Sebagian HGU Tanah PT CA di Abdya Dicabut Menteri ATR

Sebagian HGU Tanah PT CA di Abdya Dicabut Menteri ATR

LADUNI.ID, Blangpidie - Sofyan Djalil, selaku Menteri Agraria dan Tata Ruang (ATR)/Kepala Badan Pertanahan Nasional (BPN) RI,dikabarkan telah mencabut sebagian tanah Hak Guna Usaha (HGU) PT Cemerlang Abadi (PT CA) di kawasan Desa Cot Seumantok dan Alue Jeureujak, Kecamatan Babahrot, Aceh Barat Daya (Abdya) karena ditelantarkan. Dari luas 4.864,88 hektare (ha) yang diajukan perpanjangan HGU, hanya 2.050 ha ditambah 900 hektare untuk areal plasma yang disetujui Menteri Agraria. Walaupun demikian, SK Menteri ATR/BPN RI tersebut belum diterima oleh Badan Pertanahan Abdya untuk diserahkan ke pihak PT CA tersebut.

“Saya memang mendengar informasi seperti itu (Menteri Agraria sudah mengeluarkan SK izin perpanjangan HGU PT CA), tapi hingga saat ini SK tersebut belum kami terima,” tutur Kepala Badan Pertanahan Kabupaten Abdya, M Arfarth Satya A Ptnh.

Seperti dikutip dari harian Kompas edisi 6 April 2019, Menteri ATR/Kepala BPN RI, Sofyan Djalil saat Banda Aceh mengatakan, baru-baru ini, pihaknya mengambil sebagian tanah HGU milik PT Cemerlang Abadi yang terletak di Kabupaten Abdya karena dianggap tidak dikelola. Lebih lanjut menteri asal Aceh tersebut menjelaskan, bahwa perusahaan perkebunan itu mengajukan izin perpanjangan HGU seluas 4.864,88 ha, namun yang disetujui hanya 2.050 hektare. “Ditambah 900 hektare untuk plasma, jika tidak dilakukan (plasma), maka akan ditarik kembali,” papar Sofyan Djalil.

Adapun sisanya, akan dijadikan Tanah Obyek Reformasi Agraria (TORA) yang akan dibagikan kepada warga. Hingga Saat ini, mekanisme pembagian tanah kepada warga masih dibahas bersama pemerintah kabupaten setempat. “Izin perpanjangan kami berikan untuk lahan yang selama ini dikelola, sedangkan yang ditelantarkan diambil kembali oleh negara,” pungkas Sofyan Djalil.

Selain itu, Menteri Agraria menekankan pemerintah daerah harus menghormati perusahaan yang mengelola tanah HGU dengan produktif. Oleh sebab itu, perusahaan yang mengelola dengan baik dan menjalankan kewajibannya, layak izin HGU-nya diperpanjang. “Kalau izin HGU habis dan digunakan secara produktif, ya harus diperpanjang. Sebab, tanah akan bermanfaat jika produktif. Izin perpanjangan kami berikan untuk lahan yang selama ini dikelola, sedangkan yang ditelantarkan diambil kembali oleh Negara,” imbuhnya.

Terkait hal tersebut, Manajemen PT Cemerlang Abadi (CA) melalui Koordinator Kebun, Agus Marhelis mengaku belum mendapat informasi kalau Menteri ATR/Kepala BPN RI telah mengeluarkan izin perpanjangan HGU untuk perusahaannya seluas 2.050 hektare. “Kami belum dapat info, kami cek dulu, bila SK Menteri telah diterima, maka pihak manajemen segera mengambil sikap." Ucapnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, izin HGU PT CA seluas 7.516 ha di kawasan Desa Cot Seumantok dan Alue Jeureujak, Babahrot, Abdya sudah berakhir sejak 31 Desember 2017. Namun, hingga memasuki awal 2019, Kementerian ATR/Kepala BPN) RI belum juga mengeluarkan izin perpanjangan HGU, meski sebelum berakhir izin manajemen PT CA telah mengusulkan perpanjangan izin HGU untuk lahan seluas 4.847 ha. Ironisnya, walau belum mengantongi izin HGU, PT CA tetap beroperasi seperti biasa, terutama melakukan kegiatan produksi berupa panen TBS (tandan buah segar) kelapa sawit selama setahun lebih atau sejak izin HGU berakhir.

Selain itu, Pemerintah Kabupaten Abdya, menerima dan mendukung keputusan Menteri tersebut, dan menawarkan kosep penggunaan tanah bekas lahan HGU PT CA bila Menteri ATR/Kepala BPN) RI menolak sebagian atau seluruhnya usulan perpanjangan izin HGU seluas 4.847 ha yang diajukan perusahaan tersebut. Konsep penggunaan tanah atau lahan yang berlokasi di kawasan Desa Cot Seumantok dan Alue Jeurejak, Kecamatan Babahrot itu disarankan menjadi sawah pengembangan sumber benih unggul, minimal untuk kebutuhan benih Pulau Sumatera. Maka bekas lahan itu tidak dibagi, tapi dikelola oleh pemerintah pusat, provinsi, dan daerah. Lahan tersebut dijadikan sawah baru sebagai Tanah Objek Reforma Agraria (TORA) untuk lokasi pengembangan benih unggul tersebut.