Biografi K.H Abdul Mujib Abbas

Biografi K.H Abdul Mujib Abbas

Kelahiran

Nama lengkap H. Abdul Mujib adalah Abdul Mujib bin Moh Abbas bin Moh Khozin. KH. Abdul Mujib Abbaslahir pada hari Jumat tanggal 1 Syawal 1352  H. Bertepatan dengan 10 Oktober 1932 M  di Buduran Sidoarjo. Ayahnya bernama Moh Abbas bin Moh Khozin bin Khoiruddin bin Ghozali bin R. Musthofa (Mbah Jarot). Sedangkan ibunya bernama Khodijah putri dari KH. Mas Ali bin KH. Wahab Tawangsari Sepanjang Sidoarjo.

Jika dilihat lebih lanjut Nyai Khodijah adalah saudara sepupu dari KH. Wahab Hasbullah (salah  satu pendiri  NU), sebab ibunya yang bernama Nyai  Lathifah  adalah  adik  dari KH. Mas Ali. KH. Abdul Mujib Abbas merupakan anak keenam dari delapan bersaudara, yakni Nyai Aisyah, Nyai  Nuroniyyah, Nyai Fatimah, KH. Abdul  Wahid, Nyai Hanifah, KH. Abdul Mujib, Nyai Nur Maslahah (meninggal umur 16 tahun)  dan Nyai Nur Azizah  (meninggal umur 4 tahun).

Di masa kecil KH. Abdul Mujib hidup seperti halnya anak-anak seusianya, yang memiliki waktu untuk bermain dan bersenda gurau. Ketulusan sang  ayah, KH. Moh Abbas dalam mendidik, membimbing sekaligus doa yang dipanjatkan pada waktu malam hari secara istiqomah turut membentuk kepribadian KH. Abdul Mujib hingga dapat melanjutkan tradisi kepemimpinan di Pondok Pesantren Al Khoziny. KH. Moh Abbas dikenal sebagai sosok pendidik yang demokratis, tidak mengembangkan pola-pola otoriter terhadap para anaknya.

Pendidikan yang diterapkan kepada anaknya lebih berorientasi pada sesuatu yang sangat mendasar terkait dengan prinsip-prinsip ajaran agama Islam. Oleh karenanya kesan bebas itu cukup  dirasakan, meskipun putra-putrinya juga dituntut harus taat pada prinsip-prinsip agama, misalnya dalam hal kewajiban sholat. KH. Abdul Mujib dibimbing secara intensif oleh kedua orang tuanya KH. Moh Abbas dan Nyai Khodijah, baik pengajaran Al quran dan pembelajaran kitab kuning seperti Sullam at Taufiq, Safinatun Najah dan beberapa kitab salaf lainnya.

Usaha yang dilakukan oleh KH. Moh Abbas dalam membimbing serta mendidik putranya terkait dengan pendidikan dasar dilakukan secara intensif  dan  istiqomah. Dari sini terlihat bahwa KH. Moh Abbas cukup respek terhadap pendidikan dan bimbingan kepada anak-anaknya terlebih lagi dalam pendidikan yang berkaitan dengan penguatan karakter. Persoalan dasar-dasar ajaran Islam merupakan pokok dalam sebuah kehidupan. Dasar-dasar  ajaran Islam diibaratkan sebagai pondasi sebuah bangunan. Jika pondasi dasar itu kuat diyakini bangunan itupun akan kokoh walau dihantam badai.

Dengan adanya pembekalan dasar-dasar agama sejak dini sekaligus keteladanan perilaku dan kesalehan yang dicontohkan oleh KH. Moh Abbas tersebut, maka mampu menghantarkan pembentukan karakter pada diri putra-putrinya khususnya pada diri KH. Abdul Mujib. Selain dalam hal pendidikan karakter dan membekali dengan pengetahuan keagamaan, KH. Moh Abbas juga mendidik anak-anaknya untuk cinta terhadap negara. Hal tersebut terlihat ketika KH. Abdul Mujib masih berusia 13 tahun ikut bersama kakaknya KH. Abdul Wahid berperang melawan penjajah dengan bergabung barisan Hizbullah.

Pada usia tersebut, KH. Abdul Mujib belum ikut mengangkat senjata, akan tetapi beliau hanya menjadi pelayan para tentara Hizbullah, di mana ketika para tentara Hizbullah usai perang KH. Abdul Mujib membantu membersihkan peralatan senjata dan kendaraan perang. Hingga umur 17 tahun KH. Abdul Mujib digembleng sendiri oleh ayahnya. Sebuah kerja serius yang dilakukan KH. Abbas dalam mendidik, mengawasi dan membimbing putranya tersebut sejak kecil hingga remaja diyakini turut mempengaruhi dalam proses pendidikan selanjutnya.

 

Mengembara Mencari Ilmu

Untuk mewujudkan ghirahnya kepada ilmu pengetahuan dan atas ijin ayahandanya, KH. Abdul Mujib Abbas pada tahun 1950 memulai pengembaraannya mencari ilmu ke beberapa pesantren di Jawa Timur dan Jawa Tengah, di antaranya:

1. Pondok Pesantren Darul Ulum Jombang
2. Pondok Pesantren Bata-bata Pamekasan
3. Pondok Pesantren MUS Sarang Rembang
 

Masa Kekeluargaan

Setelah sekian lama pengembaraanya dalam mencari ilmu dari berbagai pesantren, KH. Abdul Mujib menginjak pada fase selanjutnya dalam kehidupan, yakni fase pernikahan. Dengan kealiman, kepandaian serta kebaikan budi pekertinya, tidak heran bila banyak orang yang terpikat pada sosok KH. Abdul Mujib untuk dijadikan menantu. Salah satunya adalah tawaran dari saudagar kaya raya dari daerah Gondang Legi Malang.

Sekilas tawaran ini menggiurkan apalagi bagi sosok KH. Abdul Mujib yang sejatinya bukan turunan kiai yang kaya raya sekalipun juga tidak terlalu miskin. Akan tetapi tawaran tersebut tidak diterima oleh KH. Moh Abbas selaku ayahnya. Karena KH. Moh Abbas tidak tergiur menikahkan putranya dengan putri saudagar kaya raya.  Pada akhirnya pilihan KH. Abdul Mujib jatuh pada sosok seorang putri dari Pasuruan yang bernama Nyai Mudawwamah yang dikenal sebagai hafidhah (penghafal al quran). Dari pernikahan tersebut KH. Abdul Mujib dan Nyai Mudawwawamah dikaruniai dua belas putra-putri, di antaranya:

1. Abdul Salam
2. Abdul Mu’id
3. Nur Khodijah
4. Maimunah
5. Abdul Mughni
6. Nur Hinda
7. Farihah
8. Muhammad Ubaidillah
9. Abdul Jalil
10. Muhammad Ali
11. Hj Naila
12. Hj. Atiqoh

Akhir Hayatnya

Semua perjalanan hidup seseorang pasti akan mengalami sebuah fase yang disebut dengan kematian. Kenyataan ini sebenarnya telah ditegaskan dalam Al quran bahwa kehidupan dan kematian adalah keniscayaan bagi semua makhluk hidup. Hanya saja kematian seseorang terjadi karena beberapa sebab, salah satunya adalah karena sebuah penyakit.

Akan tetapi kesemuanya tidak bisa dilepaskan dari kehendak dan kepastian Allah. Sebelum meninggal, KH Abdul Mujib telah mengidap penyakit diabetes meskipun tidak semua orang mengetahui kondisinya tersebut. KH Abdul Mujib tidak pernah mengeluhkan penyakitnya tersebut baik dihadapan keluarga maupun santrinya.

Beliau menjalani aktifitas yang begitu padat di pondok pesantren dengan tegar tanpa memperlihatkan rasa sakitnya. Seiring dengan perjalanan waktu penyakit diabetes semakin menggerogoti tubuh KH. Abdul Mujib hingga akhirnya beliau dirujuk ke rumah sakit dengan penanganan yang cukup serius di Rumah Sakit Graha Amerta Surabaya.

Semangatnya dalam memperjuangkan dan mengabdikan diri bagi perkembangan Pondok Pesantren Al Khoziny tidak pernah kendur, hal tersebut dilakukan sebagai tanggung jawabnya melahirkan santri-santri yang kelak bermanfaat dikemudian hari. Totalitas inilah yang kemudian membekas bagi para santri di akhir-akhir kepemimpinan KH Abdul Mujib di Pondok Pesantren Al Khoziny. Tepat pada hari selasa 5 oktober 2010 bertepatan dengan 26 Syawal 1431 H, KH Abdul Mujib pulang ke rahmatullah dalam usia 77 tahun di rumah sakit Graha Amerta Surabaya.

Karya-karya

Ketika masih belajar di pondok, KH Abdul Mujib tidak hanya aktif dalam mengikuti dan mendengarkan pelajaran dari sang guru. Akan tetapi beliau juga mulai aktif menulis. Keinginan KH Abdul Mujib untuk menulis itu muncul ketika beliau sedang belajar di pondok pesantren MUS Sarang. Sebelum nyantri di Pondok Pesantren Sarang, beliau sudah menguasai beberapa kitab. Nyantrinya di pondok pesantren MUS Sarang tersebut semata-mata memantapkan keilmuannya serta ngalap (mengharap) berkah kepada KH. Zubair. Di antara karya-karya KH Abdul Mujib adalah sebagai berikut:

1. Sharah Qowaid al Fiqhiyah Qowaid al Fiqhiyah

adalah sebuah kitab yang berbentuk nadhoman (syair) yang berisi tentang kaidah-kaidah dasar ilmu fiqih. KH. Abdul Mujib mensharahkan (meringkas) kitab qowaid al fiqhiyah dengan bahasa yang lebih mudah dipahami. Dalam kitab tersebut, KH. Abdul Mujib menjelaskan mengenai kaidah-kaidah fikih, seperti tentang niat dalam beribadah, keyakinan dan lain-lain. Kitab ini disusun sekitar tahun 1955 saat KH. Abdul Mujib sedang belajar di pondok pesantren MUS Sarang. Kitab ini ditulis dengan menggunakan bahasa Arab, yang terdiri dari 128 halaman yang mana di dalamnya terdapat 40 kaidah-kaidah fikih. Pada kitab Sharah Qowaid Al Fiqhiyah ini telah mengalami penyempurnaan yang dilakukan oleh KH Abdus Salam selaku putra pertama dari KH Abdul Mujib pada tahun 2010. Sampai saat ini kitab Sharah Qowaid Al Fiqhiyah masih ada dan menjadi bacaan wajib bagi santri di pondok pesantren Al Khoziny, khususnya bagi santri kelas tiga Madrasah Tsanawiyah.

2. Taqrir Al fiyah Ibn Malik Kitab Al fiyah Ibnu Malik

adalah kitab karangan dari Shekh Muhammad bin Abdullah bin Malik Al Andalusy yang bersisi tentang ilmu gramatikal arab atau yang sering disebut dengan ilmu Nahwu Shorof. Di kalangan pondok pesantren di Indonesia, kitab ini merupakan kitab yang sudah tidak asing lagi bahkan hampir seluruh pesantren menyertakan kitab Alfiyah Ibn Malik sebagai salah satu bacaan wajib dan menjadi tolak ukur sejauh mana kepandaian seorang santri dalam ilmu gramatikal arab. Kitab Al fiyah Ibn Malik adalah salah satu kitab favorit dari KH Abdul Mujib. Ketika beliau sedang belajar di pondok pesantren Batabata Pamekasan beliau sudah hafal nadhoman al fiyah yang terdiri dari 1000 bait. Karena hal tersebutlah KH. Abdul Mujib ketika nyantri di Pondok Pesantren MUS Sarang mulai menaqrirkan kitab tersebut ke dalam penjelasan yang lebih ringkas yakni dengan hanya memaparkan atau menjelaskan kalimat-kalimat yang dianggap perlu dipaparkan secara naratif. Pada taqriran kitab al fiyah ibn Malik ini, KH. Abdul Mujib membaginya menjadi dua jilid.

3. Hizb Badr

Selain itu beliau juga menulis sebuah kitab yang berisi syair-syair arab, kitab tersebut bernama Hizb Badr. .Hizb Badr ini adalah kumpulan syair-syair Arab yang di dalamnya terkandung kalimat yang memuji dan mengesakan Allah. Kitab ini ditulis oleh KH. Abdul Mujib sebagai salah satu usaha ruhaniyah untuk mencapai hajat dengan cara mendekatkan diri kepada Allah melalui pembacaan zikir dan sholawat.

Dinukil dari KH. Abdul Mujib, bahwasannya Hizb Badr ini memiliki khasiat apabila dibaca secara istiqomah. Adapun khasiat dari Hizb Badr ini antara lain: cita-citanya akan tercapai, terjaga dari para musuh, doanya segera terkabul, cepat memperoleh kemenangan dan akan diampuni dosa-dosanya. Melihat banyaknya khasiat yang diperoleh setelah mengamalkan Hizb Badr ini, maka sampai saat ini amalan zikir Hizb Badr masih tetap menjadi amalan andalan Pondok Pesantren Al Khoziny, khususnya bagi para santrinya.

Itulah beberapa karya yang dihasilkan dari pemikiran KH. Abdul Mujib yang hingga saat ini masih digunakan di kalangan pondok pesantren khususnya di Pondok Pesantren Al Khoziny.

Lima tarekat Al-Khoziny

Sejenak kita terkesima dengan metode thariqah Al-Khoziny yang konon warisan dari sesepuh pesantren. Tentang riyadhoh santri yang kemudian menjadi simbol dan mengakar di Al-Khoziny untuk diorientasikan dalam seluruh keseharian mereka. Namun, dalam buku Biografi Kiai Abdul Mujib Abbas, Teladan Pecinta Ilmu yang Konsisten, Pustaka Idea Juni 2012, dikatakan bahwa, Lima Tarekat itu tidak bisa dilepaskan dari sosok K.H Abdul Mujib Abbas, karena dari sosok beliaulah lima tarikat ini bisa dilihat, ibarat K.H Abdul Mujib Abbas adalah cermin dari lima tarekat ini, di samping beliau sering menyampaikan dalam berbagai forum atau para santri dan alumni betapa pentingnya praktik langsung dari Lima Tarekat ini. yaitu :

Pertama: Belajar atau Mengajar, dalam hal ini beliau sering berkomentar:
كن عالما او متعلما او مستمعا او محبا ولا تكن خامسا غادرا فتهلك
“Jadilah kamu seorang yang alim, orang yang belajar, orang yang mendengar, orang yang cinta kepada hal tersebut. Janganlah kamu menjadi orang yang ke lima, yang selalu melanggar, maka –dengan itu- kamu akan rusak.”

Kedua: Salat berjamaah

Kiai Mujib dikenal sangat istiqamah dalam berjamaah di langgar pesantren bersama santri. Bahkan waktu sakit pun beliau tidak meninggalkan salat berjamaah. Di Al-Khoziny juga menjadi kewajiban bagi seluruh santri untuk ikut berjamaah. Saking pentingnya jamaah, menurut cerita yang berkembang di Al-Khoziny, pada masa Kiai Abbas para santri yang melanggar tidak berjamaah akan mendapatkan sangsi batin, yakni sulit menerima ilmu yang disampaikan oleh Kiai Abbas, walaupun santri yang melanggar itu mengikuti pengajian di dekat Kiai Abbas.

Ketiga: Membaca al-Qur’an.

Kiai Abdul Mujib selalu mengawal santrinya setiap salat subuh untuk mengaji al-Qur’an kepada beliau dengan pembekalan ilmu tajwid . Ini menjadi magnet santri Al-Khoziny untuk mengisi hari-harinya dengan al-Qur’an.

Keempat: Shalat Witir

Kelima adalah: Istiqhamah.

Amaliah sunah Nabi dan keistiqamahan Kiai Mujib sudah menjadi pemandangan keseharian di pesantren. Sakit berat tidak mengahalangi ketekunan beliau dalam mengajar dan mengaji.

Pesantren sebagai medan jihad

Pesantren adalah medan jihad yang dipilih K.H Abdul Mujib Abbas, bukan mengangkat senjata tapi dengan mencurahkan tenaga dan pikiran sebagai wujud pelestarian agama Allah dengan mendidik para santri dengan literatur salaf. Hingga lahirlah generasi-generasi Al Khoziny yang ikhlas, berakhlakul karimah disertai bekal ilmu agama secara utuh dalam mengawal Islam. Paling tidak, lulusan pesantren dapat memberikan kemanfaatan dan pengajaran yang benar tentang esensi Islam.

“Salah satu keberhasilah K.H Abdul Mujib Abbas memimpin Al-Khoziny adalah menjaga nilai tradisional. Kiai Mujib selalu ajek merawat tradisi pesantren sejak awal hingga akhir kepemimpinannya. Ia terlibat langsung dalam pengajian kitab kuning dan selalu mendorong agar pengajian-pengajian serupa dilaksanakan dalam berbagai forum, baik santri senior ataupun putra-putrinya.” Komentar KH. Maimoen Zubair Pengasuh Pesantren Al Anwar Sarang Rembang Jateng. Di buku Biografi Kiai Abdul Mujib Abbas, Pustaka Idea Juni 2012

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

.