Swastika Bali, Penyadaran Budaya Nusantara Sebagai Langkah menjaga Bali

Swastika Bali, Penyadaran Budaya Nusantara Sebagai Langkah menjaga Bali

LADUNI.ID | BALI - "Bali meskipun kecil ibarat anggota badan, jika terluka maka seluruh tubuh akan turut merasakan", demikian dikatakan Ketua Swastika Bali Drs. I Wayan Bagiarta Negara. Apt. MM. saat berbicara dalam press release pernyataan sikap bersama beberapa Ormas di denpasar (9/4).

Acara tersebut diadakan bekerjasama dengan Ormas-Ormas lintas agama seperti, Patriot Garuda Nusantara wilayah bali (PGN), Taksu Dalem, PCNU Kota Denpasar, Nuswantara, Tirto Kahuripan, dan Pejuang Islam Nusantara Wilayah Bali (PIN) sebagai respon atas adanya pencalonan anggota DPD Bali yang dinilai tidak representatif dalam menyuarakan aspirasi masyarakat Bali. Hal ini disebabkan karena para calon tersebut dianggap kurang memiliki pengetahuan adat dan akar budaya Bali yang sangat khas dan kuat ini. 

"Walaupun dalam undang-undang dimungkinkan bagi siapa saja untuk bisa mencalonkan diri sebagai angota DPD, namun secara etika sosial seharusnya para calon itu dapat mengukur diri apakah kira-kira mampu mewakili Bali seperti yang diharapkan oleh masyarakat. Jangan nantinya hanya berorientasi asal memperoleh kursi jabatan, yang berimbas terhadap kelangsungan adat dan Budaya Bali di masa yang akan datang". Tukas Bagiarta lagi.

Senada dengan Bagiarta, Gus Yadi dari PGN wilayah Bali turut menyampaikan keprihatinan akan hal tersebut. PGN diketahui selama ini sebagai ormas  yang sangat konsen akan perlawanannya terhadap gerakan-gerakan radikal di Indonesia lewat kiprah  ketua umumnya Nuril Arifin Husein atau akrab disapa Gus Nuril. 

Gus Yadi dalam kesempatan ini menyampaikan bahwa yang paling pas mewakili Bali untuk duduk di kursi DPD ya orang Bali. "Jika berbicara tentang adat dan budaya, serta bagaimana cara merawat dan menjaganya, yang paling tahu ya krama Bali itu sendiri. Jangan hanya karena haus kekuasaan kemudian mengorbankan masa depan kelestarian budaya Bali yang menjadi bagian terpenting untuk dijaga, agar tetap seperti ini dan dapat dinikmati oleh seluruh dunia".

Keprihatinan ini juga disampaikan oleh Heru Pekik, perwakilan dari Ormas Nuswantara yang mengatakan bahwa seluruh Ormas harus bekerjasama dalam menjaga budaya Bali sebagai bagian dari budaya Nusantara ini. Dia mengajak seluruh elemen apakah itu seniman, budayawan, agamawan, bahkan politisi di daerah untuk dapat bersama-sama memastikan keistimewaan budaya Bali akan tetap menjadi ikon Indonesia. "Mari kita mulai dari lingkup yang terkecil misalnya keluarga untuk menjaga agar anak-anak kita tetap ingat akan budaya leluhurnya, tidak lupa darimana kita berasal, yaitu Nusantara", ujarnya.

Selain itu ada juga penyampaian sikap dari ketua PIN Wilayah Bali, Cahyo yang dengan tegas mengatakan menolak faham khilafah dan melakukan gerakan konter pemikiran mereka lewat media sosial. Kekhawatiran akan semakin meluasnya ideologi khilafah di Indonesia ini disinyalir melalui budaya-budaya timur tengah yang mengikutinya. "Makanya saya tekankan kepada seluruh anggota PIN Bali agar tidak memilih Calon DPD ataupun Caleg DPR (disetiap tingkatan) khususnya yang dari Bali yang terlihat tidak mampu dan mau menjaga budaya Nusantara ini". Tegasnya.

Lewat paparan tokoh Muslim H. Agus Bambang Priyanto SH. atau lebih dikenal dengan Haji Bambang Bom Bali, dalam kesempatan itu terungkap adanya informasi yang beredar di masyarakat Bali bahwa dia mencalonkan diri sebagai Calon anggota DPD. "Entah info ini sengaja dimunculkan atau tidak, saya tidak tahu, yang jelas banyak sekali kawan-kawan yang secara langsung atau menelpon ke saya menanyakan hal itu", ungkapnya. 

"Dalam kesempatan ini sekaligus saya ingin sampaikan secara terbuka bahwa saya tidak pernah mencalonkan diri sebagai anggota DPD", tambah pria yang banyak mendapatkan penghargaan nasional maupun internasioanal atas perannya dalam proses evakuasi korban Bom Bali 2002. Salah satunya oleh PBB,

Haji Bambang yang ibunya berasal dari keluarga asli Bali mengatakan bahwa tidak semudah itu untuk membawa amanah sebagai wakil di DPD. Meskipun dia cukup memahami adat dan budaya Bali lewat keluarga ibunya, dan keluarga ayahnya yang sejak tahun 1925 selama enam generasi hingga sekarang hidup menetap di Bali, tetap ada keterbatasan dalam hal-hal spiritual karena adat dan budaya Bali sangat lekat dan berkaitan dengan ajaran Hindu. "Saya sangat menghormati adat dan budaya itu dan berharap agar selalu terjaga dengan baik sebagai bagian dari budaya Nusantara". tandasnya.

(dad)