Di Balik Tradisi Sanggringan

Di Balik Tradisi Sanggringan

LADUNI. ID, Pancasila merupakan suatu ideologi yang selayaknya harus diterapkan dalam berkehidupan berbangsa dan bernegara. Namun tidak hanya itu, pancasila yang unsur-unsurnya sudah tercantum dalam pembukaan UUD 1945 yang mana  pancasila merupakan kebudayaan bangsa indonesia. Sudah jelas bahwa pancasila sebagai pandangan hidup bangsa indonesia serta sebagai pegangan hidup suatu bangsa.

Tidak hanya itu saja, pancasila juga merupakan jiwa dan juga kepribadian bangsa indonesia serta pancasila merupakan falsafah dasar negara Indonesia. Maka dari itu, hendaknya setiap elemen masyarakat harus menjaga keutuhan nilai-nilai pancasila agar tidak mudah digoyahkan oleh sekelompok orang mapun individu.

Pancasila juga merupakan suatu cerminan bangsa indonesia dengan sifat-sifat yang mutlak keindonesiaannya serta dapat mempersatukan semua agama, suku, dan aliran masyarakat karena pada dasarnya Indonesia ini merupakan negara yang besar dan memiliki berjuta kebudayaan. Jadi, tidak heran kalau nantinya di Indonesia sering terjadi gesekan yang bisa menimbulkan perpecahan.

Uraian tersebut sudah terbukti bahwasanya pancasila merupakan sejatinya kebudayaan yang melekat dalam diri bangsa Indonesia. Berbicara tentang kebudayaan, tentunya itu bukan merupakan hal yang asing bagi dan juga bukan suatu hal yang dianggap sakral sehingga bersifat tabu bagi bangsa Indonesia.

Berbicara menganai kebudayaan yang ada di Indonesia tentunya dengan jumlah penduduk mencapai 267 juta jiwa serta 1340 suku yang ada maka tidak heran Indonesia memiliki banyak kekayaan yang sepatutnya kita sebagai warga negara turut bangga dengan adanya kebudayaan yang masih melekat sangat kental di kalangan masyarakat.

Berbicara tentang kebudayaan yang ada di bangsa Indonesia, kita mengenal salah satunya adalah kebudayaan “sanggringan”. Kebudayaan tersebut merupakan kebudayaan yang sudah turun temurun sejak zaman Sunan Dalem yang merupakan putra dari Sunan Giri. Kebudayaan tersebut lahir di desa Gumeno Kecamatan Manyar Kabupaten Gresik Jawa Timur.

Kebudayaan tersebut hanya terjadi satu tahun sekali dan acara tersebut lebih tepatnya dilaksanakan pada malam 23 ramadhan. Pada tahun 2019 ini tradisi sanggringan tersebut sudah menginjak usia yang ke-494. Masyarakat sekitar sangat menjaga kelestarian itu dikarenakan warisan tersebut merupakan berkah tersendiri bagi warga Desa Gumeno.

Sejarah singkat tentang tradisi kolak ayam tersebut yakni bermula ketika putra Sunan Giri yang kedua yakni Sunan Dalem sedang membangun masjid jami’ yang berada di Desa Gumeno itu dengan tujuan tempat untuk mensyi’arkan agama islam ditempat tersebut. namun tiba-tiba Sunan Dalem tersebut jatuh sakit dan tidak ada satupun yang bisa mengobati beliau dari sakitnya itu.

Namun, ketika Sunan Dalem sedang beristirahat beliau bermimpi disuruh untuk membuat ramuan guna menyembuhkan penyakitnya. Selepas itu beliau langsung sholat istikharah guna memperjelas mimpi yang telah dialami beliau dan pada malam 23 ramadhan itulah Sunan Dalem mendapat petunjuk dari Allah agar segera membuat ramuan tersebut.

Seketika itu Sunan Dalem meminta para santrinya untuk menyiapkan ayam jago kampung untuk disembelih dan dimasak di masjid menjadi kolak ayam. Atas izin Allah, setelah menyantap kolak ayam Sunan Dalem sembuh dari penyakitnya. Sejak saat itu tradisi malam ke 23 Ramadhan dijadikan sebagai sedekah kolak ayam sebagai ungkapan syukur kepada Allah atas sembuhnya Sunan Dalem.

Nama sanggring yang biasa diucapkan oleh masyarakat setempat berasal dari bahasa jawa “sang raja seng gering” maksud dari kalimat itu adalah raja (Sunan Dalem) sedang sakit namun bagi masyarakat sekitar Desa Gumeno tradisi tersebut biasanya dinami dengan tradisi kolak ayam dikarenakan bahan yang dipakai untuk membuat kolak itu sendiri berasal dari ayam.

Sajian kolak ayam tersebut tidak hanya dinikmati oleh masyarakat Desa Gumeno saja melainkan masyarakat sekitar Desa Gumeno bahkan hingga pelancong luar pulau jawa, dikarenakan menurut kepercayaan setempat ketika orang yang sedang sakit kemudian makan kolak ayam tersebut niscaya akan diangkat penyakitnya. Maka dari itu tidak heran kalau Desa Gumeno pada setiap malam 23 Ramadhan sesuai ramai didatangi pelancong dari berbagai daerah.

Untuk pembuatan kolak ayam sendiri panitia setiap tahunnya membutuhkan 200 ekor ayam jantan, 1 kwintal bawang daun, empat kwintal gula merah serta 214 butir kelapa. Untuk proses pemasakannya sendiri dilakukan di dapur masjid dan dikerjakan oleh kaum laki-laki di desa tersebut tanpa melibatkan kaum perempuan sama sekali.

Acara tersebut sangat diminati oleh masyarakat lain sehingga tidak heran banyak warga dari luar kabupaten seperti Lamongan, Tuban, Bojonegoro, Surabaya yang sengaja datang jauh-jauh dari kabupaten asalnya guna mencicipi kenikmatan kolak ayam tersebut. Penikmat kolak ayam begitu menikmati rasa khas santan kolak ayam yang terasa main dan lebih nikmat jika ditambah dengan ketan.

Dari kebudayaan yang masih tertanam di masyarakat tersebut banyak hal yang posistif yang dapat kita ambil salah satunya dengan adanya tradisi tersebut masyarakat Desa Gumeno bisa berbagi takjil kepada mereka yang datang jauh-jauh dari luar kabupaten karena prinsip dari pancasila sila ke-2 tentang kemanusiaan yang adail dan beradap.

Selain itu hal positif lain yang dapat kita dapatkan dari tradisi tersebut yakni rasa persatuan yang semakin melekat antar warga karena dalam proses pembuatannya dibutuhkan kerjasama agar mampu menciptakan cita rasa terbaik.

Vandi Romadhoni
Mahasiswa Ekonomi Pembangunan
Universitas Airlangga