Kita Tak SIgnifikan

Kita Tak SIgnifikan

LADUNI.ID - Banyak hal yang harus kita urus. Banyak hal yang harus kita selesaikan. Banyak hal yang masih harus kita capai. Kita merasa harus memberi perubahan. Kita merasa sangat penting untuk mencapai keberhasilan dan membentuk dunia yang menurut kita lebih baik.

Tapi sepenting apapun peran kita bagi pasangan, anak, dan keluarga, peran kita juga bisa digantikan oleh orang terdekat yang akan muncul dalam kehidupan mereka. Sepenting apapun posisi kita di tempat kerja, peran kita bisa digantikan oleh orang lain yang berkemampuan sama. Seberapa pun hebatnya kita, selalu ada yang bisa menggantikan. Semua hanya masalah waktu.

Seberapa kuat pun kita berusaha membantu orang tak mampu, tetap saja orang tak mampu selalu ada. Seberapa kuat pun kita berusaha mendidik masyarakat, orang-orang yang tak terdidik selalu lahir. Seberapa kuat pun kita membela apa yang kita yakini benar, orang-orang yang kita anggap salah selalu bermunculan. Seberapa kuat pun kita membuat orang-orang sependapat, tapi yang tak sependapat tak pernah habis.

Tuhan menciptakan kita begitu tak signifikan sehingga di detik kapan pun kita dimatikan, maka dunia akan tetap berjalan di rel yang sudah ditentukan oleh-Nya. Seluruh hal yang kita anggap penting; agama, ideologi, kemajuan, kemakmuran, wawasan atau apapun akan tetap sepenuhnya dalam jalur yang dikehendaki Tuhan. Kita sendiri tak lebih bagaikan setetes air dalam arus sungai besar yang jalurnya digurat sendiri oleh Tuhan.

Tapi untunglah Tuhan tak menuntut kita untuk mengubah dunia, sebab dituntut pun takkan bisa. Tuntutan Tuhan begitu sederhana, yakni: Seberapa rajin kita shalat, seberapa banyak kita puasa, zakat dan beribadah?, seberapa banyak larangan Tuhan yang mampu kita hindari?, seberapa banyak senyum yang mampu kita lukis dalam wajah orang-orang di sekitar kita?, seberapa tulus kita berusaha berbuat sesuatu yang kita yakini baik?, seberapa kuat kita meniadakan yang buruk-buruk dari diri kita dan lingkungan, dan seberapa tahan kita menghadapi berbagai musibah dan kesulitan?

Itu saja yang dituntut dari kita. Itu saja yang akan jadi bekal kita menghadap Tuhan. Itu saja yang harusnya kita jadikan fokus dalam jatah hidup kita yang hanya beberapa puluh saja. Soal hasil dan perubahan, itu bagian Tuhan.

Oleh: Abdul Wahhab Ahmad

ASWAJA NU Center Jawa Timur