Keikutsertaan Prof Quraish Shihab dalam Pertemuan Persaudaraan Manusia di UAE

Keikutsertaan Prof Quraish Shihab dalam Pertemuan Persaudaraan Manusia di UAE

LADUNI.ID, Uni Emirat Arab - Hari Senin lalu (5/2) adalah hari yang sangat bersejarah karena ditandatanganinya Deklarasi Abu Dhabi. Deklarasi itu disebut sebagai ‘Dokumen Persaudaraan Manusia untuk Perdamaian Dunia dan Hidup Berdampingan’. Deklarasi itu ditandatangani oleh Imam Besar Al-Azhar, Dr. Ahmed At-Tayyeb dan Paus Fransiskus. Deklarasi ini merupakan hasil atas acara Pertemuan Persaudaraan Manusia yang digelar di Uni Emirat Arab. Acara ini dihadiri oleh 400 pemimpin keagamaan.

Salah satu yang hadir pada acara tersebut adalah Prof. Dr. M. Quraish Shihab, ulama dan pakar tafsir Al-Quran. Quraish Shihab hadir dalam kapasitas sebagai anggota Majelis Hukama’ Al-Islam/ Moslem Elders Councils (Majelis Orang-orang Bijak Muslim), sebuah organisasi yang bertujuan untuk menghindarkan kekerasan-dalam bentuk apapun, serta mengedepankan dialog sambil menegaskan bahwa perbedaan pendapat harus dihormati walaupun tidak menyetujuinya.
Quraish Shihab juga memberikan ceramah yang berjudul *Persaudaraan Manusia: Tantangan dan Kesempatan*.

Dalam ceramah di hadapan para pemimpin keagamaan tersebut, Quraish Shihab mengawali sambutannya dengan mengutip pernyataan imam Ali kepada Gubernur Mesir pada masanya “manusia terbagi dalam dua kelompok; saudara denganmu dalam agama/ seagama, dan setara denganmu dalam kemanusiaan”

Quraish Shihab mengemukakan ikatan kebersamaan dalam agama tidak menafikan ikatan persaudaraan antar manusia. _”*_Agama dan kemanusiaan berdampingan untuk menciptakan kehidupan yang damai dan harmoni”._

Ungkapan ini sejalan dengan pesan-pesan Al-Qur’an yang menegaskan pentingnya menjaga persaudaraan, bukan saja dengan sesama Muslim, tetapi juga sesama manusia, walau berbeda keyakinan.

Dalam ceramahnya, Quraish Shihab mengemukakan, tantangan yang dihadapi dalam mewujudkan persudaraan manusia adalah peradaban modern yang terlalu mementingkan aspek material dan mesin, disertai dengan sifat rakus/tamak, egoisme dan mengesampingkan manusia dan kemanusiaan.

Namun, Quraish Shihab optimis bahwa kesempatan untuk mewujudkan persaudaraan manusia, masih terbuka luas. Bukan saja karena kita harus optimis dalam segala hal, atau karena naluri kebaikan ada dalam diri setiap insan, tetapi karena tanda-tanda ke arah itu terbentang jelas di depan mata kita. Antara lain, hubungan yang baik antara tokoh-tokoh agama, saling tukar pikiran antarsesama, dengan gagasan-gagasan yang mencerahkan untuk kebaikan umat manusia dan kedamaian dunia.

Quraish Shihab merupakan salah satu pendiri Majelis Hukama’ Al-Islam bersama Grand Syaikh Al-Azhar serta beberapa ulama lainnya dari Maroko, Tunisia, Uni Emirat Arab dan Nigeria. Organisasi ini dipimpin oleh Dr. Ahmed At-Thayyeb, selaku Grand Syaikh Al-Azhar, Mesir. Para pendiri organisasi ini memilih kata _hukama’_ (orang bijak) dan bukan kata _’ulama_ karena memang organisasi ulama sudah banyak ada. Selain itu, jika Majelis Ulama berusaha menemukan hukum-hukum keagamaan, Majelis Hukama’ Al-Islam fokus pada penakanan upaya penghindaran kekerasan.

Sumber: Facebook