Pesantren / Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee Mewisudakan 1000 Lebih Santri

Pesantren / Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee Mewisudakan 1000 Lebih Santri

LADUNI.ID.Aceh - Dayah Darul Ihsan Krueng Kalee  di Siem, Darussalam  Kabupaten Aceh Besar, Provinsi Aceh, tidak lekang karena panas dan tidak lapuk karena hujan, terus membangun generasi masa depan dengan memantapkan fondasi mental dengan ilmu agama menangkal zaman golbalisasi yang makin keras meruntuhkan sendi-sendi kehidupan agama seseorang.

Seiring  waktu yang tak pernah berhenti berputar, tiada terasa dalam usia belasan tahun 2006 hingga 2018 Dayah Darul Ihsan sudah mewisuda seribu lebih santriwan dan santriwati.

"Alhamdulillah, sejak 2006 sampai 2018 kita sudah mewisudakan lebih dari seribu santriwa n-santriwati, yang sekarang sudah lulus di berbagai perguruan tinggi, baik di dalam maupun luar negeri," papar Tgk Musannnif.

Kepada  media ini dua hari lalu di Darussalam Aceh Besar,  Tgk H Musannif Sanusi, SE, Ketua Yayasan Abu Hasan Krueng Kalee yang juga Wakil Ketua Komisi VII DPR Aceh, membidangai Agama, Budaya dan Pariwisata ini mengaku prihatin di zaman sekarang ini, terjadinya pergaulan bebas atas penyimpangan hasrat seksualitas yang memperihatinkan,  makin merajalela pengguna narkoba, perlu upaya kita membentengi generasi penerus  bangsa  dengan ilmu agama  (Islam-red)

Karena itu Musannif yang juga Ketua DPC Partai Persatuan Pembangunan Kabupaten Aceh Besar ini mengharapkan semua lulusan dayah Darul Ihsan ke depan menjadi agen ilmu dan agen perubahan untuk menata kehidupan generasi muda yang kian hari semakin memprihatinkan.

"Kita lihat kehidupan dunia luar dayah, pergaulan bebas, narkoba dan penyimpangan hasrat seksual sangat memperihatinkan. Semoga mereka ( lulusan  -red) yang telah menempuh pendidikan di dayah mampu menjaga diri dari arus yang membahayakan itu," ujarnya.

Menurut Musannif, dalam tahun 2018, Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, mewisuda 124 lulusan pada Minggu (15/4). Kegiatan Haflah Takharuj atau Wisuda angkatan ke-13 ini berlangsung di halaman komplek Dayah, Gampong Siem, Kecamatan Darussalam, Aceh Besar.

Adapun peraih terbaik lulusan  tahun 2018 dengan prediket mumtaz diraih oleh Filzah Jannati santriawati asal Aceh Besar, disusul oleh Alvia Hasli Ramadhan santriwati asal Nagan Raya, dan Khalida Akmalia Nurhen asal Aceh Besar.

Lulusan  Diharuskan  Lulus UAD dan Hafal 3 Juz Alquran

Dijelaskan Musannif , tahun ini ada puluhan santri yang tidak lulus, disebabkan beberapa hal yang bersifat akademis dan juga catatan pelanggaran di pengasuhan. 

“Terkadang Kepala Sekoah (Mudirul Makhad -red) beserta majlis guru, dengan berat hati mengambil keputusan itu. Tapi ini mesti dilaksanakan, demi untuk kebaikan generasi ke depan,” ungkap kata Musannif. 

Adapun persyaratan wisuda, tambahnya, harus  mampu menghafal Alquran 3 juz  tidak termasuk juz Amma, lulus Ujian Akhir Dayah (UAD), menulis paper ilmiah, dan tidak melakukan pelanggaran berat selama di dayah.

Bagi santriwan dan santriwati  yang belum dapat diwisuda di 2018, kata Musannif, bukan berarti hidupnya gagal, namun inilah konsekwensi hidup, jika kita banyak mewaqafkan waktu untuk ilmu, maka sebanyak itu juga kita bisa meraih ilmu," ujarnya.

 

Profil Dayah :  Cerita Dayah Krueng Kalee Terlahir

Teungku Haji Muhammad Hasan tahun 1916  kembali dari Mekah,  mendirikan  Dayah Krueng Kalee. Semangat baru dibawanya dari Mekah dan dorongan keras di usianya tergolong muda, baru 30 tahun, dia mencoba membangun kembali Dayah Krueng Kalee dalam arti yang sungguh-sungguh, sehingga dalam waktu yang singkat dayah Krueng Kalee telah menjadi sebuah pusat pendidikkan Islam yang besar di Aceh.

Santri-santri dayah tersebut bukan hanya putra daerah sekitar, akan tetapi juga berasal dari luar daerah seperti dari Riau, Jambi dan Minangkabau.

Santri di Dayah Krueng Kalee diatur menjadi dua kelompok. Mereka adalah santri mukim dan santri kalung. Santri mukim ialah para santri yang menetap dan tinggal di pondok dayah (asrama) yang terdapat di kompleks dayah. Mereka berasal dari daerah-daerah di luar kecamatan Darussalam dan berasal dari luar Aceh.

Santri kalung adalah para santri yang berasal dari desa-desa sekitar lokasi dayah. Para santri ini hanya datang pada jam-jam belajar saja. Waktu belajar bagi santri mukim adalah mulai dari pukul 08.00 WIB pagi sampai dengan pukul 12.00 WIB siang, dan kemudian istirahat.

Pelajaran dimulai kembali pada pukul 15.00 WIB sampai pukul 18.00 WIB petang, dan pada jam 16.30 WIB salat ashar, sesudah itu mereka istirahat dan salat maghrib, kemudian sesudah salat isya mereka belajar kembali.

Dalam proses pembelajarannya, Dayah Krueng Kalee menganut metode terpadu, yaitu keterpaduan antara pendidikan umum dengan pendidikan agama. Meski demikian, porsi pembelajaran pendidikan agama lebih tinggi dari pendidikan umum. Untuk kurikulumnya, dayah ini menggunakan kitab-kitab kuning sebagai bahan rujukan dan pembelajaran.

Pendidikan

Dayah Darul Ihsan Abu Hasan Krueng Kalee, Siem Aceh, Darussalam, Aceh Besar setiap tahun kalender pendidikan membuka peluang bagi putra-putri Aceh dan dari luar Aceh jenjang MTS dan MA untuk mendalami bahasa Arab, bahasa Inggris dan Kitab Kuning (Arab Gundul).

Fasilitas

Fasilitas Pondok Pesantren di  Dayah Darul Ihsan dilengkapi dengan Masjid, asrama santri, kantor, asrama pengasuh, dapur, gedung sekolah, lapangan, koperasi santri, perpustakaan, laboratorium komputer, laboratorium bahasa, gudang, kamar mandi/wc, klinik kesehatan. Lembaga Pendidikan

Ekstrakurikuler

Seni baca Al-Qur’an, marawis, baca kitab kuning, pidato, pramuka, komputer, bahasa asing, kaligrafi, silat, basket, voli, sepakbola.

Sumber :  Pesantren/ Dayah Darul Ihsan