Program UMi Diklaim Gerakan Ekonomi Desa

Program UMi Diklaim Gerakan Ekonomi Desa

LADUNI.id, Serang - Sejak diluncurkan Kemenkeu pada pertengahan 2017 lalu, program UMi sampai saat ini telah menjangkau 34 provinsi dan hampir 540 kabupaten/kota. Salah satu desa yang mendapatkan manfaatnya adalah Desa Sindangsari di Kabupaten Serang, Banten.

Dalam kunjungannya di Desa Sindangsari, Serang, Sri Mulyani menyaksikan langsung hasil usaha para debitur UMi, mulai dari jajanan, kerajinan, hingga jamu tradisional. Pembangunan Desa Sindangsari merupakan bagian dari hasil sinergi antara pemerintah dan badan usaha.

"Tadi saya lihat ada yang pinjam (UMi) Rp 3 juta, ada yang pinjam Rp7 juta. Ada yang untuk jualan makanan, kerajinan, dan sebagainya," ujarnya.

Sebagian besar penyaluran UMi di Desa Sindangsari merupakan pinjaman syariah yang disalurkan melalui Koperasi Abdi Kerta Raharja (AKR). Dalam menyalurkan, lanjut Sri Mulyani, koperasi yang beranggotakan sekitar 35 ribu orang ini menggunakan skema subsidi bunga silang dengan rata-rata 6 persen. Namun, koperasi juga membayar bunga dengan skema subsidi silang.

Di Provinsi Banten, dana yang telah disalurkan mencapai Rp90,5 Miliar kepada 32.538 usaha mikro. Kabupaten Serang merupakan wilayah nomor dua setelah kabupaten Tangerang di provinsi Banten yang paling banyak menerima bantuan pembiayaan UMi yaitu di kisaran Rp15 miliar.

Salah satu warga yang mendapatkan berkah dari UMi adalah Rian Husana (38). Sekitar 11 bulan lalu, Rian mengambil pembiayaan UMi sebesar Rp7 juta untuk dicicil selama 24 bulan. Besaran cicilannya Rp360 ribu per bulan.

"Saya ingin mengembangkan usaha biar lebih maju," ujarnya.

Rian menggunakan dana yang diterimanya untuk modal usaha warung dan pempek Palembang yang telah lama ditekuninya. Dalam sehari, omzet kotornya bisa mencapai Rp1 juta. Penghasilannya digunakan untuk membiayai hidup nya bersama seorang suami dan tiga orang anak.

Awalnya, Rian mendapatkan informasi pembiayaan UMi dari salah seorang tetangganya soal pembiayaan dengan bunga yang rendah. 

Sebelum mengenal UMi, pada 2009 lalu, Rian dan suaminya menjual mas kawin yang nilainya Rp800 ribu untuk modal usaha. Dalam perjalanannya usahanya jatuh bangun. Setelah memiliki tiga orang anak, Rian ingin memiliki tabungan untuk masa depan.

Menurut Rian, proses pengajuan pembiayaan UMi tidak sulit. Setelah melengkapi syarat berupa Kartu Tanda Penduduk dan Kartu Keluarga (KK), pendamping yang menjadi perpanjangan tangan lembaga penyalur Pegadaian datang dan memotret usahanya. Setelah dinilai layak, modal usaha Rian cair dalam tempo 4 hari.

"Kalau ingin usahanya lebih berkembang, pinjam ke UMi kan tidak susah, tidak ribet. Kami kan enggak tahu yang aneh-aneh, asal tidak ribet kami mau," ujarnya.

Hal senada juga diungkap Sri Sulastri (40), penjual jamu gendong. Empat bulan lalu, Sri mengambil pinjaman UMi dari Koperasi AKR. Besarannya Rp2 juta untuk jangka waktu 6 bulan. Berbeda dengan Rian, Sri membayar cicilan mingguan sebesar Rp92.100 per minggu.

Cicilan tersebut menurut Sri sangat ringan mengingat penghasilannya per hari berkisar Rp50 ribu hingga Rp150 ribu.

"Alhamdulillah, modal dari UMi membantu. Terlebih, setelah suami saya sudah meninggal dunia," ujarnya. (*)

Sumber : CNN Indonesia