PBNU KUTUK PENEMBAKAN BRUTAL DI CHRISTCHURCH, SELANDIA BARU

PBNU KUTUK PENEMBAKAN BRUTAL DI CHRISTCHURCH, SELANDIA BARU

Dunia diselimuti duka lewat aksi penembakan di Selandia Baru. Sebanyak 40 orang tewas dalam aksi penembakan di dua masjid di kota Christchurch, Selandia Baru, Jumat (15/3). Lewat video yang diunggah pelaku ke sosial media secara streaming, pelaku melenggang santai memasuki masjid sambil menenteng senjata semi otomatis dan langsung melancarkan aksi brutalnya menembaki setiap orang sejak di depan pintu masjid hingga masuk ke dalamnya. Para jamaah yang berada di dalam masjid langsung berlarian, namun tak berdaya menghindar dari rentetan timah panas yang menyembur dengan cepat.

Dikutip Tempo, Pelaku yang diduga bernama Brenton Tarrant, pria asal Australia yang berusia 28 tahun, adalah seorang pelatih kebugaran di sebuah klub olah raga bernama Big River Gym berlokasi di utara kota Grafton, negara bagian New South Wales, Australia.

Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Ardern menyebutkan dalam konferensi pers yang disiarkan langsung lewat televisi bahwa Sepuluh dari korban meninggal dalam penembakan di Christchurch berasal dari masjid pertama, Linwood, sedang 30 lainnya berasal dari Masjid Al Noor.

“40 orang meninggal dunia dalam penembakan hari ini, 20 orang terluka," kata Ardern seperti dilansir Kumparan.

Ardern mengutuk keras atas penembakan ini dan dengan tegas menyebut bahwa aksi yang dilakukan tarrant adalah serangan teroris.

"Sudah jelas bahwa ini sekarang hanya bisa disebut sebagai sebuah serangan teroris," tegas PM Ardern, seperti dilansir Reuters, Jumat (15/3/2019).

Tak ketinggalan, Robikin Emhas selaku Ketua Pengurus Harian Tanfidziyah PBNU mengecam keras atas tindakan yang tidak berperikemanusiaan tersebut.

“Namun siapa pun dan apa pun motifnya, itu tindakan biadab. Tindakan yang bukan hanya sangat tidak berperikemanusiaan dan jauh dari nilai agama, namun juga jauh dari akal sehat manusia itu sendiri. Dunia layak mengutuknya.” Ujar Robikin.

Robikin berharap agar otoritas setempat bertindak dengan cepat untuk memulihkan situasi agar masyarakat merasa aman kembali.

“Saya berharap otoritas setempat segera dapat memulihkan keadaan dan masyarakat merasa aman kembali. Pelakunya juga dapat ditangkap hidup-hidup, sehingga diperoleh keterangan memadai siapa dan apa motifnya serta dapat diseret ke pengadilan untuk dimintai pertanggung jawaban. Satu dan lain hal agar otoritas New Zealand dapat mengambil kebijakan strategis lebih jauh untuk melindungi masyarakat.” ujarnya.

Sementara itu, Kementerian Kominfo telah melakukan kerjasama dengan sejumlah platform media sosial dalam upaya memblokir video yang telah tersebar di jagad somed tersebut. Diantara platform tersebut yakni Facebook, Instagram, Twitter.

Pasalnya, menurut Pelaksana Tugas Kepala Biro Humas Kementerian Kominfo, Ferdinandus Setu, penyebaran konten bakal akan dapat memberi oksigen bagi tujuan kekerasan, yaitu membuat ketakutan di masyarakat. Selain itu, konten video yang mengandung aksi kekerasan merupakan konten yang melanggar Undang-undang Nomor 19 Tahun 2016 tentang Perubahan atas UU No 11 Tahun 2008 tentang Informasi dan Transaksi Elektronik.

Untuk itu, Menkominfo Rudiantara mengimbau agar masyarakat tidak ikut menyebarkan video ataupun tautan terhadap konten kekerasan yang brutal tersebut. "Kominfo akan terus memantau dan mengupayakan dengan maksimal penapisannya," katanya.

 
 

Tags