Biografi Ulama Betawi: Syaikh KH. Muhadjirin Amsar Ad-Dary

Biografi Ulama Betawi: Syaikh KH. Muhadjirin Amsar Ad-Dary

 Syaikh KH. Mohammad Muhadjirin Amsar Ad-Dary dilahirkan di Kampung Baru, sebuah daerah di pinggir kota Jakarta pada tanggal 10 November 1924. di Kampung Baru inilah ia menghabiskan masa kecilnya dengan belajar mengenal huruf Arab sampai dengan membaca Al-Qur`an. Menurut penuturan putranya, Ustadz Muhammad A`iz, Nama Ad-Dary diambil dari nama tempat mukimnya di Makkah. Menginjak remaja dan selama di tanah air, ia menuntut ilmu kepada kepada banyak guru, yaitu: Guru Asmat (Kampung Baru, Cakung), H. Mukhoyyar, mu`allim H. Ahmad, mu`allim KH. Hasbialloh (pendiri Yayasan Al-Wathoniyah), mu`alim H.Anwar, H. Hasan Murtaha, syekh Muhammad Tohir, Ahmad bin Muhammad murid dari   Syekh Mansyur Al-Falaky, KH. Sholeh Ma`mun (Banten), Syeikh Abdul Majid, dan Assayyid Ali bin Abdurrahman Al-Habsyi.

Kemudian, ia melanjutkan pendidikan  formalnya  di Daarul Ulum Ad-Diniyah, Makkah Al-Mukaromah, Arab Saudi dari tahun1949 sampai dengan tahun 1955. Selama di Makkah, ia juga mengikuti pendidikan di Masjidil Haram dan setiap musim panas di Masjid Nabawi. Sumbangan pemikirannya yang paling berharga adalah dalam hal ilmu falak. Ia membuat teknologi dan tempat rukyatul hilal sendiri untuk melihat penampakan hilal (bulan sabit pertama) sesaat sesudah matahari terbenam sebagai tanda dimulainya hari pertama dari bulan-bulan dalam kalender hijriyah atau untuk menentukan  hari raya, seperti Idul Fithri dan Idul  Adha. Pelaksanaan rukyatul hilal dengan alat buatannya, terutama untuk menentukan awal Ramadhan, Idul   Fithri dan Idul Adha dilakukan bersama rekan-rekannya selama bertahun-tahun bertempat di Gedung Lajnah Falakiyah, Cakung, Jakarta Timur. 

Hasil pengamatannya lambat laun menjadi rujukan banyak pihak, terutama umat Islam yang berada di sekitar Cakung dan Bekasi. Bahkan  pada  bulan Februari  2002, penetapan awal  bulan  Dzulhijah  1422H  untuk menentukan Idul Adha pada sidang itsbat yang dipimpin Menteri Agama   Prof.Dr.H. Said Agil Husin Almunawar   di Departemen Agama, Jakarta dan dihadiri anggota Badan Hisab Rukyat Departemen Agama, wakil-wakil dari organisasi massa  Islam,  Majelis  Ulama  Indonesia (MUI), dan instansi terkait seperti Badan Meteorologi dan Geofisika, Dinas Hidro Oceanografi  Mabes  TNI Angkatan  Laut, dan  Planetarium  akarta  didasarkan pada hasil rukyatul hilal Tim Cakung  (santri-santri binaan Syekh. KH. Mohammad Muhadjrin Amsar Ad-Dary). 

Yang mengagumkan, hasil rukyatul hilal Tim Cakung ini sesuai dengan hasil hisab yang dilakukanoleh  berbagai lembaga atau ormas Islam, antara  lain Almanak Menara  Kudus, Almanak Muhammadiyah, Persis dan  Al  Irsyad, kalender Ummul Quro Makkah, Kalender PBNU, dan Kalender DDII.  Setelah beliau wafat pada tanggal 31 Januari 2003, Tim Cakung yang setia mengikuti ajaran falaknya tetap eksis dan masih menjadi rujukan di  tingkat lokal maupun nasional. Selain itu, Gedung Lajnah Falakiyah, Cakung diakui sebagai salah satu dari Pos Observasi Bulan (POB) di Indonesia.

Beliau adalah salah seorang ulama Betawi yang produktif dalam menulis di berbagai bidang disiplin ilmu ke-Islaman dengan bahasa Arab dengan  jumlah keseluruhan 31 kitab.
Kitab-kitabnya  adalah  sebagai berikut:
1. Mishbaah Adz-Dzulaamsyarah Buluugh al -Maraam sebanyak 8 Juz (kitab fiqih).
2. Idhahy Maurud sebanyak 2 Juz (kitab ushul fiqih).
3. Fan al-Muthala`ah sebanyak 3 Juz (kitab lughah/ tata bahasa)
4. Qawaid an-Nahwiyah sebanyak 2 Juz (kitab lughah/ tata bahasa).
5. Mahfudzat (kitab lughah/ tata bahasa).
6. Al-Bayan (kitab balaghah/sastra).
7. Mukhtarat Al-Balaghah (kitab  balaghah/sastra).
8. Malkhash  at-Ta`liqat`ala  Matan  al-Jauharah (kitab tauhid).
9. Syarah   Tali`qat   `ala   Matan   al-Jauharah (kitab tauhid).
10. Taysir  al-Wushul  fi  `Ilmi  al-Ushul (kitab  ushul fiqih).
11. Istikhraj al-Furu` `ala al-Ushul (kitab ushul fiqih).
12. Khilaafiyah (kitab ushul fiqih).
13. Falsafah At-Tasyri` (kitab ushul fiqih).
14. Ma`rifah Turuq Al-Ijtihad (kitab ushul fiqih).
15. Takhrij Al-Furu` `Ala Al-Ushul (kitab ushul fiqih).
16. Al-Qaul   Al-Hatsits   Mustholah   Al-Hadits (kitab mustholah al-hadits).
17. Ta`liqat  `Ala  Matan  Al-Bayquni (kitab  mustholah al-hadits).
18. Al-Istidzkar  Fi  Taqyid  Ma  La  Budda  Min  Thola`ah Al-Anwar (kitab mustholah al-hadits).
19. .Al-Mudarik Fi Al-Manthiq (kitab ilmu manthiq).
20. An-Nahj  Al-Mathlub  Ila  Al-Manthiq  Al-Marghub (kitab ilmu manthiq).
21. Al-Qaul   Al-Fa`id   Fi   Ilm   Al-Faraid (kitab   ilmu waris/faraid).
22. Mar`ah Al-Muslimin (kitab tarikh).
23. Al-Mantakhab  Min  Tarikh  Daulah  Bani  Umayyah (kitab tarikh).
24. Tarikh Al-Adab Al-`Araby (kitab tarikh).
25. Tarikh  Muhammad  Rasulillah  wa  Al-Khulafa  Ar-Rasyidin (kitab tarikh).
26. At-Tanwir Fi Ushul At-Tafsir (kitab ushul tafsir).
27. Tanbiq Al-Ayah Bi Al-Hadits (kitab ushul tafsir).
28. Qawa`id    Al-Khams    Al-Bahyah (kitab    qawaid fiqih).
29. As-Saqayah    Al-Mar`iyah    Fi    Al-Bahts    Wa    Al-Munadzarah (kitab adab).
30. Al-Qur`u As-Sam`u Fi Al-Wudhu` (kitab fiqih bab wudhu).
31. At-Ta`arruf Fi At-Tasawwuf (kitab tasawwuf).

Murid-muridnya yang menjadi ulama Betawi terkemuka diantaranya adalah KH. Maulana Kamal Yusuf, KH. Mahfudz Asirun, KH. Zuhri Yakub (Sekretaris Umum FUHAB Masa Bakti 2008-2013), dan KH. Syafi`i (Lajnah Falakiyah Cakung).
Kitab karangannya yang terkenal adalah Mishbaah Adz-Dzulaamsyarah Buluugh al –Maraam yang ditulis oleh KH. Mahfudz Asirun dan dipelajari  di beberapa pesantren, halaqah dan majelis taklim di Jakarta maupun di luar Jakarta.




 Sumber: Genealogi Intelektual Ulama Betawi

 

Pengikut Biografi Ulama Betawi: Syaikh KH. Muhadjirin Amsar Ad-Dary