Sebuah Kesalahan

Sebuah Kesalahan

LADUNI.ID - Dalam hidup ini, mustahil kita menghidari kesalahan, baik itu kepada Allah Pencipta kita, maupun kepada sesama makhluk ciptaanNya.

Hal terjauh yang bisa kita upayakan tentang kesalahan hanyalah meminimalisirnya, bukan meniadakannya sama sekali.

Kesalahan adalah tabiat dasar manusia. Keinginan kita untuk hidup tanpa secuil pun kesalahan adalah ilusi yang menyalahi karakter dasar kita sendiri.

Andai kita mampu hidup dengan nihil kesalahan, Islam tentu tidak membawa ajaran taubat dan tidak mengajari doa istighfar.

Andai kesalahan benar-benar bisa tidak kita lakukan dalam hidup kita, tentu Allah tak perlu menegaskan diri-Nya Maha Pengampun, Maha Pemaaf, dan Maha Penerima taubat.

Karena kita sebagai hamba pasti berbuat salah, Allah berjanji akan mengampuni segala macam dosa kita. Kecuali dosa syirik yang memang pelakunya sudah tidak lagi mengakui Allah dan dengan demikian tidak mengharap pengampunan dariNya.

Allah juga mencintai hambaNya yang berbuat salah lalu bertaubat. Karena kesalahan dan taubat di satu sisi menegaskan kehambaan manusia dan pada sisi yang lain menegaskan ketuhanan Allah.

Kesalahan bahkan oleh Allah dijadikan jalan bagi kita untuk mencapai derajat tertinggi di sisi-Nya, yaitu ketaqwaan. Cara kita menyikapi kesalahan dengan positif adalah ciri ketaqwaan kita. Baik itu kesalahan yang kita lakukan maupun yang dilakukan kepada kita.

Kesalahan yang kita lakukan akan mengantarkan kita kepada derajat taqwa jika setelahnya kita segera kembali mengingat Allah, beristighfar kepada-Nya, dan berkomitmen untuk tidak mengulanginya kembali.

Sementara kesalahan yang dilakukan orang kepada kita akan menegaskan ketaqwaan kita jika kita sambut dengan sikap memaafkan. Inilah ciri ketaqwaan yang ditegaskan dalam al-Qur'an surat Ali Imran: 134-135.

Semoga kita termasuk hamba-Nya yang senantiasa berupaya menghindari sekecil apapun kesalahan, baik kepada Allah sang Khaliq, maupun kepada sesama makhluq ciptaan-Nya.

Dan semoga kita termasuk hamba-Nya yang ketika terlanjur berbuat salah atau mendapat perlakuan salah, mampu memanfaatkan kesalahan tersebut untuk semakin mendekat kepada-Nya. Aamiin.

Oleh : Nasaruddin Idris Jauhar

Dosen UIN Sunan Ampel Surabaya 

 

Tags