Biografi Waled Nuruzzahri

Biografi Waled Nuruzzahri

LADUNI.ID, Aceh- Kita mengatahui  bahwa masa kanak-kanak Waled Nuruzzahri dihabiskan di dayah MUDI dan bergaul dengan para santri sebaya dan Teungku-teungku.

Tentunya dari sinilah tumbuh dan berkembang semangat belajarnya hingga membentuk satu sikap cinta akan ilmu pengetahuan agama dan untuk seterusnya memilih menjadi santri di dayah tersebut

Waled Nu mengawali pendidikan formalnya di SR 3 Samalanga (Sekolah Rakyat). Beliau belajar di sekolah pada pagi hari dan di Madrasah Diniyyah pada sore hari.

Pada 1964 beliau masuk pesantren Ma’hadal Ulum Diniyyah Islamiah (MUDI) Samalangan yang dipimpin oleh Tgk H.Abdul Aziz Shaleh (Abon Aziz Samalanga).

Seperti santri yang lainnya, Waled belajar dengan tekun dan menaati setiap peraturan dayah.
Walaupun putra daerah, Waled tidak seperti santri yang lain. Biasanya putra daerah susah mondok (muedagang) di daerah sendiri.
Tidak adanya kesan sebagai putera daerah,, sikap betah dan taat itulah yang membuat seorang Nuruzzahri mendapat perhatian serius dari para Teungku di dayah.

Ketika Waled menduduki kelas tujuh, beliau mendapat kepercayaan menjadi ketua IKPDS (Ikatan Pelajar Daerah Samalanga). Selain itu, beliau juga terlibat dalam berbagai seksi di dalam sejumlah bidang kegiatan di dayah.

Sejak di dayah, Waled sudah dipersiapkan oleh Abon ‘Aziz untuk menjadi seorang pemimpin di kemudian hari. Hal itu sangat berkesan ketika suatu hari Waled dan kawan-kawan yang waktu itu masih menjadi santri, keluar dari dayah untuk menyaksikan dakwah seorang muballig ternama pada malam hari.

Saat mereka pulang ke dayah, Waled ditegur oleh Abon, dengan mempertanyakan untuk apa peduli urusan orang, “ tugas kalian di sini adalah belajar bukan dengar dakwah”.

Berdasarkan dari ungkapan sang guru tersebut dicerna oleh Waled sebagai teguran bijak yang mengandung nilai-nilai tarbiyah (mendidik).

Sesungguhnya Abon menekankan pentingnya belajar dari segala-galanya kendatipun itu bermanfaat, pentingnya prioritas waktu untuk belajar dan dengan belajar seseorang akan meraih apa yang dikaguminya.

Setelah 10 tahun di pesantren tersebut, tepatnya pada 1974 beliau hijrah ke Jombang Jawa Timur dan masuk Fakultas Syariah di Universitas Hasyim Asy’ari.

Setelah menyelesaikan satu semester di sana, beliau pindah ke pondok pesantren Darul Hadits Jombang yang waktu itu dipimpim oleh Dr. Abdullah bin Faqih dari Arab, untuk memperdalam pengetahuannya di bidang Ilmu Hadits.

Setelah lebih kurang 2 tahun di sana, beliau kembali ke Aceh Tgk. H. Nuruzzahri dapat disebut seorang penjelajah pesantren. Pengalaman spiritual yang sempat beliau kutip dalam perjalanannya itu selanjutnya diterapkan pada lembaga yang beliau pimpin.

Semenjak di bangku pendidikan, Waled sudah bercita cita untuk membangun sebuah lembaga pendidikan dengan formula baru yang tidak terdominasi konsep modern, dengan harapan, lembaga tersebut akan mampu menciptakan kader kader intelektual muslim di masa depan yang penuh tantangan.

Salah seorang guru Waled Nu yang kini menjadi calon wakil presiden Indonesia, siapa lagi kalau bukan ulama besar nusantara ini, KH. Ma’ruf Amin, sosok yang bukan hanya mumpuni ilmunya di dunia dayah dan syariat Islam, namun juga pakar ekonomi syariat negeri ini. Pilihan KH. Ma’ruf Amin sebagai cawapres sudah tepat dan ini menjadi sebuah kemajuan dunia pesantren yang patut kita banggakan walaupun masih ada yang tidak sependapat bahkan dicaci bukan hanhya oleh orang awam termasuk orang dayah sendiri, ini juga dialami al-Mukarram Waled Nu sendiri pasca diundang ke Istana presiden memenuhi undangan resmi kenegaraan.

Waled Nu wajar membela dan mendukung gurunya termasuk dalam kontestan politik dan ini bentuk ketakdhimannya sebagai seorang murid terhadap gurunya KH. Ma’ruf Amin sebagai calon wakil presiden, Waled Nu kalaupun mendukung paslon nomor satu, disitu ada ayah rohaninya yang wajib ditakdhiminya, lantas kenapa kita mencacinya dan menghinakannnya terlebih beliau sebagai ulama kharismatik, ayah rohani, ayah dari ribuan anak yatim piatu, namun Waled menyikapinya dan merespon hal ini dengan diam. Namun apabila kita orang berilmu bahkan berasal dari dayah ikut juga seperti itu, wajarkah? Bukankah suul khatimah akan menanti dan anak keturunan kita akan ikut menanggung efek mencaci dan menghina ulama, minta maaf dan bertaubatlah, siapkah?

Helmi Abu Bakar El-Langkawi, penggiat literasi Asal Dayah MUDI Mesjid Raya Samalanga