Kenangan Lucu KH Mustofa Bisri Saat Mondok di Lirboyo

Kenangan Lucu KH Mustofa Bisri Saat Mondok di Lirboyo

LADUNI.ID, Jakarta – Berikut ini adalah kisah KH Mustofa Bisri atau Gus Mus sewaktu beliau berada di pondok pesantren Lirboyo dulu. Beliau bercerita bahwa ketika dulu pondok punya keinginan untuk mengambil tebu milik kiai Marzuki, kiainya Gus Mus. Beginilah cerita Gus Mus.

***

Suatu ketika, ini ndak ada di buku-buku, dan ndak pernah diceritakan oleh siapa-siapa karena ini rahasia saya. Jadi waktu mondok di sini itu, dulu kiai-kiai itu, kiai Marzuki, kiai Mahrus itu punya kebun tebu yang luar biasa. Maka kalau and abaca puisi saya tentang lirboyo, anda akan tahu bahwa dulu itu dari lirboyo sampe ke kota itu pemandangan itu pohon tebu semua.

Suatu ketika saya dengar, tebunya kiai Marzuki akan ditebang. Maka saya kumpulkan kawan-kawan saya, kawan-kawan saya yang istimewa-istimewa itu, tak ajak rembukan. Ini kabarnya ini kalo ndak nanti sore ya besok ini tebu-tebunya kiai mau ditebang. Bagaimana kalau kita ngambil sekarang yang belum ditebang ini? Setuju-setuju. Tapi rahasiakan ini hanya kita sendiri yang tahu. Kalau sampe ada yang tahu di antara sampean ini pasti ada yang membukakan. Awas kalo ada yang buka.

Dulu saya itu kawannya gus Miek, jadi semua ya agak takut, pengurusnya saja takut na’zir saya kok. Udah, baru saya jalan. Teman-teman belum jalan. Saya yang dekat dengan rumahnya kiai, karena saya di pondok males dulu itu. Lewat gitu. Dipanggil sama kiai Marzuki, keringetan saya. Mau dicolong tebunya kok manggil-manggil.

“Gus, gus mriki gus (Gus, gus sini gus)”. Kiai Marzuki itu keistimewaannya bhoso karo santrine. Yang menangi kiai Marzuki tahu bhoso. Kalo kita kiai bhoso ambek kiai kita ya biasa. Ini kiai bhoso ambek santrine. “Gus mriki gus”. Saya dengan gemetaran datang. “Inggih kiai”. “Sampean doyan tebu?”. Wehhhh… pertanyaannya kok, saya ndak jawab saya mantuk-mantuk. Saya teringat kawan-kawan saya yang sudah menunggu komando saya tadi. “Doyan tebu samean?”

Beliau masuk ke dalam. Ndak pake baju. Kiai Marzuki sering ote-ote, ndak pake baju. Masuk ke dalam. Keluar mikul sak bongkok tebune. “Ini gus, saya pilihkan yang bagus-bagus, sebelum ditebang.”

Lho ini sekaligus ini, saya kurang hormat saya kiai, tebunya kok mau saya colong. Dan apa namanya, saya ndak tahu dari mana, makanya saya bilang ada punya indra ke enam. Dan sebetulnya gampangan kalo kiai jaman sekarang, heh ojo nyolongan. Ojo nyolongan. Duso gede. Wassariqa… mesti dalil mesti. Ini tidak. Kita dikasih sesuatu yang mau saya curi itu. Ada perbedaan antara pengajaran dan tarbiyah itu.

***

Itulah cerita dari Gus Mus saat mondok di Lirboyo beberapa tahun silam. Saya yang mendengarnya saja sambil ngakak, tetapi juga bisa diambil pelajaran bahwa begitulah cara mendidik seorang kiai dengan sangat baik dan santun, tetapi barokah. Subhanallah…