Al-Mukarram Abu Wahab Seulimeum Pendiri Dayah Ruhul Fata #2

Al-Mukarram Abu Wahab Seulimeum Pendiri Dayah Ruhul Fata #2

LADUNI.ID, ASWAJA - Para santri  yang belajar di Dayah Ruhul Fata Seulimeum tidak hanya berasal dari kecamatan Seulimeum tetapi juga berasal dari luar kecamatan bahkan kabupaten, sehingga dayah ini sudah dikenal di seluruh Aceh.

Seiring dengan perkembangannya, dayah Ruhul Fata mendapatkan beragam hambatan baik gejolak politik dan gangguan keamanan dalam negeri, seperti pemberontakan DI/TII di Aceh pada tahun 1953.

PKI pada tahun 1965 dan konflik di Aceh, yang berdampak terhadap terganggunya proses pengajian, berkat ma’unah Allah dan kegigihan serta sifat istiqamah beliau dalam berjuang mempertahankan kebenaran serta menyebarkan ilmu agama.

Baca juga: Dayah Ruhul Fata Seulimum: Sang Mercusuar Ilmu di Negeri Seulawah #1

Almukarram Abu Wahab dengan keberaniannya dalam melawan segala bentuk kedhaliman, khurafat dan bid’ah dhalalah (sesat), Alhamdulillah dayah Ruhul Fata tetap menjalankan kegiatan pengajian, bahkan telah berkembang menjadi salah satu dayah terbesar di Aceh yang memiliki peranan penting terhadap kemaslahatan ummat

Pendidikan Abu Wahab dan Wafatnya

Almukarram Abu Wahab Seulimum belajar dalam waktu yang lama di Kota Santri Samalanga tepatnya dayah MUDI Samalanga,  saat itu dayah dipimpin Syekh H. Hanafiah Abbas yang sering disapa Teungku Abi.

Sang guru Abu Wahab dalam kesehariannnya sibuk dengan dunia "beut seumeubeut". Tidak sedikit para ulama yang telah alim kembali belajar kepada Teungku Abi. Wajar estafet kepemimpinan dayah MUDI diserahkan kepada Teungku Chiek Di Samalanga tersebut.

Fenomena ini tidak salah apabila Abu Wahab Seulimum memilih dayah MUDI untuk berguru dan menuntut ilmu termasuk mengambil berbagai tarekat dari sosok Sultanul Aulia Teungku Abi. Keberadaan Abu Wahab Seulimuem merupakan  murid langsung (Ashabil Wujuh)  Tgk. Abi yang sangat mengidolakan gurunya.

Tidak mengherankan apabila semua waktu Abu Seulimuem dihabiskan bersama Sultanuk Aulia itu. Hampir setiap pengajian beliau menyebut nama gurunya Tgk. Abi Hanafiah. Banyak kenang-kenangan yang beliau peroleh pada masa menuntut ilmu di dayah MUDI dan belajar pada Tgk. Abi.

Salah satu cerita yang diriwatkan menyebutkan bahwa Ketika Abu Wahab Selimum marah, anak-anaknya terkadang mengingatkan Abu, “Abu, Teungku Abi han tom bungeh-bungeh” (Abu, Teungku Abi tidak pernah marah). Dengan seketika Abu Wahab terhentak saat mendengar disebut nama gurunya Teungku Abi.

Itulah buah rabitah dan hubungan bathin dengan sosok Tgk Abi. Begitulah kecintaan abu Wahab yang begitu mendalam kepada sosok gurunya Tgk. Abi. Salah satu wasiat Teungku Abi kepada Abu Seulimum, “Gata ta woe u gampong seumeubeuet mantoeng, bek jak mita kaya” (Kamu ketika pulang kampung fokuskan diri untuk mengajar, jangan sibuk mencari kekayaan).

Pada suatu ketika saat Abu Wahab sudah memiliki dua orang anak, beliau pergi membersihkan kebun, tiba-tiba tangan nya terkena parang (golok). Saat itu beliau langsung terbayang wajah Teungku Abi dan nasehat beliau agar jangan mencari kaya. Maka mulai saat itu, Abu Wahab sama sekali tidak lagi berfikir soal mencari rezeki, beliau fokus untuk seumeubeueet (mengajar) seperti diwasiatkan oleh Teungku Abi.

Juga diceritakan bahwa disamping belajar ilmu agama, Abu Seulimum juga sempat belajar ilmu bela diri pada Teungku Abi. Teungku Abi dikenal jago bela diri (Silet) dan beliau memiliki thariqat yang diambil dari gurunya dari desa Meuko, Ulee Gle. Selain kepada Abu Wahab Seulimum, ilmu bela diri ini juga diajarkan kepada Tgk. Muhammad Jamil.

Abu Wahab Seulimum setelah sekian belajar di Samalanga kemudian mendirikan dayah di Seulimum. Setelah mendirikan dayah Dayah Ruhul Fata didirikan oleh Almukarram Syaikhuna Tgk. H. Abdul Wahhab bin ‘Abbas bin Sayed Al-Hadhrami (Abu Seulimeum) pada tahun 1946 dan mengelolanya bahkan putranya Tgk. H. Mukhtar Luthfi (Abon Seulimum) yang juga belajar di MUDI Samalanga beserta adik lainnya juga ikut membantu mengajar di dayah yang didirikan oleh Ayahandanya.

Namun waktu terus berlalu, akhirnya Tgk. H. Abdul Wahhab berpulang kerahmatullah pada tahun 1996, kepemimpinan dayah dilanjutkan oleh putra beliau yaitu Almukarram Syaikhuna Tgk. H. Mukhtar Luthfi bin Tgk. H. Abdul Wahhab bin ‘Abbas bin Sayed Al-Hadhrami (Abon Seulimeum).

***Helmi Abu Bakar Ellangkawi, Penggiat Literasi asal MUDI Samalanga, dikutip dari beberapa sumber.