Pentingnya Penyegaran Gerakan dan Garis Komando NU

Pentingnya Penyegaran Gerakan dan Garis Komando NU

Pentingnya Penyegaran Gerakan dan Garis Komando NU

Oleh: Rais Aam PBNU, KH. Miftahul Akhyar

إِنَّ اللَّهَ يَبْعَثُ لِهَذِهِ الْأُمَّةِ عَلَى رَأْسِ كُلِّ مِائَةِ سَنَةٍ مَنْ يُجَدِّدُ لَهَا دِينَهَا

(رواه أبو داود والحاكم والبيهقي)

Menyongsong satu abad usia Jam’iyah Diniyah Islamiyah Nahdlatul Ulama, marilah kita ingat sabda Rasulullah SAW di atas. Bahwa sesungguhnya Allah SWT akan mengutus bagi umat ini pada setiap awal seratus tahun, orang-orang yang akan memperbarui atau menyegarkan bagi umat ini hal-hal yang terkait dengan urusan agama mereka.

Saat ini, dunia telah memasuki era Revolusi Industri 4.0. Marilah kita merenungkan dan merekontekstualisasi (i’âdah an-nadzar) apa yang salah dan apa yang benar dari perjalanan kita selama ini. Marilah kita renungkan juga nilai-nilai yang telah ditanamkan oleh para pendahulu kita dalam bingkai trilogi ukhuwah. Yakni ukhuwah Islamiyah (persaudaraan internal umat Islam), ukhuwah wathaniyah (persaudaraan kebangsaan) dan ukhuwah insaniyah/basyariyah (persaudaraan kemanusiaan). Kita bisa tambahkan juga ukhuwah nahdliyah di dalamnya.

Nilai-nilai itu bisa menjadi cerminan moral yang prima, agar dampak negatif pergeseran tatanan dunia tidak begitu berpengaruh dalam perjalanan anak bangsa di era Revolusi Industri 4.0 dan dalam rangka meraih manfaat bonus demografi. Kita tentu berharap, bonus demografi bukan justru menjadi musibah demografi.

Kalau era Revolusi Industri 4.0 dianggap menjadi tanda meningkatnya peradaban kemanusiaan, maka kita harus mengimbanginya dengan 4G. Yaitu, empat ajaran khas dan konsep besar Nahdlatul Ulama, sekaligus dalam rangka mengamalkan hadits di atas. Kita dan jam’iyah Nahdlatul Ulama perlu penyegaran 4G tersebut.

Pertama, Grand Idea. Yaitu, visi-misi Nahdlatul Ulama sebagai instrumen untuk menyatukan langkah, baik ulama struktural maupun kultural. Terutama para ulama pondok pesantren, agar berada dalam satu langkah dan satu keputusan, untuk menggalang kekuatan bersama.

Kedua, Grand Design. Berupa program-program unggulan yang terukur. Di sini, hadits di atas menyatakan, setiap awal datangnya kurun 100 tahun, Allah SWT akan mengutus seseorang, dua orang, atau beberapa orang, untuk menyegarkan kembali aturan-aturan yang sudah mulai banyak ditinggalkan. Usia Nahdlatul Ulama saat ini sudah hampir satu abad. Kalau hitungan usia masehi, memang 93 tahun, tapi usia hijri-nya sudah mencapai 96 tahun.

Ketiga, Grand Strategy. Ini bisa dilakukan dengan mengintensifkan penyebaran inovasi yang terencana, terarah dan dikelola dengan baik, serta distribusi kader-kader terbaik Nahdlatul Ulama ke ruang-ruang publik yang tersedia. Kader kita saat ini belum berperan maksimal di semua ruang-ruang publik yang ada. Karena itu, perlu ada grand strategy terkait keberperanan kader-kader kita.

Keempat, Grand Control. Sistem dan gerakan Nahdlatul Ulama harus bisa melahirkan garis komando secara organisatoris dari PBNU sampai kepengurusan di tingkat anak ranting. Dari situ, Nahdlatul Ulama akan menjadi organisasi keagamaan dan sosial yang bergerak secara sistemik, proaktif, dan responsif, serta terus-menerus menebarkan kasih sayang (rahmatan lil alamin). Nahdlatul Ulama akan mampu menebarkan kemaslahatan di dunia sampai akhirat dan bersaing di segala bidang dengan organisasi-organisasi lainnya.

Terkait hal ini, kita patut mengingat kembali isyarat yang disampaikan oleh Syaikhona Cholil Bangkalan kepada Hadratussyaikh KH Hasyim Asy’ari menjelang pendirian Nahdlatul Ulama. Isyarat berupa tongkat dan surah Thaha ayat 17-23 yang berisi kisah Tongkat Mukjizat Nabi Musa AS itu menegaskan bahwa Nahdlatul Ulama dilahirkan tiada lain kecuali untuk mengomando.

Tongkat Nabi Musa AS adalah simbol sistem komando. Sampai sekarang pun tongkat menjadi simbol komando para panglima. Sebagai panglima tertinggi, misalnya, presiden juga memegang tongkat komando.

Jadi, itulah yang diharapkan oleh para pendiri Nahdlatul Ulama. Agar kelahiran NU bukan sekadar memperbanyak jumlah organisasi yang ada di masyarakat. Di samping untuk menjaga dan meluruskan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah, kita juga diharapkan menjadi Tongkat Sakti Nabi Musa. Itulah harapan dari para pendiri Nahdlatul Ulama yang juga sudah dibuktikan oleh generasi terdahulu.

Kita wajib menjaga dan mengamalkan nilai-nilai ahlussunnah wal jamaah. Juga, mengembangkan nilai-nilai kebangsaan dan mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI). Ini kewajiban setiap anggota yang tercantum dalam AD-ART Nahdlatul Ulama. Pada tingkat pengurus, wajib memberikan arahan dan kontrol kepada anggota. Hal itu berlaku dalam situasi normal. Dalam situasi seperti sekarang, saat banyak kelompok ingin menghabisi Nahdlatul Ulama dan mengikis ahlussunnah wal jamaah, maka kader-kader Nahdlatul Ulama harus berperan seperti Tongkat Nabi Musa.

Silahkan kader-kader Nahdlatul Ulama menjadi “ular-ular” untuk membasmi kezaliman, kemaksiatan dan kemungkaran. Jadilah anggota legislatif, bupati, gubernur, atau mengisi jabatan publik apapun, yang mampu menjadi kekuatan (ashabul qoror wal quwwah) untuk meratakan kesejahteraan dan keadilan. Tapi, sebagaimana disebutkan dalam surah Thaha, setelah berubah menjadi ular naga dan berhasil menumpas kezaliman, maka tongkat itu harus kembali kepada bentuknya semula. Manakala sudah dianggap cukup oleh para Syuriah, maka kader-kader Nahdlatul Ulama harus siap kembali menjadi tongkat. Itulah sistem komando dan sikap kebanggaan kita: sami’na wa atha’na.

Kekuatan jam’iyah Nahdlatul Ulama sebenarnya sangat luar biasa. Tapi selama ini banyak warga Nahdlatul Ulama yang hanya memosisikan diri sebagai jamaah, belum ber-jam’iyah. Inilah yang perlu kita jam’iyah-kan. Jangan sampai nantinya warga tercerai berai hanya untuk kepentingan-kepentingan sesaat. Mereka harus mengikuti satu komando, yang dikomando dari PBNU dan didukung oleh para mustasyar.

Men-jam’iyah-kan jamaah dengan segala potensinya yang berkekuatan raksasa ini, menjadi pekerjaan rumah terpenting dari sekian pekerjaan rumah yang lain. Sebab, potensi raksasa ini, kalau tidak dikelola dengan baik dan benar, justru akan menjadi beban dan terpecah belah. Menjadi bulan-bulanan dan diperebutkan oleh kelompok-kelompok lain. Rasulullah SAW mengingatkan kita dalam sabda beliau:

لَا تَكُوْنُوْا إِمَّعَةً، تَقُوْلُوْنَ: إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَحْسَنَّا، وَإِنْ ظَلَمُوْا ظَلَمْنَا، وَلَكِنْ وَطِّنُوْا أَنْفُسَكُمْ، إِنْ أَحْسَنَ النَّاسُ أَنْ تُحْسِنُوْا، وَإِنْ أَسَاءُوْا فَلَا تَظْلِمُوْا (رواه الترمذي)

“Janganlah kalian menjadi orang yang plin-plan dan latah. Kalian mengatakan, ‘Jika orang-orang berbuat baik, kami juga ikut baik. Dan jika mereka berbuat zalim, kami pun ikut zalim’. Namun mantapkanlah jiwa kalian; jika masyarakat berbuat baik, kalian tetap melakukan kebaikan, dan jika mereka melakukan kejahatan, maka jangan ikut berbuat zalim”.  (HR At-Tirmidzi)

Hadits di atas mengingatkan kita agar selalu memantapkan karakter dan kepribadian. Kader Nahdlatul Ulama harus mampu menunjukkan kepribadian dan semangat menuju kebaikan serta menjaga idealisme dan kemandirian dalam bersikap. Ikut-ikutan orang lain dan menjadi latah, hanya akan membuat kita terpecah belah, terombang-ambing dan menjadi bulan-bulanan.

Sayyidina Ali karramallahu wajhah juga pernah berpesan, “Dengan perpecahan, tidak ada satu kebaikan dikaruniakan Allah kepada seseorang, baik dari orang-orang terdahulu maupun orang-orang yang datang belakangan”.

Sebab, suatu kaum apabila hati mereka berselisih dan hawa nafsu mereka mempermainkan mereka, maka mereka tidak akan melihat suatu tempat pun bagi kemaslahatan bersama. Mereka bukanlah bangsa yang bersatu, tapi hanya individu-individu yang berkumpul dalam arti jasmani belaka. Hati dan keinginan mereka saling selisih. Engkau mengira mereka menjadi satu, padahal hati mereka berbeda-beda.

Marilah kita songsong abad kedua Nahdlatul Ulama dengan menyegarkan kembali gerakan dan sistem komando kita. Agar, posisi Nahdlatul Ulama sebagai ashabul haq sekaligus (meraih posisi) ashabul qoror wal quwwah dapat terwujud dalam berbagai dimensi kehidupan kebangsaan dan kemasyarakatan kita.(*)

 
 

Tags