Terkait Penemuan KTP Elektronik, Mendagri: Database Kependudukan Aman

Terkait Penemuan KTP Elektronik, Mendagri: Database Kependudukan Aman

LADUNI.ID,JAKARTA - Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tjahjo Kumolo menegaskan penemuan Kartu Tanda Penduduk Elektronik (KTP-el) tidak berpengaruh kepada database kependudukan. Karena menurut Tahjo pelaku hanya menjual blangko KTP-el dan tidak dapat mengakses data kependudukan.

“Blangko KTP-el yang diperdagangkan tidak bisa digunakan layaknya kartu identitas asli, sebab KTP-el hanya dapat dicetak oleh jajaran Kependudukan dan Catatan Sipil (Dukcapil) yang memiliki mesin cetak khusus yang sudah diprogram, dan memiliki hak akses database kependudukan,” kata Mendagri di Jakarta, Senin (10/12).

Menurut Jahjo Mengenai ditemukannya 2.158 keping KTP-el di dalam karung di daerah Duren Sawit, Jakarta Timur, beberapa waktu lalu, sampai saat ini masih dalam proses penyelidikan pihak kepolisian, baik pelaku  maupun motifnya.

Namun dia menduga ada unsur kesengajaan karena KTP rusak tersebut dibuang di tempat yang mudah terlihat oleh masyarakat. Jarak waktu peristiwanya hanya berselang sehari dari terbongkarnya kasus penjualan 10 blangko via online yang sekarang sedang dilacak oleh kepolisian.

Karena itu lanjut Tahjo mengacu pada kedua kasus KTP-el tersebut, pihaknya menyampaikan upaya pencegahan agar kejadian serupa tidak terulang. 

Pertama, secara internal Ditjen Dukcapil Kemendagri dan jajaran di bawahnya melakukan penguatan pelaksanaan Standar Operasional Prosedur (SOP) pengelolaan KTP-el. Pengawasan secara berjenjang diperketat.

Kedua,  secara eksternal perlu adanya peran serta masyarakat secara proaktif melaporkan setiap temuan pemalsuan, penyalahgunaan, dan praktik pemalsuan dokumen negara dalam hal ini KTP-el, dan dapat melaporkan ke Hotline 15000537.

Ketiga, gunakan card reader dan hak akses data kerjasama dengan Dukcapil. 
Keempat, semua KTP-el yang sudah tidak terpakai harus  dipotong agar secara fungsional tidak dapat digunakan lagi, tungkas Tjahjo.

Sementara itu Kapuspen Kemendagri Bahtiar menyampaikan penegasan kembali bahwa dari dua kasus tersebut diduga kuat adalah murni tindak pidana terkait KTP-el. Pertama, Pencurian 10 Blangko KTP-el yang dijual online sudah berhasil diungkap oleh pihak kepolisian.

Kedua, adanya oknum yang secara sengaja membuang KTP rusak atau invalid produksi tahun 2011, 2012 dan 2013 di daerah Duren Sawit Jakarta Timur, patut diduga ada  upaya guna memperkeruh suasana, apalagi menjelang Pemilu Serentak 2019.

“Kita percaya kepada pihak kepolisian yang sedang mengusut tuntas dan menangkap para pelaku. Masyarakat dan kita semua harus waspada adanya aktor   yang sedang bermain yang sengaja memanaskan situasi saat ini,” pungkas Bahtiar.