Biografi Guru Marzuqi Cipinang Muara

Biografi Guru Marzuqi Cipinang Muara

Orang biasanya menyebutnya Guru Marzuqi Cipinang Muara walau di kitab-kitab yang dikarangnya  ia  menulis  namanya  dalam  bahasa Arab Melayu  tidak  ada  kata  Cipinang,  yaitu  Guru  Marzuqi Muara. Nama Lengkap Guru Marzuqi adalah As-syekh Ahmad Marzuqi bin Ahmad Mirshod bin Hasnum bin Ahmad  Mirshod  bin  Hasnum  bin  Khotib  Sa’ad  bin Abdurrohman bin Sulthon yang diberikan gelar dengan  “Laksmana  Malayang” dari salah  seorang sultan tanah melayu yang berasal dari negeri Pattani, Thailand  Selatan.

Ibunya bernamaHajjah  Fathimah binti Al-Haj Syihabuddin Maghrobi Al-Madura, berasal dari Madura dari keturunan Ishaq yang makamnya di kota Gresik Jawa Timur. Al-Marhum Haji Syihabuddin adalah salah seorang khotib di masjidf  Al-Jami’ul Anwar Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Jakarta Timur.

Guru  Marzuqi  dilahirkan  pada  malam  Ahad waktu Isya tanggal 16 Romadhon 1293 H di Rawabangke (Rawa Bunga) Jatinegara Batavia (Jakarta Timur). Ketika  ia  berusia  enam  tahun, ia dikirim oleh ibundanya, Siti  Fatimah, belajar  ilmu  agama  kepada kakeknya,S yaikh Syihabuddin  Al-Maduri,  khatib  dan pendiri masjid di Rawa Bangke, depan    stasiun Jatinegara. Pada usia 9 tahun, ayahandanya, yang juga menjadi gurunya,wafat. Pada   usia   12   tahun, ia diserahkan kepada seorang ‘alim al-ustadz  H. Anwar untuk mendapat pendidikan dan pengajaran Al-qur’an dan berbagai disiplin ilmu agama Islam lainnya.
 

Menurut Ridwan Saidi, selain kepada Ustadz H. Anwar,  Ia  juga  didik  oleh  Guru  Bakir  yang  bergelar birulwalidain, anak yang berkhidmat kepada orang tua. Makam   Guru   Bakir   terdapat   di   serambi   samping masjid  Rawa  Bunga (Rawa  Bangke),  Mester.  Orang Betawi Kampung Mester menyebut Guru Bakir sebagai Dato    Biru.

Kemudian,    untuk    memperluas    ilmu agamanya, maka ibundanya menyerahkan lagi kepada ‘Allamah Sayyid “Utsman bin Muhammad Banahsan. Melihat  kejeniusan  dan  kekuatan  hafalan  dari Marzuki  muda, pada  usianya   keenam  belas  tahun, Saayyid  ‘Utsman  mengirimnya  ke  Makkah untuk belajar  ilmu  fiqih,  ushul  fiqih,  tafsir,  hadits  hingga mantiq. 

Kesempatan  menuntut  ilmu  tersebut  benar-benar  dipergunakan  dengan  sebaik-baiknya,  sehingga, dalam waktu hanya 7 tahun saja beliau telah mencapai segala  apa  yang  dicita-citakannya,  yakni  menguasai ilmu  agama  untuk  selanjutnya  diamalkan,  diajarkan serta     dikembangkan.    

Guru-gurunya di Makkah diantaran adalah Syaikh Usman Serawak, Syaikh Muhammad ‘Ali Al-Maliki, Syaikh  Umar  Bajunaid  Al-Hadhrami, SyaikhMuhammad  Amin Sayid  Ahmad Ridwan, SyaikhSyaikh  Hasbulloh  Al-Mishro, Syaikh Umar  Al-Sumbawi, Syaikh  Mukhtar  `Atharid, Syaikh Ahmad Khatib Al-Minangkabawi, Syaikh Mahfudz At-Tarmisi,  Syaikh  Sa`id Al-Yamani, Syaikh Abdul Karim Ad-Dagestani dan  Syaikh Muhammad ‘Umar Syatho. Dari  gurunya  yang  lain, yaitu Syaikh Sayyid  Ahmad Zaini Dahlan (Mufti Makkah), Guru  Marzuqi memperoleh  ijazah  untuk  menyebarkan  Tarekat  Al-Alawiyah.

Saat  memasuki  tahun  ke-7  beliau  bermukim  di Makkah, datanglah  sepucuk  surat dari Sayyid Utsman yang meminta agar Guru Marzuki  kembali ke Jakarta. Maka  pada   tahun 1332 H  atas pertimbangan   dan persetujuan  guru-gurunya  di  Makkah  beliau  kembali pulang  ke  Jakarta  dengan  tugas  menggantikan  Sayyid ‘Utsman (guru beliau) dalam memberikan pendidikan dan  pengajaran  kepada  murid-muridnya. 

Tugas  yang diamanatkan  ini  dilaksanakan  sebaik-baiknya  sampai sayyid Utsman wafat. Pada tahun 1340 H, ia melihat keadaan di Rawa Bangke (Rawa Bunga) sudah tidak memungkinkan lagi untuk mengembangkan agama Islam, karena lingkungannya yang sudah rusak. Ia segera mengambil suatu keputusan untuk berpindah ke kampung Muara.

Disinilah  ia  mengajar  dan  mengarang  kitab-kitab  di samping  memberikan  bimbingan  kepda  masyarakat. Nama   dan   pengaruhnya   semakin   bertambah   besar, karena  bimbingannya  banyak  orang-orang  kampung memeluk   agama   Islam   dan   kembali   ke   jalan   yang diridhoi  Allah  SWT.  Tak  hanya  itu,  para  santri  dan pelajar   banyak   berdatangan   dari   pelosok   penjuru untuk  menimba  ilmu  kepada  beliau. 

Sehingga  tepat kalau  akhirnya  kampung  tersebut  dijuluki “Kampung Muara”, karena disanalah muaranya orang-orang yang menuntut ilmu. Pada pagi hari jum’at jam 06.15 WIB tanggal 25 Rajab  1352   H, Guru Marzuki   wafat. Jenazahnya  dikebumikan  sesudah sholat  Ashar  yang dihadiri  oleh  para  ‘ulama  dari  berbagai  lapisan masyarakat,  yang  jumlahnya  amat  banyak  sehingga belum   terjadi   saat-saat   sebelumnya.  

Acara   sholat jenazahnya diimami oleh Sayyid   ‘Ali   bin Abdurrahman Al-Habsyi (Habib ‘Ali Kwitang). 49 Adapun kitab-kitab  yang  dikarangnya  ada  13 buah, yang dapat dilihat sekarang hanya 8 buah, berisi tentang fiqih, akhlak, akidah, yaitu:
1.Zahrulbasaatin fibayaaniddalaail wal baroohin.
2.Tamrinulazhan  al-`ajmiyah fii ma’rifati tirof minal alfadzil‘arobiyah.
3.Miftahulfauzilabadifi’ilmil fiqhil Muhammadiyi.
4.Tuhfaturrohman fibayaniakhlaqi bani akhirzaman.5.Sabiluttaqlid.6.Sirojul Mubtadi.7.Fadhlurrahman.

8.Arrisaalah   balaghah   al-Betawi   asiirudzunuub   wa ahqaral isaawi wal `ibaad.Guru  Marzuqi  dijuluki  sebagai  “Gurunya UlamaBetawi”, dalam pengertian, dari murid-murid yang  didiknya  banyak  yang  menjadi  ulama  Betawi terkemuka,   di   dalam   satu   keterangan   ada   sekitar empat   puluh   satu   ulama   Betawi   terkemuka.

50Di antaranya  adalah:  Mu`allim  Thabrani  Paseban  (kakek dari KH. Maulana Kamal Yusuf), KH. Abdullah Syafi`i  (pendiri    perguruan    Asy-Syafi`iyyah),    KH.    Thohir Rohili (pendiri perguruan Ath-Thahiriyyah), KH. Noer Alie    (Pahlawan    Nasional,    pendiri    perguruan    At-Taqwa,    Bekasi),    KH.    Achmad    Mursyidi    (pendiri perguruan     Al-Falah),     KH.     Hasbiyallah     (pendiri perguruan    Al-Wathoniyah),    KH.    Ahmad    Zayadi Muhajir (pendiri perguruan Az-Ziyadah), Guru Asmat (Cakung),  KH.Mahmud  (Pendiri  Yayasan  Perguruan Islam    Almamur/Yapima,    Bekasi),    KH.    Muchtar Thabrani  (Pendiri  YPI  Annuur,  Bekasi),    KH.  Chalid Damat (pendiri perguruan Al-Khalidiyah), dan KH. Ali Syibromalisi  (pendiri  perguruan  Darussa’adah  dan mantan   ketua   Yayasan   Baitul   Mughni,   Kuningan-Jakarta).

 
 

Tags