Ojek Angkuh

Ojek Angkuh

LADUNI.ID - Saya datang mengajar ke sebuah kota saat itu. Turun dari kereta, dapat tukang ojek yang tampak "sangar". Motornya sama dengan yang dipakai balapan liar anak2 muda tengah malam. Cara mengemudinya begitu angkuh, seakan semua pengguna jalan harus membiarkan dia lewat melenggang tanpa hambatan. Kendaraan lain di depan yang tdk segera kasih jalan dihujani dengan klakson. Kemudian, saat menyalip, pengemudinya diplototi dengan ekspresi tersangar yang dia paunya.

Dapat setengah perjalanan menuju kampus, tiba2 terdengar suara besi beradu. Ternyata, rantai motor putus. Ojeknya langsung melambat dan menepi ke luar aspal. Wajahnya tiba2 berubah panik. "Bapak mau nunggu saya atau ambil ojek lain?", tanyanya memelas. Karena kasihan, saya sanggupi menunggu. Dia kemudian lari tergopoh-gopoh sambil menuntun motornya menyusuri pinggir jalan, jauh sampai kemudian dia belok masuk ke sebuah gang.

Saya tidak tahu kemana ia pergi dan apa yang akan dilakukannya. Saya juga heran, kenapa dia tidak masuk ke bengkel yang kebetulan ada persisi di tempat kami menepi.

Tidak berselang lama dia kembali dengan motor matic polos tak tersentuh modifikasi. Saya lihat motor itu sangat gak "matching" dengan penampilannya. Dia pun tampak seperti "salah kostum", eh "salah tunggangan" di atas motor tersebut. "Pinjem sepeda ponakan, Pak" katanya, seakan menjelaskan ketidak-matching-an yang saya tangkap.

Kejadian ini membuat saya sedikit telat memulai kuliah. Awalnya, sempat saya sesali, tapi belakangan justru saya syukuri mengingat pelajaran yang terselip di dalamnya yang sering saya ingat-ingat kembali sampai sekarang.

Terbukti, hidup ini terlalu misterius untuk kita jalani dengan angkuh. Terlalu lemah dan terbatas kita manusia untuk merasa bahwa semua bisa kita kondisikan sesuka kita.

Tukang ojek itu mungkin merasa, bahwa dengan tampilan dia yang sangar, style motornya yang sporty, serta cara berkendaranya yang "rossy", dia akan tampak lebih "jago jalanan" dari pengguna jalan lain, dan bisa sampai tujuan lebih cepat dari mereka.

Tapi, dia mungkin lupa, atau ingat namun abai, bahwa rantai motor putus, ban pecah, mesin mogok, tertabrak pengendara lain, adalah sedikit dari banyak hal yang dia luar kendali dan kontrol dia.

Andai keselamatan dalam perjalanan ada di tangan kita, Rasulullah tidak akan mengajarkan kita do'a safar. Andai keangkuhan dan kesombongan itu terpuji dan menyelamatakan, Lukmaul Hakim, sang bijak yang diabadikan dalam al-Qur'an, tidak akan menasihati anaknya dan kita untuk tidak berjalan di muka bumi ini dengan sombong dan angkuh.

Oleh: Nasaruddin Idris Jauhar

Dosen UIN Surabaya 

 
 

Tags