalan

LADUNI. ID, ULAMA- Berulang kali masyarakat menyaksikan, bahwa dusta itu menghancurkan diri sendiri.

 Seseorang yang bersalah, tetapi tidak mau mengakui kesalahannya, kemudian mengangkat sumpah seraya diletakkan Quran tulisan tangan beliau di atas kepala sambil berdiri di atas sebuah batu bopeng (batee siprok), badannya terkoyak-koyak. 

Al-Qur’an tulisan tangan beliau dikenal dengan Seureubek. Sangat banyak karamah waliyullah tersebut dalam kehidupan sehari-hari yang tidak sempat di diceritakan dalam tulisan.

Salah seorang penulis Zarkasyi Yusuf dalam karyanya menyebutkan beberapa karamah Teungku Chik Di Pasi. Di antaranya, beliau menceritakan bahwa pada suatu hari ketika beliau pulang menuju Waido, beliau singgah sebentar di kawasan Gampong Blang kecamatan Simpang Tiga.

Saat itu karena merasa kehausan beliau meminta seteguk air tebu yang sedang diperas oleh salah seorang penduduk gampong Blang tersebut, persisnya di Keude Gampong Blang sekarang.

 Air tebu yang diperas warga tadi akan dimasak menjadi manisan, air tebu diperas dengan menggunakan weng teubee (alat peras) yang ditarik oleh kerbau.

Tengku Chik menghampiri warga tersebut dan meminta sedikit air tebu yang diperasnya, orang tadi tidak mau memberikannya dengan alasan air tebunya mau dimasak untuk manisan dan bukan untuk diminum, mendengar jawaban tersebut Tengku Chik langsung bergegas pulang menuju Waido.

Dalam perjalanan pulang beliau tanpa sengaja menoleh ke belakang, terlihat weng tubee tadi mengikutinya tanpa ditarik oleh kerbau, sungguh aneh!

 Melihat hal itu beliau berhenti dan berujar kepada weng teubee tersebut “alah hai meutuah, bek lee ka seutot lon” 
(Wahai meutuah (sapaan mulia yang digunakan untuk menyapa) jangan engkau ikuti saya lagi).

Setelah mengucapkan kata-kata tersebut, weng teubee tadi berhenti dan Tengku Chik pun meneruskan perjalanannya pulang ke Waido. Weng teubee sekarang bisa dijumpai di kawasan antara gampong Blang dengan Waido. (Zarkasyi Yusuf, Kisah Hidup Aulia, 2011).[]