Amalan Utama di Bulan Ramadhan

Amalan Utama di Bulan Ramadhan

LADUNI.ID - Selama bulan Ramadhan umat Islam diwajibkan berpuasa pada siang hari. Selain ibadah puasa tersebut, beberapa ibadah lainnya yang perlu dilakukan untuk menambah kualitas kesempurnaan ibadah kita menuju pribadi mulia, tangguh dan bertakwa. Di antara aktivitas ibadah yang perlu mengiringi ibadah puasa ialah:

1. Shalat tarawih dan witir yang dalam bahasa hadis disebut qiyamul lail, artinya shalat sunnat di malam hari. Sebagaimana dianjurkan dalam hadis Nabi SAW.: 
مَنْ قَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا، غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ
"Barangsiapa qâma ramadhan (bangun pada malam Ramadhan) dengan penuh iman dan mengharap ridha Allah, maka dosa-dosanya yang lalu akan diampuni. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

Qâma Ramadhan yang dimaksud dalam hadis ini ialah menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan cara melaksanakan shalat sunnat, seperti shalat tarawih dan witir. Dalam konteks masyarakat muslim Indonesia, sudah mentradisi shalat tarawih dan witir berjamaah di masjid, surau, atau pun di kantor bahkan di hotel dan tempat-tempat lainnya, hal ini diharapkan akan semakin mengasah spritual dan mempertebal rasa kebersamaan dan ukhuwah di antara sesama. Semarak shalat tarawih dan witir tidak hanya dalam sepekan awal Ramadhan, tapi harusnya berlangsung terus hingga akhir Ramadhan. Nabi SAW. justru pada sepuluh hari terakhir semakin kencang dan begadang menghidupkan malam-malam Ramadhan dengan ibadah, khususnya malam i'tikaf. Apalagi berharap lailatul qadri, malam lebih mulia dari seribu bulan.

2. Tadarrus, artinya membaca dan mengkaji al-Qur'an, bahkan kalau bisa mengkhatamkan al-Qur'an. 
Al-Qur'an diturunkan kepada Nabi SAW. pada bulan Ramadhan. Allah berfirman: ”Bulan Ramadhan adalah (bulan) yang di dalamnya diturunkan al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia.” (QS. Al-Baqarah: 185).

Dalam hadis disebutkan: 
وَكَانَ جِبْريلُ يَلْقَاهُ في كُلِّ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ
Adalah malaikat Jibril menemui Nabi SAW. setiap malam Ramadhan, lalu keduanya sama-sama membaca al-Qur'annya.” (HR. Bukhari dari Ibnu Abbas). 
Kata Ibnu Hajar al-’Asqalani, فَيُدَارِسُهُ القُرْآنَ maksudnya, Malaikat Jibril dan Nabi SAW. bergantian membacanya. Apabila Malaikat Jibril yang membaca al-Qur’an, Nabi SAW. mendengarkan. Begitu juga, apabila Nabi SAW. membacanya, malaikat Jibril yang mendengarkannya. Kebiasaan Nabi SAW. seperti inilah yang kemudian menjadi sebuah sunnah tadarrus setiap bulan Ramadhan. Dalam upaya peningkatan pemahaman terhadap isi kandungan al-Qur'an, setelah dibaca dengan tartil dan suara yang baik, maka sebaiknya diketahui pula terjemahan dari ayat yang dibaca, lalu dicarikan maksudnya melalui kitab-kitab tafsir. Selanjutnya dihayati dan diamalkan serta didakwahkan.

3. Memperbanyak doa. 
Rasulullah SAW. Bersabda: 
ثَلاَثُ دَعَوَاتٍ مُسْتَجَابَاتٍ دَعْوَةُ الصَّائِمِ وَدَعْوَةُ الْمَظْلُومِ وَدَعْوَةُ الْمُسَافِر
Ada tiga doa yang mustajab: 1. Doanya orang yang berpuasa, 2. Doanya orang yang teraniaya, dan 3. Doanya musafir. (HR. Thabarani dari Abu Hurairah). 
Berdoa kepada Allah, hakekatnya ialah menyadari sepenuhnya akan kebutuhan kita kepada Allah, sekaligus mengakui seluruh kelemahan dan keterbatasan kita. Berdoa kepada Allah, artinya merapatkan diri kepada-Nya. Semakin sering berdoa kepada-Nya, semakin Allah senang kepada kita. Inilah yang dimaksud bahwa doa adalah ibadah. Bukan doa seperti meminta saja sesuatu. Kalau permintaan terpenuhi senang, tapi kalau tidak terpenuhi kita tidak senang.

4. Tafthir, artinya memberi buka puasa, baik makanan atau minuman. Betapa senangnya Allah kepada orang-orang yang dapat menghilangkan rasa lapar dan haus hamba-hambanya terutama yang sedang berpuasa. Dalam hadis Nabi SAW. Beliau bersabda: 
مَنْ فَطَّرَ صَائِمًا كَانَ لَهُ مِثْلُ أَجْرِهِ، غَيْرَ أَنَّهُ لَا يَنْقُصُ مِنْ أَجْرِ الصَّائِمِ شَيْئًا
"Siapa memberi buka puasa kepada orang yang berpuasa, maka ia akan memperoleh pahala sama dengan pahala orang yang berpuasa tak kurang sedikitpun. (HR. Tirmidzi dari Zaid bin Khalid).

5. Berlapang dada terhadap keluarga, memberikan nafkah dan belanja yang cukup bahkan lebih, tapi tidak boros. Maksudnya menggembirakan keluarga agar selalu memperlihatkan wajah-wajah yang ceria dan cerah. Tidak baik dan tidak boleh mememperlihatkan wajah susah, wajah cemberut, apalagi wajah frustrasi, putus asa selama bulan Ramadhan. Termasuk kepada para anggota kerabat keluarga, tetangga dan masyarakat umumnya. Ibnu Abbas menjelaskan:
كَانَ رَسُولُ اللهِ صلى اللهُ عليه وسلَّم أَجْوَدَ النَّاسِ بِالْخَيْرِ وَكَانَ أَجْوَدُ مَا يَكُونُ فِي رَمَضَانَ حِينَ يَلْقَاهُ جِبْرِيلُ عليه السلام
Rasulullah SAW. adalah orang yang paling dermawan dengan kebaikan. Kedermawanannya itu lebih (tampak) lagi dalam bulan Ramadhan ketika ditemui malaikat Jibril ‘Alaihissalam.” (HR. Bukhari).

6. Demikian juga ibadah yang bernuansa sosial kemanusiaan lainnya, seperti sedekah, infak, wakaf, hibah, lain-lain sangat dianjurkan selama bulan Ramadhan. Walaupun pada hakekatnya, bagi orang yang mampu, tidak hanya pada bulan Ramadhan saja, tapi kapan saja ia dianjurkan berbagi. Pemberian dan bantuan serta kebaikan sosial selama bulan Ramadhan jauh lebih utama, karena nilai kebaikannya dilipatgandakan Allah dibandingkan di luar Ramadhan. Apalagi zakat memang wajib hukumnya, sama dengan wajibnya puasa.

7. Menahan diri untuk tidak sembarang berbicara yang tidak ada manfaatnya, bicara yang berlebih-lebihan. Terlebih lagi pembicaraan bohong, ghibah, fitnah, dan yang semacamnya. Termasuk saat ini era media sosial dengan gampang dan mudahnya klik dan share berita-berita, gambar dan video tak jelas sumbernya, menyebarkan aib dan kejelekan orang lain, apalagi kalau berita itu Hoax dan fitnah. Apalagi dipicu oleh kepentingan politik praktis atau propaganda politik. Selama puasa Ramadhan, semuanya dihentikan, dan selamanya dihentikan. 
Rasulullah SAW. mengingatkan: 
مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ وَالْجَهْلَ فَلَيْسَ للهِ حَاجَةٌ أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ
Siapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta, malah justru melakukan kedustaan dan kebodohan, maka Allah tidak memerlukan orang yang hanya sekedar meninggalkan makanan dan minuman. (HR. Bukhari dari Abu Hurairah).

8. Selama Ramadhan, semarak taklim dan dakwah perlu ditradisikan dan digalakkan. Alhamdulillah, hampir semua media cetak dan elektronik menampilkan acara-acara yang bernuansa spritual dan agama. Ini berarti, hampir tidak ada ruang dan waktu yang tersia-sia dalam aksi pencerahan spritual, moral, dan sosial yang semuanya untuk peningkatan kualitas diri secara total. Semoga.

Semoga bermanfaat dan menjadikan ibadah puasa kita semakin berkualitas dan terbaik bandingkan dengan sebelumnya.

Oleh: Dr. Wajidi Sayadi, M.Ag