Amir Husein Al-Mujahid, Kharisma Sebagai Ulama Mujtahid dan Mujahid

Amir Husein Al-Mujahid, Kharisma Sebagai Ulama Mujtahid dan Mujahid

LADUNI.ID -  Di awal tahun 1311 H bulan Muharram/1900 M di desa Blang Siguci Idi Rayeuk Aceh Timur, lahir seorang putra dari pasangan suami istri yaitu Amir Suleiman dan Cut Manyak binti Muhammad Yusuf bin Syech Yakub bin Syeckh Abdussalam. Anak yang diberi nama Amir Husein (kemudian mashur dengan Tgk. Amir Husein Almujahid/ayah Mujahid) oleh kedua orang tuanya mengalir perpaduan darah timur tengah murni, bangsawan dan pahlawan Aceh. Ayahnya berasal dari negeri para “Mullah” (Persia sekarang Iran) sedangkan ibunya berasal dari negeri Yaman.
Ibarat pepatah “buah jatuh tidak jauh dari pohonnya” seolah mengilustrasikan kepribadian Amir Husein yang terlahir dari aliran nadi bangsa dengan tingkat fanatisme Islamnya yang kental dan kerap bergolak, mengkristal pada sosoknya yang kemudian hari tumbuh menjadi seorang anak dengan rasa sosial yang tinggi, mencintai agama, bermental ksatria dan terkenal berani.

Adapun pemberian nama Amir diambil dari garis keturunannya yang berasal dari pihak ayah; Persia dan Husein merujuk pada kebiasaan bangsa Persia dalam pemberiaan nama putra mereka sama dengan nama cucunda nabi Muhammad SAW. 

Masa kanak-kanak dan latar belakang pendidikan
Dua tahun berselang, ayahandanya (Amir Sulaiman) meninggal dunia. Amir Sulaiman yang selama ini menjadi tumpuan asa dan curahan tempat berkeluh kesah keluarga meninggalkan seorang istri bersama dua putra dan putri yaitu Cut Fatimah dan Amir Husein. 

Di tengah kesendiriannya, Cut Manyak tetap tegar dan berusaha keras menapaki hidup membesarkan Amir Husein dan Cut Fatimah seorang diri. Ikhlas melakoni tanggung jawab sebagai “ayah ngen mak” sekaligus, Cut Manyak berhasil melewati masa sulit hingga Amir Husein pun memasuki masa kanak-kanaknya. Keseharian Amir Husein diisi dengan bermain dan mengaji di malam hari. Satu hal yang menarik, dikalangan sahabatnya Amir Husein dikenal memiliki rasa kesetiaan dan simpati yang berlebih terhadap semua orang sehingga ia begitu dicintai oleh teman-temannya. Kendati demikian waktu luangnya lebih banyak dimanfaatkan untuk membantu ibunya di rumah.

Oleh ibunya Amir Husein mulai diperkenalkan Al- Qur’an dan dasar-dasar Islam. Saban hari, ibunya senantiasa mengajarkan Juz Amma dan tertib pelaksanaan shalat pada Amir Husein. Selanjutnya di usia 7 tahun ia mulai mengeyam pendidikan dasar pada Volkschool Blang Guci dan Dayah Pulo Blang Idi yang didirikan oleh Teungku Chik Muhammad Idris Ahmad Tanjongan Al-Rumi. (Fauzi, 2016:09).

Dari catatan sejarah, Amir Husein kerap berpindah tempat dalam menuntut ilmu, ini dikarenakan sifat Amir Husein yang tidak betah diam pada satu tempat saja (Hasjmy, 1997:135). Sumber lain menyebutkan (wawancara dengan anak laki-laki tertua Amir Husein tanggal 21 Desember 2017) sikap tersebut disebabkan karena perbedaan pemikiran/pendirian Amir Husein terhadap lembaga pendidikan tersebut. Selain itu Amir Husein juga pernah menimba ilmu pada Dayah Cot Meurak Bireun, Dayah Blang Kabo, Geudong, Dayah Blang Jruen, Dayah Hasbiyah Indrapuri Aceh Besar hingga berguru selama 20 tahun pada seorang ulama besar nan kharismatik pimpinan Dayah Kruengkale yaitu Teungku Haji Muhammad Hasan Kruengkale.

Sepintas penulis sajikan pengalaman unik nan jenaka dari Amir Husein selama menimba ilmu yang diceritakan langsung pada anaknya. H. T. Zubair Almujahid, mengisahkannya demikian: “Disaat abah sedang belajar di dayah Hasbiyah Indrapuri, terlintas keinginan abah untuk pulang kampung di Idi Rayeuk Aceh Timur. Keterbatasan biaya tidak menyurutkan niat abah untuk pulang.” Amir Husein dengan nalurinya cerdik menganjurkan sahabatnya Usman Bakar Perlak untuk mengikuti ajakannya tidur terlentang di ruas jalan. Tanpa menunggu waktu lama sebuah kendaraan mewah milik Residen Belanda mampir dan memberikan tumpangan pada kedua santri tersebut. Sepanjang perjalanan seisi mobil Residen Belanda riuh terbahak mendengar kisah Amir Husein. Singkatnya,  sesampainya di idi, Amir Husein dan Usman Bakar diberikan hadiah ƒ1000 (Gulden Belanda) dengan pesan; “Pergunakanlah uang itu untuk belajar dan sebagian berikan untuk ibu”.         

Tak hanya itu, Amir Husein selama belajar di dayah Hasbiyah Indrapuri diberikan “mandat” oleh panitia lembaga dayah sebagai santri yang bertugas mencari bantuan dana untuk pembangunan dayah yang mana hal tersebut mengantarkan Amir Husein, sahabatnya Usman Bakar dan Abubakar Aceh ke berbagai daerah di luar pulau Sumatra sampai Singapura dan sempat memperoleh wejangan dari Sultan Alaiddin Muhammad Daud Syah (dalam Hasjmy, 1997:136). Yang pada akhirnya, pertemuan tersebut menginspirasi Amir Husein dan kawan-kawan untuk melakukan gerakan perlawanan menentang pendudukan bangsa penjajah Belanda di bumi para aulia.
Sekembali dari perantauan, Amir Husein yang selalu merasa kehausan akan ilmu Agama Islam kembali meneguk ilmu di Madrasah Maslurah Tanjung Pura, Langkat.

Usaha Memajukan Pendidikan
Tampaknya sisi jiwa pembaharunya mulai terlihat tatkala Amir Husein selesai menimba ilmu agama Islam di berbagai tempat. Di fase awal, perubahan yang mendasari langkah Amir Husein adalah motivasinya untuk mengembangkan dunia pendidikan dengan mendirikan sebuah lembaga pendidikan Madrasah Nadhatul Islam dan sekaligus menjadi tenaga pengajar selama satu tahun di kampungnya Blang Siguci Idi (1932) dengan tujuan agar putra-putri daerah bisa mendapatkan pendidikan Islam sebagai modal pembentukan karakter.
Kebiasannya yang mobiler serta kecintaannya yang mendalam pada dunia pendidikan menggiring tekadnya ke berbagai daerah untuk mendirikan

serta mengajar ilmu Agama Islam. Mengenai hal ini, Ali Hasjmy ( dalam Hasjmy, 1997: 135) mencatatnya sebagai berikut:
1.  1932 :  Mengajar di Madrasah Diniyah Kelapa Satu, Sigli,
2.  1933 :  Mengajar pada Madrasah Diniyah Meulaboh,
3.  1935 :  Mengajar pada Madrasah Islam Langsa dan Tualang Cut,
4.   1936:  Mendirikan dan Mengajar pada Madrasah MADANI Kampung Aceh, Idi,
5.   1937:  Mendirikan dan Mengajar pada Madrasah mujahidin Blang Rambong Keude Geurobak, Idi Rayeuk.

Dan Seiring waktu, di tahun 1963, Amir Husein yang begitu bercita-cita memajukan dan mengembangkan dunia pendidikan di Aceh kembali dituangkannya pada pembangunan sebuah Lembaga Perguruan Tinggi Islam Darussunannah hingga pada akhir hayatnya lintas asa tersebut pun diaktualisasikan pada penghibahan/wakaf tanah seluas 6 (empat) hektar milik pribadinya sebagai lokasi pembangunan Lembaga Pendidikan Tinggi Islam Darussunnah yang terletak di desa Kampung Dalam Kecamatan Karang Baru, Aceh Tamiang. 

Gerakan Perlawanan
Sepuucuk urat kiriman Amir Husein, diterima oleh Ali Hasjmy yang saat itu sedang menuntut ilmu di Madrasah Thawalib, Padang Panjang. Surat yang bermaksud mengajak para sahabatnya mendukung perjuangan beliau untuk memperbaharui sistem pendidikan Islam selanjutnya melakukan gerakan perlawanan terhadap kekuasaan Hindia Belanda. (dalam Hasjmy, 1997:132). Bak gayung bersambut, surat itu mendapat tanggapan senada dari teman-temannya bahwa sekembali dari studi akan turut bergabung berjuang melawan belanda.

 Sementara itu pada tahun 1358 H/5 Mei 1939 organisasi PUSA terbentuk atas inisiatif dari Teungku Abdurrahman Meunasah Meucap dengan mengangkat Teungku Muhamad Daud Beureueh sebagai ketuanya. Dan di tahun yang sama PUSA menyelenggarakan kongres I di Kuta Asan Sigli. Kongres yang berlangsung alot dan hadiri para pembesar PUSA dari berbagai daerah ditambah kehadiran para tokoh dari luar Aceh untuk menyatukan misi dengan membentuk sebuah organisasi pemuda yang kemudian dikenal dengan Pemuda PUSA. Kongres ini menobatkan Teungku Amir Husein Almudjahid sebagai ketua Pemuda PUSA.

Walaupun tujuan bentukan Pusa Dan Organisasi Pemuda Pusa dibentuk dengan tujuan “memanejerialkan” atau tepatnya menyatukan ulama dalam satu pemahaman dan kehendak dalam bertindak khususnya di bidang pendidikan, akan tetapi pada kenyataannya PUSA dan Pemuda PUSA berkamuflase aktif bergerak dalam bidang politik memperjuangkan kemerdekaan.
Pasca Republik memproklamirkan kemerdekaan tahun 1945, suasana politik di Aceh terbelah dua. Antara barisan Nasionalis dan Status quo. Bermula dari intel (laporan) hasil interogasi Goh Moh Wan dan salinan tanda tangan para “Borjuis” (uleebalang) Aceh pada pertemuan Majelis Besar Uleebalang di Lamlo tahun 1945 yang menyepakati tentara sekutu mendarat di Aceh (dalam Fauzi, 2016:44).

Khawatir dengan umur kemerdekaan yang masih prematur, Amir Husein Almujahid dengan sigap mempersiapkan gerakan rakyat yang dibentuk untuk mengakomodir seluruh kekuatan rakyat yang tergabung dalam Tentara Perjuangan Rakyat (TPR). Perlu dicatat, gerakan revolusi ini bertujuan selain menjaga keutuhan dan kedaulatan bangsa dari watak rakus negeri penjajah juga untuk menghapus dominasi uleebalang pada sistem pemerintahan yang pada dasarnya milik rakyat.  
  
Sikap patriotik tanpa akhir.
Menyiasati berbagai kemungkinan buruk, Amir Husein Almujahid bersama sahabat dan tokoh ulama terus mendengungkan perjuangan untuk menjaga serta mempertahankan kemerdekaan republik yang dengan susah payah telah diraih. Maka dari itu dibentuk bentuklah tiga buah divisi lasykar rakyat , yaitu:

1.  Divisi Teungku Chik Di Tiro pimpinan Teungku Muhammad Daud Beureueh
2.  Divisi Rencong pimpinan Nyak Neh, M.Saleh Rahmany dan A.Hasjmy
3.  Divisi Paya Bakong pimpinan Teungku Amir Husein Almudjahid.    

Ahmad Fauzi menyebutkan Pasukan Berani Mati Divisi Teungku Chik Paya Bakong bertugas disamping menjaga ladang minyak di Peurelak dan Tamiang juga dipersiapkan untuk menghadang pasukan Sekutu dan Jepang yang sewaktu-waktu masuk ke Aceh. (dalam Fauzi, 2016:55). Terkait mengenai ladang minyak di Aceh dan Sumatra Utara, penunjukan kuasa atas Amir Husein Almujahid oleh pemerintah RI untuk berdelegasi dengan pemerintah Belanda menghasilkan kekecewaan bagi pihak Belanda karena Amir Husein Almudjahid menolak menyetujui pemberian tambang minyak Aceh dan Sumatera Utara kepada perusahaan minyak belanda (BPM).

Alhasil, usaha lepas dari belenggu pun berhasil tercapai hingga tambang minyak Aceh dan Sumatera Utara tetap menjadi milik pemerintah RI dan menjadi modal awal bagi PT Pertamina dalam mengembangkannya menjadi perusaahaan raksasa milik Negara Republik Indonsesia dikemudian hari.   
 

Pencapaian Asa
Amir Husein Almujahid semasa hidupnya telah merealisasikan harapannya (seuntai harapan yang sedari remaja menjadi impiannya). Diawali dari perjuangannya yang mendambakan perubahan terhadap dunia pendidikan di Aceh hingga kiprahnya dalam upaya perjuangan meraih mata air kemerdekaan. Amir Husein Almujahid dilukiskan sebagai seorang pejuang yang akan senantiasa menginspirasi generasi setelahnya untuk mencintai ilmu, memaknai hidup dalam lentera Islam, menjadi sumbu penerang dan mengisi nikmat kemerdekaan dengan bekal diri yang  berkekuatan spiritual dan bermarwah.    

Cita-cita yang hanya dimiliki oleh seseorang guru, pemimpin, negarawan dan penggerak perubahan yang dianalogikan laksana lilin oleh sahabatnya (dalam Hasjmy, 1997:144)