Meneladani Mbah Kiai Abdullah Salam dalam Menjaga Al-Qur’an

Meneladani Mbah Kiai Abdullah Salam dalam Menjaga Al-Qur’an

LADUNI.ID, Jakarta - Senin malam Selasa, 18 Februari 2019 lalu, bersama beberapa Ustadz dari Pondok Tahfidh Yanbu'ul Qur'an, alhamdulillah, saya berkesempatan sowan dan berbincang-bincang dengan Abah KH Ahmad Zaky Fuad Abdillah tentang Teladan Mbah Kiai Abdullah Salam dalam Menjaga Al-Qur’an selama hampir 2 jam. Ada beberapa point penting teladan Mbah Abdullah Salam yang perlu kita tiru bersama:

  1. Mbah Kiai Abdullah Salam, sangat memprioritaskan Al-Qur’an, daripada ilmu-ilmu yang lain. Kepada putra-putrinya, yang selalu beliau tanyakan adalah: Bagaimana dengan Qur’anmu? Sebagai bentuk kepedulian beliau terhadap Al-Qur’an. Kendati demikian, bukan berarti Mbah Kiai Abdullah Salam tidak perduli dengan ilmu-ilmu agama yang lain. Pada kenyataannya, Mbah Kiai Abdullah Salam, selain masyhur dengan Al-Qur’an nya, juga terkenal sangat alim ilmu fiqih, tashawwuf dan ilmu-ilmu yang lain. Hal ini menunjukkan bahwa perhatian beliau terhadap ilmu sangat tinggi, dan khusus Al-Qur’an perhatian beliau jauh lebih tinggi.
  2. Mbah Kiai Abdullah Salam senantiasa berusaha menjaga Al-Qur’an sepanjang hayat. Sewaktu masih muda, beliau selalu menjaga hafalan Al-Qur’an, dengan cara: (1) Mendaras hafalan secara pribadi dengan Istiqomah kapanpun dan dimanapun, (2) Berkenan memenuhi undangan Khotmil Qur'an bil-Ghaib dari Masyarakat dengan niat mendaras hafalan Al-Qur’an, (3) Mengajar Al-Qur’an atau Menyimak hafalan Al-Qur’an para santri yang setor kepada beliau.
  3. Saat Mbah Kiai Abdullah Salam sudah sepuh dan sudah Udzur, cara beliau dalam menjaga Al-Qur’an beliau adalah sebagai berikut: (1) Mendaras Al-Qur’an secara bin-Nadhor dengan melihat Mushaf, (2) Meminta cucunya yaitu Gus Muhammad Ainun Na'im agar membacakan Al-Qur’an di hadapan Mbah Kiai Abdullah Salam, sebagai bentuk kehati-hatian dalam menjaga Al-Qur’an, supaya tidak tergolong sebagai orang yang melupakan Al-Qur’an. Hal ini beliau lakukan, saat beliau sudah sering gerah-gerah, dan sangat udzur, saat dimana kemampuan mendaras Al-Qur’an beliau tidak sekuat ketika masih muda.
  4. SaatRamadhan, Mbah Kiai Abdullah Salam, selalu istiqomah, minimal mengkhatamkan Al-Qur’an sekali dalam sehari. Sehingga minimal, beliau selalu khatam 30 kali dalam setiap Ramadhan. Ini standar minimal beliau. Boleh jadi, yang terjadi lebih dari itu.
  5. Dalam hal bekerja, bagi santri Al-Qur’an, Mbah Kiai Abdullah Salam lebih memprioritaskan Al-Qur’an, dan menganggap bahwa pekerjaan adalah sampingan, sebagai upaya untuk mencari bekal ibadah. Jika sudah kuat makan, atau sudah cukup untuk bekal ibadah, maka Al-Qur’an jauh lebih penting. Pesan yang beliau sering sampaikan, "Qur'an iku keramat. Sopo gelem ngrumat, bakal keramut. Sopo ora gelem ngrumat, bakal keremet." (Al-Qur’an itu keramat. Barang siapa mau merawat, maka dirinya akan ikut terawat. Barang siapa tidak mau merawat, maka bisa jadi dia akan kualat).
  6. Saat masih muda, Mbah Kiai Abdullah Salam pernah bekerja menjadi penjahit, dan pernah juga berdagang tembakau. Ketika beliau sudah terjun secara utuh dalam dunia pendidikan, menjadi Direktur Perguruan Islam Mathali'ul Falah dan mengasuh Pondok Pesantren Mathali'ul Huda Pusat, beliau melepaskan semua pekerjaan dan secara totalitas berkhidmah kepada Al-Qur’an dan kepada ummat.
  7. Para santri Al-Qur’an, yang baru boyong dari Pondok Pesantren, lalu menikah, dan menempuh kehidupan baru, biasanya selalu memikirkan bagaimana caranya bisa menafkahi keluarga. Sesuai dengan yang diajarkan oleh Kiai Abdullah Salam, Abah Zaky menyarankan kepada santri yang sedang menjadi keluarga baru, untuk selalu bersabar, tidak tergesa-gesa dalam mengais rezeki, mengalir saja dan menikmati proses, karena ujian pernikahan yang paling terberat dan paling menguji kesabaran, adalah di saat pernikahan berusia 1-7 tahun. Usia 1-7 tahun pernikahan adalah usia jatuh bangun dalam meniti kehidupan. Oleh karenanya, bila terjadi kegagalan dalam bekerja dan usaha, jangan sampai membuat kita putus asa, apalagi sampai berimbas kepada Al-Qur’an yang harus senantiasa dijaga. Abah Zaky bercerita, bahwa beliau dan Ayahandanya beberapa kali pernah gagal dalam usaha, namun Al-Qur’an lah yang justru menguatkan dan meneguhkan kehidupan beliau dan Simbah Kiai Abdullah Salam.
  8. Dalam mengajarkan Al-Qur’an, Mbah Kiai Abdullah Salam selalu totalitas. Sebab, dalam pandangan beliau, tidak ada hajat yang lebih penting daripada khidmah kepada Al-Qur’an.
  9. Mbah Kiai Abdullah Salam terkenal sangat tegas, kalau tidak boleh dikata galak, dalam mengaji Al-Qur’an. Tak jarang, dulu ketika mengajar, juga menggunakan kekerasan, namun tetap dalam batas kewajaran. Hal ini, tak lain dan tak bukan, merupakan wujud implementasi prinsip beliau yang kukuh, bahwa santri Al-Qur’an yang mengaji kepada beliau adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan dunia akhirat, sehingga beliau sangat ketat dalam menerapkan pengajian Al-Qur’an kepada para santrinya. Manakala santri tidak bisa mengaji Al-Qur’an, tentunya seorang guru kelak akan dimintai pertanggungjawaban.
  10. Mbah Kiai Abdullah Salam mewajibkan kepada seluruh putra-putrinya untuk mengaji Al-Qur’an kepada beliau dulu, sebelum belajar atau berangkat mondok ke tempat lain. Dengan demikian, kewajiban orang tua untuk mengajari anak-anaknya Al-Qur’an dan membangun landasan agama yang kuat, telah tertunaikan dengan baik. 

Untuk segala urusan pendidikan anak-anaknya, Mbah Kiai Abdullah memberikan contoh, bahwa Bapak lah yang menentukan dan memutuskan dimana anak seharusnya belajar, dan bagaimana seorang anak sebaiknya belajar. Jika Ibu adalah Madrasah bagi anak-anak, maka Bapak adalah Kepala Sekolahnya, yang menentukan dan memutuskan segala kebijakan pendidikan untuk anak-anaknya. Dan seluruh kebijakan tentang bagaimana putra-putri beliau belajar dan mengembangkan ilmunya, semua ada di dalam genggaman asta kinasih Mbah Kiai Abdullah Salam. 

Semoga kita bisa meneladani beliau, walaupun hanya sehelai rambut atau hanya seujung kuku dari semesta samudera Haliyah indah beliau. 

Kagem Simbah KH Abdullah Zein Salam, al-Fatihah...


Sahal J.