Biografi Syaikh Hasan Ma’sum

Biografi Syaikh Hasan Ma’sum

Syaikh Hasan Ma’shum ini lahir di Labuhan Deli, Sumatera Utara pada tahun 1300H/1882M, Syekh Hasan Ma'sum merupakan sufi dari Tarekat Naqsyabandiyah, meskipun ada klaim bahwa ia juga menganut Tarekat Khalwatiyah. Sebagai sufi tidak membuat Syekh Hasan pasif terhadap kehidupan sosial, bahkan politik. Dalam bidang sosial, ia mendedikasikan diri kepada organisasi Al Jam'iyatul Washliyah dan Al Ittihadiyah sebagai dua organisasi kaum tua yang sangat patuh terhadap fikih Syafi'iyah. Syekh Hasan menilai bahwa Islam akan dapat dikembangkan oleh umat Islam melalui lembaga-lembaga keagamaan secara kolektif.

Syekh Hasan Ma'sum yang merupakan teman sejawat Syekh Muhammad Zain Nuruddin Batu Bara di Makkah, Ulama besar Nusantara asal Batubara, Sumatera Utara, salah seorang murid Syekh Mukhtar ibn Atharid al-Bughuri. Selain itu, adapula sahabatnya yang lain bernama Syekh Abdul Hamid bin Mahmud Asahan, Syekh Hasan Ma'sum dan Syekh Abdul Hamid Mahmud Asahan keduanya adalah murid dari Syekh Ahmad al-Fathani.

Sedangkan dalam bidang politik, ia menerima tawaran Sultan Kesultanan Deli untuk menjabat sebagai mufti Kesultanan. Sosoknya dikenal sebagai seorang yang berilmu pengetahuan luas, mengajar di madrasah kesultanan, karier dan reputasinya kian cemerlang, hingga akhirnya Sultan Deli saat itu, Sri Sultan Ma’moen al-Rasyid Perkasa Alamsyah (memerintah 1879-1924 M), melantiknya sebagai mufti dan qadhi Kesultanan Deli. Pada awalnya, ia menolak dengan sejumlah alasan, namun akhirnya ia menerima amanah itu, sejak saat itulah ia mendapat gelar Imam Paduka Tuan. Ia juga mengajar di Masjid Raya, Masjid Kesultanan Deli.

Syekh Hasan Ma’shum Deli terus berkhidmah sebagai pengajar sekaligus mufti Kesultanan Deli hingga wafat, di Medan, pada usia kurang lebih 53 tahun, menurut perhitungan tahun masehi, yakni pada hari Kamis, 24 Syawal 1355 H/7 Januari 1937 M, setelah berbulan-bulan menderita penyakit, dan dimakamkan di perkuburan Masjid Raya al-Mashun, tidak jauh dari Istana Kesultanan Deli. Menurut dokter, kebiasaan membaca sampai menjelang subuh membuat urat yang menghubungkan ke otaknya tertutup. Wafatnya Syekh Hasan Ma'shum, bukan saja dirasakan pilu oleh keluarga, murid-muridnya. Begitu juga oleh Al Jamiyyatul Al Washliyah bahkan seluruh ummat Islam di Indonesia dan di luar Indonesia.

Karya-karya Tulisnya:

1.      Kutufatussaniyah : Berbicara Tentang Talaffus dengan niat.
2.      Samirussahibyan : Berbicara Tentang Fiqih.
3.      Tazkirul Muriddin : Bahagian Tasawuf.
4.      Dhararul Bhayan : Menerangkan Tauhid.
5.      Fathul wudud : Menyatakan salah keadan niat.
6.      Tankihuz zunun : Berbicara masalah maimun.
7.      Targhibul mustakim : Berbicara mendirikan Jum’at
8.      Isfa’aful Muridin : Berbicara Rabithah.
9.      Maqalatun Nafiyah : Berbicara Kabliyah Jum’at.
10.  Sarimul Mumayyiz : Berbicara takliq dan Ijtihat.
11.  Ittihaful Ikhwan : Berbicara Kaipiyat Yassin, Mumfariyah, Ratib hadad, Doa.
12.  Jadwal Buat Mengetahui Waktu.
13.  Natiyah Abadiyah : untuk mengetahui awal waktu dan lain-lain.
14.  Durrul –Muhazzab : Berbicara Rubu’ Mudyaijab dalam bahasa Arab.
15.  Nubzatul- Lukluiyah : Menerangkan Rabithah, dengan bahasa Arab.
16.  Sullamus –Salikin : Bacaan wirid
17.  Kaifiat dan Salsilah Talkin Zikir : ( Khusus).


 

 


Sumber: Dari Berbagai Sumber

 

Info lengkap tentang biografi ulama, silakan buka di http://wiki.laduni.id/Main_Page