Waled Nuruzzahri Samalanga Sang Pendidik Mengikuti Ala Imam Syafi'i

Waled Nuruzzahri Samalanga Sang Pendidik Mengikuti Ala Imam Syafi'i

LADUNI.ID, ULAMA- Dalam “Manaqib Syafi’iyah” Imam Baihaqi menuturkan kisah murid Imam Asy-Syafi’i yang terkenal lambat pemahaman serta tumpul ingatan dan hafalan, berkat dorongan sang imam, sang murid kelak menjadi murid senior yang disegani di Mesir.

Hafalan dan ingatan di bawah rata-rata tidak membuat sang murid minder. Ia bahkan aktif mengikuti pengajian sang imam pada fase Mesir.

Syehk Muhammad Awwamah dalam “Ma’alim al-Irsyadiah” menyebutkan. Suatu ketika dalam sebuah majlis, Imam Syafi’i pernah mengulang-ulang sebuah materi sampai empat puluh kali khusus untuk muridnya itu, tapi ia tidak mampu menangkapnya. Akhirnya ia keluar dari majlis karena malu dengan jamaah lainnya.

Melihat sikap murid tersebut sang imam membangun hubungan baik dengannya. Bahkan, tutur Syehk Awwamah, Imam Syafi’i menyelipkan namanya dalam khulwah di sepertiga malam. Sang imam mendoakan muridnya agar diberikan pemahaman dan dikuatkan ingatan dan hafalnnya. Walhasil sang murid menjadi murid seniornya di Mesir. Murid tersebut bernama Muhammad Rabi’ Al-Muradi.

Wejengan Imam Syafi’i di atas ditulis dalam tinta sejarah. Beliau bagian dari ulama yang telah menyumbang jasa besar berupa teladan dalam mendidik. Sehingga kisah sang imam menjadi teladan para ulama era modern dalam mendidik santri-santrinya.

Guru kita, Waled Samalanga, bagian dari ulama kontemporer yang sangat dekat dengan anak didiknya. Kepakarannya yang dikenal sebagai alim fikih dan memangku jabatan Raisy Syuriah Nahdhatul Ulama Wilayah Aceh tidak membuatnya berjarak dengan muridnya. Bahkan beliau meluangkan waktu mendidik santrinya secara bergiliran dari kelas satu sampai kelas enam setiap minggu di subuh hari.

Di setiap pengajian, waled menemukan anak-anak yang memiliki bakat menterang. Lalu anak-anak tersebut dijadikan ketua kepada anak-anak lain dalam mengulangi pelajaran. Beliau selalu mendorong anak didiknya untuk melecutkan semangat menyabet cita-cita dengan bakat yang dimilikinya. Ketika anak-anak tersebut tidak hadir dalam halaqah ilmu, beliau menanyakan keberadaan dan keadaannya.

Apabila sedang sakit, beliau meminta bagian kesehatan pesantren memboyongnya ke rumah sakit. Apabila seorang anak jadi ingat kampung halaman, menjadikannya malas belajar, waled memanggilnya, lalu mengelus-elus kepala sambil merapalkan beberapa potongan ayat Alquran.

Begitulah sosok Waled Samalanga, membumikan peutuah Imam Syafi’i dalam hidupnya. Momen dalam vidio di bawah ini saya rekam saat sedang bekerja tadi sore (Minggu, 27/1) di Dayah Ummul Ayman Samalanga Aceh.

Dikutip dari Facebook Abdul Hamid M. Jamil