Biografi KH. Muhammad Ilyas Ruhiat

Biografi KH. Muhammad Ilyas Ruhiat

Kelahiran

Kiai Haji Muhammad Ilyas Ruhiat adalah seorang ulama besar Nahdhatul Ulama, dan pernah menjabat sebagai Rais Aam Pengurus Besar Nahdhatul Ulama (1992-1999) dan lima ulama kharismatik Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai kiai yang santun, banyak mengalah dan lebih senang menghindari konfrontasi.

Kiai Haji Muhammad Ilyas Ruhiat lahir di Cipasung, Jawa Barat, 31 Januari 1934, meninggal Tasikmalaya, 18 Desember 2007

Pendidikan

Pendidikan beliau HIS Banjar (1940 – 1943), Madrasah Diniyah Cipasung (1943 – 1946), SPI Cipasung (1950 – 1953), Madrasah Aliyah Persamaan (1968). Pernah kuliah di Universitas Madjapahit Jakarta, Universitas Islam Syeikh Yusuf Jakarta, dan Institut Islam Siliwangi Bandung. Namun semuanya tidak sampai tamat. Juga pemah mengikuti kursus kader mubaligh Pesantren Cipasung tahun 1954.

Kiprah di Nahdlatul Ulama

Perjalanan Kiai Ilyas di NU dimulai dengan menjadi :Ketua Cabang IPNU Tasikmalaya (1954 – 1958), lalu naik menjadi Wakil Ketua PW IPNU Jawa Barat (1956), Wakil Rais Syuriah PCNU Tasikmalaya (1960), Wakil Rais Syuriah III PWNU Jawa Barat (1968 – 1970), Wakil Rais Syuriah II PWNU Jawa Barat (1974 – 1977), Mustasyar PWNU Jawa Barat (1980), Rais Syuriah PWNU Jawa Barat (1985 – 1989), Awan Syuriah PBNU (1984 – 1989), Rais Syuriah PBNU (1989 – 1992), Pjs Rais Aam (1992 – 1994).

Sejak Muktamar ke-29 di Cipasung pada 1994, Kiai Ilyas menempati posisi Rais Aam PBNU. Posisi sebagai orang pertama di PBNU itu dipegangnya hingga tahun 1999, dan dalam Muktamar ke-30 di Lu-boyo, Kediri (1999), Kiai Ilyas menempati posisi sebagai salah seorang Mustasyar PBNU sampai tahun 2004.

Selain itu juga aktif di MUI. Dimulai dari Seksi Hukum MUI Tasikmalaya (1967), anggota pimpinan MUI Tasikmalaya (1970), Ketua Bidang Pendidikan MUI Jawa Barat (1979 – 1989), Ketua Dewan Pertimbangan MUI Jawa Barat, anggota Dewan Pertimbangan MUI Tasikmalaya, anggota Dewan Pertimbangan MUI Pusat, Ketua Bidang Ukhuwah MUI Pusat (1995 – 2000). Di Departemen Agama pemah dua kali sebagai Naib Amirul Haj, 1992 dan 1994.

Sejak muda Kiai Ilyas dikenal sebagai kiai yang santun, banyak mengalah dan lebih senang menghindari konfrontasi. Begitu pula ketika memangku jabatan Rais Aam PBNU. Ia lebih banyak mengalah dari Ketua Umum Tanfidziyah PBNU K.H. Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Karena itulah ketika Gus Dur banyak melontarkan gagasan yang banyak dinilai keluar dari budaya NU, nyaris tidak mendapatkan tantangan dari Syuriah.

Di usia senjanya Ajengan Ilyas lebih banyak mencurahkan perhatiannya pada dunia pendidikan. Lebih khusus pendidikan di dalam Pesantren Cipasung, Singaparna, Tasikmalaya yang diasuhnya.