Meraih Titel "Cumlaude" Universitas Ramadhan

Meraih Titel

LADUNI. ID,  KOLOM-Bulan Ramadhan yang merupakan bulan berkah dan penuh bermacam kelebihan sudah selayaknya umat Islam mempersibuk diri pribadi dan orang yang menjadi tanggungannya semaksimal mungkin meraih pundi pahala untuk di tabung di bank akhirat. 

Tentunya jauh sebelum datang tamu agung Ramadhan ini telah mempersiapan pra-Ramadan menjadi start permulaan  yang sangat menentukan seseorang untuk meraih berbagai kelebihan dan keutamaan dalam bulan Ramadan.

Menyerukan beribadah bukan hanya bulan ini saja bahkan diluar Ramadhan untuk meningkatkan amal ibadah kita kepada sang khalik. Allah swt. juga menyebutkan dalam firman-Nya: “Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb yang Maha Penyayang itu (ialah) orang –orang yang berjalan di atas bumi dengan merendahkan hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata ( yang mengandung ) keselamatan. Dan orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (QS. Al – Furqon:63 – 64).

Di antara kelebihan bulan Ramadan dibukakan pintu syurga dan ditutup pintu neraka sebagaimana sabda Rasulullah SAW: “Jika bulan Ramadan tiba, maka dibukalah pintu-pintu surga, ditutuplah pintu-pintu neraka, dan setan-setan dibelenggu” (HR. Bukhari no. 1898, 1899 dan Muslim no. 1079)

Di kala  malam hari, nabi memotivasi kita untuk bergadang yang diisi dengan ibadah alias qiyamullail, maka pada siang harinya, kita diperintahkan untuk berpuasa. 

Demikianlah, kalau semua itu kita lakukan dengan ikhlas karena Allah, pasti bakal diampuni dosa-dosa kita yang telah lalu. Dengan ampunan itulah, kita bisa selamat dari lahapan Neraka. Ramadan tidak menghalangi kita untuk beraktivitas sebagaimana hari lainnya.

Banyak di antara kita yang  tetap memiliki rutinitas mencari nafkah, belajar dan bekerja di bulan ini. Bekerjalah dengan penuh semangat dan teliti. Selingilah waktu-waktu bekerja dengan berzikir dan tidak meninggalkan salat berjamaah di awal waktu.

 Teruslah berusaha menambah kontribusi ibadah dan amalan  sunnah yang bisa dilakukan di saat bekerja. Seperti amar ma’ruf nahi mungkar walau dalam skala yang kecil dan terbatas, bersedekah, ikut berkontribusi dalam pelaksanaan kegiatan di masjid, kantor, dan sebagainya.

Semua aktivitas tersebut akan bernilai dengan balasan berupa pahala, semakin ikhlas berusaha akan semakin berlipat ganda pahalanya. 

Terlebih seorang suami dia mencari nafkah bukan hanya untuk dirinya tetapi anak dan keluarganya bahkan orang tuanya sendiri, tentu saja akan semakin menambah nilai pahalanya sesuai dengan sebuah qaidah fiqh yang maksudnya:  “pahala tergantung pada besarnya manfaat bukan kadar kesulitannya”.

Di samping itu harus diingat pula kadar pahala puasa itu hak preogratif Allah swt.,sebagaimana dalam sebuah hadis disebutkan; “Seluruh amal ibadah bani Adam adalah miliknya, dan setiap kebaikan akan dibalas sepuluh kali hingga tujuh ratus kali lipat.” Allah swt. berkata : ”kecuali ibadah puasa, sesungguhnya ia adalah milik-Ku dan Akulah yang langsung membalasnya. Seorang yang berpuasa telah menahan diri dari syahwat, makanan dan minumannya karena Aku semata. Ada dua kegembiraan bagi yang berpuasa, kegembiraan saat berbuka dan kegembiraan tatkala bertemu dengan Allah. Dan sungguh bau mulut orang yang berpuasa lebih harum di sisi Allah daripada aroma minyak kesturi.” (HR. Bukhari dan Muslim)

Di antara visi yang diembankan dalam kancah “arena” Ramadan yakni untuk menggapai sebuah  predikat  “taqwa”, maka berbagai persiapan pra-Ramadan baik di bulan Syakban dan Rajab khususnya  sepatut dijadikan sebagai bulan Training Center (TC) menuju Ramadan, maka bulan Ramadan laksana seperti tempat pembinaan yang memiliki fungsi strategis dan handal. 

Jika kita umpamakan lembaga pendidikan seperti IPDN (Institute Pemerintahan Dalam Negeri) diproyeksikan untuk mencetak SDM unggulan, melahirkan aparatur pemerintahan dan pejabat yang handal dan berkualitas serta amanah, juga memberikan kontribusi dan pengayom untuk bangsa dan negara, maka bulan Ramadan juga berfungsi seperti demikian.

Bahkan harus didedikasikan lebih dari itu, bulan Ramadan harus dijadikan sebagai sebuah Universitas untuk melahirkan lulusan terbaik sebagai “Sarjana Ramadan“ (S. Rd.) dengan predikat “clumlude” yang mampu memberikan nilai kebaikan dan lampu penerang bukan hanya untuk diri sendiri bahkan  orang lainnya. Juga bukan hanya menjadi “sarjana” di kala hari “wisuda” saja tetapi kontribusinya yang terbaik sepanjang masa hingga akhirat nantinya. Semoga….!!!!

*Helmi Abu Bakar el-Langkawi Staf pengajar Dayah Mudi Mesjid Raya Samalanga dan Jamaah Tarekat Naqsyabandiah Aceh