Ali Hasymy #1: Sosok Ulama Lintas Zaman dan Peradaban

Ali Hasymy #1: Sosok Ulama Lintas Zaman dan Peradaban

LADUNI.ID,ULAMA- Salah seorang sejarawan, ulama dan tokoh masyarakat Aceh yang mempunyai banyak karya juga perannya di dunia pendidikan Aceh, beliau adalah Ali Hasymy.  Nama lengkapnya Muhammad Ali bin Hasyim bin Abbas, merupakan anak dari pasangan suami-istri Teungku Hasyim dan Nyak Buleuen.

Dia Lahir di Lampase Kecamatan Montasik Kabupaten Aceh Besar pada tanggal 28 Maret 1914, bersamaan dengan meletusnya Perang Dunia I. Nama Muhammad Ali bin Hasyim bin Abbas, kemudian beru bah menjadi Ali Hasjmy atau lebih dikenal dengan A. Hasjmy.

Ali Hasjmy anak tertua dari delapan bersaudara kandung dari satu Ayah lain ibu. Tujuh di antara delapan orang bersaudara merupakan hasil perkawinan Teungku Hasyim dengan Syarifah, yang anaknya terdiri dari Ainal Mardhiah, RohanaSyahbudin, Asnawi,Fachri, Nurwani, dan Fachmy.

Sedangkan Ali Hasjmy merupakan anak dari hasil perkawinan Teungku Hasyim dengan Nyak Beuleun. Dan Ali Hasjmy mempunyai dua saudara kandung seayah dan seibu, tetapi kedua saudaranya yaitu  laki-laki dan  perempuan meninggal ketika bayi.

 Kala Ali Hasjmy masih berusia empat tahun, ibunya meninggai dunia, sejak itu Ali Hasjmy menjadi piatu. Karena kesibukan ayahnya sebagai saudagar kain dan penjual ternak yang sering mondar-mandir ke Medan, Ali Hasjmy ketika masa kanak-kanak lebih dekat dengan neneknya Nyak Putin.

Nenek inilah yang mengasuhnya secara adat Aceh. Kepandaian nenek Puteh tulis baca huruf Arab, menjadi modal baginya untuk mengajar cucunya Ali Hasjmy mengaji dan mengenal huruf Arab.

Sang nenek juga selalu menanamkan dasar-dasar agama yang kuat dan sering menceritakan peristiwa-peristiwa heroik peperangan kakeknya melawan Belanda, demikian juga Hikayat Perang Sabi yang kemudian Ali Hasjmy menghafal dan menyairkannya. Melalui asuhan neneknya inilah pada diri Ali Hasjmy tertanam motivasi untuk membaca roman dan buku-buku sejarah.

 Di samping itu, ia selalu menaruh rasa permusuhan kepada Belanda yang telah menjajah dan membunuh kakeknya di medan pertempuran. Oleh karena itulah, sejak kecil Ali Hasjmy tidak mengenal kompromi dengan Belanda. Meskipun ayahnya sibuk dengan pekerjaanya, tetapi perhatianya terhadap pendidikan  anak-anaknya tidak terlepas dari tanggungjawabnya sebagai orang tua, terutama perhatiannya di bidang pendidikan agama bagi putra-putrinya.

**Helmi Abu Bakar El-Langkawi,Penggiat Literasi Asal Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga.

Sumber: Muhammad Nazir, Perspektif Metode Dakwah Islam Studi Analisis Pemikiran Ali Hasjmy, 2014